Home / Sastra / Essai / Pak Raden dan Anak Miskin Papela

Pak Raden dan Anak Miskin Papela

Pak Raden dan Unyil,  Boneka Ciptaanya. (Foto : analisadaily.com)
Pak Raden dan Unyil, Boneka Ciptaanya. (Foto : analisadaily.com)

thayyiba.com :: Beberapa jam setelah tersiar berita Pak Raden (Drs. Suyadi) meninggal, saudara dan teman dari kampung di Desa Pepela, Rote Ndao maupun dari Kupang menghubungi saya, lewat telpon atau sosial media. Saudara dan teman saya itu semuanya berusia 40 tahun atau lebih. Mungkin karena mereka menganggap saya lebih tahu tentang Pak Raden, jadi mereka ingin tahu banyak hal tentang beliau.

Sebenarnya, banyak orang ternama di Jakarta, yang ketika mereka meninggal, kami yang berada di Inonesia paling Selatan ini juga sibuk membicarakannya. Hanya saja, ketika Pak Raden meniggal ini, komunikasi dan “diskusi” kami makin meluas dan sampai “melibatkan” saya yang di Jakarta. Itu karena media disukisi kami sudah memakai tekhnologi komukasi modern.

Sebenarnya kami tidak membicarakan siapa Pak Raden sesungguhnya, apa karyanya dan bagaimana dia hidup dan mati. Kami lebih membicarakan ketika kami “berjuang” untuk bisa menyaksikan Pak Raden di TVRI dahulu, ketika kami masih sebagai anak-anak SD.

Tahun 80-an ketika, ketika boneka Si Unyil mulai disiarkan TVRI, di desa kami Papela di Pulau Rote, NTT, pesawat televisi (hitam putih) baru dimiliki oleh beberapa rumah yang jumlahnya tak lebih dari jemari sebekah tangan. Baru jelang akhir 80-an baru televisi berwarna mulai masuk kampung kami, itupun hanya dua atau tiga rumah. Beberapa pemilik tv juga punya mesin diesel pembangkit listrik di rumahnya. Sedangkan lainnya masih menggunakan aki untuk menghidupkan pesawat televisinya.

Mereka, para pemilik pesawat televisi ini adalah orang-orang kaya, setidaknya untuk ukuran kami di Papela. Mereka memiliki toko juga bisa meminjamkan uang atau memberi hutangan barang kepada orang kampung yang miskin.

Para orang kaya ini mempekerjakan banyak orang di rumahnya untuk beragam pekerjaan, mulai dari membersihkan rumah, mencuci, memasak, mengangkat dan menyusun barang dagangan serta memikul air di sungai untuk mandi majikannya yang kaya ini. Maklum, di kampung kami sumber air bersih hanyalah sungai kecil berjarak satu kilometer.

Dalam tahun 80-an, banyak orang di kampung kami yang makan nasi jagung. Beras masih mahal bagi kami sehingga tak semua orang bisa membelinya. Apalagi di Pulau Rote produksi berasa sangat sedikit. Jagung kami giling hingga halus pada batu penggilingan yang unik dan dimasak layaknya nasi. Nah, anak-anak orang kaya ini sering “menghina” kami anak orang miskin sebagai “orang makan jagung”, sedangkan mereka adalah “orang makan beras”. Makan Jagung dan Makan Beras adalah sebutan yang membedakan antara orang kaya dan orang miskin.

Setiap Ahad pagi, kami anak-anak mulai berkumpul di tengah kampung sambil memasang telinga menunggu mesin diesel listrik berbunyi. Jika terdengar dari rumah salah satu pemiliki tv, ke sanalah kami berlari karena bisa dipastikan tv di rumah itu akan dinyalakan.

Sangat beruntung bagi kami, jika sampai di rumah pemilik tv itu, kami dibolehkan masuk. Sebelum tv dihidupkan, pemilik rumah atau anak pemilik rumah menyampaikan “tata tertib” menonton tv, seperti tak boleh bersuara, jangan kentut, jangan kotori rumah dan sebagainya. Kami anak-anak mendengarnya seperti jamaah menyimak khutbah di masjid. Tak jarang diantara kami anak-anak ada yang dikeluarkan karena kakinya kotor atau anak itu tak disukai oleh anak pemikik tv. Tentu ini sebuah mimpi buruk bagi kami.

Akan tetapi, sial bagi kami, setelah capek kami belari, namun rumah yang kami tuju untuk menonton tv itu sudah ditutup pintunya. Kami terpaksa melihat dari jendela rumah, yang biasanya dari kaca nako. Tak jarang kain jendelanya ditutup pula, sehingga kami hanya mendengar suara Unyil, Usro, Ucrit, Cuplis, Melani, Pak Lurah, Pak Ogah, Pak Ableh dan Pak Raden dari balik pintu. Sedih rasanya hati kami. Sakit rasanya hati kami.

Tahun berganti tahun. Roda kehidupan berputar begitu cepat. Hari ini, di Papela, memang masih ada orang miskin, tapi taka da lagi yang makan nasi jagug. Hari ini Papela, memang tak semua rumah ada televisinya tapi kotak ajaib itu bukan lagi menjadi barang mahal dan mewah. Bahkan, hampir semua rumah telah bertengger parabola sebagai pengganti antena tv. Karena tanpa parabola, kami di Pulau Rote hanya bisa menangkap siaran TVRI, dan ini jelas bukanlah kemajuan.

Hari ini di Papela, para orang kaya yang dulu “menghina” kami anak-anak orang miskin tak tampak lagi. Asset mereka sudah berpindah tangan. Bahkan ada yang sudah berpulang dalam keadaan yang hampir sama seperi Pak Raden, yakni dalam kesederhanaan. Anak-anak mereka juga hidup dalam keterbatasan. Harta dan kekayaan yang dimiliki saat itu tak bisa menghantarkan anak-anak mereka menggapai masa depan (hari ini) yang lebih baik.

Hari ini Pak Raden telah berpulang. Dunia seni Indonesia tentu saja kehilangan. Pak Raden sendiri sudah memberikan banyak hal akan untuk Indonesia, termasuk kami anak-anak (waktu itu) di Papela, Pulau Rote. Pak Raden dan Si Unyil telah menghibur dan mendidik kami.

Lewat film boneka Si Unyil, kami yang berada di ujung Indonesia itu mengerti bahwa di Jawa sebagai pusat kebudayaan Indonesia tempat Si Unyil hidup, memiliki warna kehidupan yang sama dengan kami. Bahwa dalam hidup bersama ada orang yang bijaksana, ada yang sombong, ada yang gila hormat, ada yang pemalas dan pemimpi dan sebagainya. Film Si Unyil juga memiliki sebuah pelajaran yang sangat berharga, yakni saling menghargai dan toleransi.

Terima kasih Pak Raden. Semoga Allah menerima semua amal Pak Raden dan mengampuni dosanya.

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Kec. Rote Timur, Kab. Rote Ndao. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan Bahagia, Bekasi. Pernah di redaksi Majalah Warnasari (Pos Kota Group) dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat