Home / Catatan / Catatan Hukum / Candaan Jenggot Kiyai Aqil akan Digugat

Candaan Jenggot Kiyai Aqil akan Digugat

Kiyai Said Aqil Siradz (Foto : Tempo)
Kiyai Said Aqil Siradz (Foto : Tempo)

thayyiba.com :: Sebuah audio berisikan ceramah agama yang diunggah di Youtube pada Jum’at (11/9/2015) menuai kecaman. Pasalnya, ceramah yang diduga suara Kiyai Said Aqil Siradj itu menyebutkan bahwa jenggot mengurangi kecerdasan. Makin panjang ke bawah jenggot seseorang makin merosot pula kecerdasannya. Semakin panjang jenggot seseorang, semakin goblok orang itu. Demikian isi audio tersebut.

Mendengar isi audio ini, kita akan berkesimpulan bahwa seseorang yang suaranya mirip Kiyai Said Aqil Siradz tersebut adalah sebuah candaan. Begitu pula yang disumpulkan oleh cendiawan Bachtiar Nasir. Menurutnya, suara Kiyai Said Aqil Siradj tentang orang yang jenggotnya semakin panjang semakin bodoh karena syarafnya tertarik oleh jenggot hanya candaan di internal saja. Sayangnya candaan itu masuk ke ranah sosial media (sosmed) membuat bahasa kamar menjadi keluar ke ruang publik.

Sama dengan Bachtiar Nasir, pentolan Islam Liberal, Ulil Abshar Abdallah juga menilai pernyataan Kiyai Aqil ini hanyalah humor yang tentu ada konteksnya. Seperti yang ditulis Ulill di situs IslamiLib.com, “Saya sudah berkali-kali mendengar Kang Said melontarkan guyonan ini dalam beberapa kesempatan. Bahkan dalam percakapan personal. Setiap mendengar itu, saya selalu tertawa. Biasanya, Kang Said melontarkan guyonan ini untuk menyindir orang-orang Salafi/Wahabi yang gemar mempermasalahkan jenggot. Bagi orang-orang Wahabi, memanjangkan jenggot hukumnya wajib, sebab itu perintah Nabi.”

Pada bagian lain Ulil menulis, “Kiai Said Aqil Siradj, Ketum PBNU yang baru terpilih kembali di Muktamar NU di Jombang itu, adalah penceramah yang hebat. Pidatonya berisi pencerahan untuk umat, dan kaya humor. Setiap mendengarkan pidato Kang Said (demikian dia kerap dipanggil), saya pasti tertawa terpingkal-pingkal. Tetapi ini bukan hanya gaya khas Kang Said. Semua kiai NU, kalau menyampaikan ceramah, penuh humor dan kelucuan.”

Ceramah yang diduga dilakukan oleh Kiyai Aqil itu akhirnya beredar luas di medsos, seperti facebook dan twitter, begitu juga di situs-situs berita. Pembicaraan menjadi ramai bahkan panas. Terjadi adu argumen yang cukup menegangkan. Semunya tentang jenggot dan kritikan tajam terhadap Kiyai Aqil.

Harus kita akui, bahwa jenggot bukan sekedar penampakan fisik. Bagi sebagian orang, memanjangkan jenggot itu karena mentaati perintah Nabi, “A’fu al-liha wa qassu al-sharib” (Panjangkanlah jenggot, dan cukurlah kumis).

Terlepas dari cara pandang seseorang dalam menyikapi perintah Nabi tersebut, memanjangkan jenggot adalah pilihan yang bukan saja dilakoni oleh pria Muslim. Mereka yang bukan muslim-pun merasa gagah dengan jenggotnya yang panjang. Sedangkan mereka itu tentu tidak bodoh seperti yang diungkapkan dalam candaan Kiyai Aqil itu.

Bagi sebagian orang yang memahami konteks ceramah Kiyai Aqil itu bisa jadi pernytaan Kiyai Aqil itu dianggap candaan yang menghibur. Akan tetapi bagi sebagai orang, jelas pernytaan Kiyai Aqil ini merupakan hinaan.

Adalah Najib Gysmar, seorang pengacara dan tentu saja berjenggot, merasa terusik dengan “hinaan” Kiyai Aqil ini. Oleh karena itu, dia akan membuktikan bahwa orang berjenggot tidak bodoh melainkan orang cerdas. Bukan hanya itu, Najib Gysmar juga berencana membawa “hinaan” Kiyai Aqil ini ke ruang pengadilan. Lewat sebuah undangan yang disebarkan melalui facebook, Najib Gysmar mengajar semua yang berjenggot bersatu dengannya untuk menggugat Kiyai Aqil.

“Undangan terbuka bagi umat islam Indonesia, khususnya dengan kriteria berjenggot (Alhamdulillah apabila berjenggot lebat), hafal Quran 30 juz, hafal hadits shohih, berlatar belakang akademik S-2/S-3, harap menghubungi kami di 081392401060 atau email najib_agisymar@yahoo.co.id, guna menempuh jalur hukum terhadap Said Aqil Siraj terhadap ceramahnya yang telah menghina orang Islam berjenggot dan menimbulkan rasa permusuhan, kebencian diantara sesama umat islam.” Demikian bunyi undangan tersebut yang diterima redaksi thayyiba.com lewat sahabat Najib Gysmar. (redaksi/thayyiba.com)

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur