Home / Kabar / Opini / RESENSI VIDEO CERAMAH YUSUF MANSUR (Bag. 6)

RESENSI VIDEO CERAMAH YUSUF MANSUR (Bag. 6)

Sebuah Buku Karangan Tabrani Sabiri, Lc, MA Tentang "Penipuan Yusuf Mansur"
Sebuah Buku Karangan Tabrani Sabiri, Lc, MA Tentang “Penipuan Yusuf Mansur”

Jurus Todong Dan Doa Negatif

 

thayyiba.com :: Yusuf Mansur pernah berceramah di Kampung Kadu Panda, Cianjur Selatan. Kehadirannya di kampung ini atas undangan Haji Jawahir untuk mengisi acara walimatul ursy pernikahan anaknya. Ceramah Yusuf Mansur kali ini direkam dan kemudian diunduh ke Youtube dengan diberi judul ‘Daqu Tv Ustad Yusuf Mansur Allah Maha Kuasa Amal Pembuka Rizki’.

Ceramah Yusuf Mansur kali dimuilainya dengan membaca tiga ayat terkakhir dari Surat Al Hashar. Menurut Yusuf Mansur, ada hadis Nabi yang mengatakan bahwa, siapa saja yang mebaca ayat ini setelah subuh dan asar, maka Allah akan mengutus 70 ribu malaikat untuk mengawalnya.

Karena dikawal oleh 70 ribu malaikat, maka hidup orang tersebut akan aman dan damai. Juga rezekinya akan lancar serta semua keinginannya akan terkabul.

Selain ayat terakhir surat Al Hashar itu, Yusuf Mansur juga mengajarkan agar orang membacanya bersamaan dengan enam ayat pertama dari Surat Al Hadid. Dibaca setiap habis subuh dan habis asar juga. Jika ayat-ayat ini dibaca secara terus menerus, apalagi pada subuh dan asar di hari Jumat, maka semua keinginan dan doa seseorang pasti akan terkabul. Yusuf Mansur menekankan pada kata ‘pasti terkabul’ seperti memberikan jaminan.

Sebagai bukti dari jaminannya ini, Yusuf Mansur kemudian bercerita, yang menurutnya ini sebagai kisah nyata. Kisah ini didapatnya pada musim haji di Juli 2008 ketika berada di executive lounge King Abdul Azis Airpor.

Bahwa ada seorang miskin yang mendengar kelebihan ayat-ayat di atas dari guru di majelis taklim. Orang ini kemudian setiap subuh di hari Jumat mengajak tiga anaknya berjamaah subuh di masjid. Sedangkan istrinya diminta untuk membuat makanan sarapan untuk 20 anak yatim dan miskin untuk teman-teman anaknya mereka.

Selepas berjamaah subuh di masjid, si bapak ini bersama istri dan tiga anaknya serta 20 anak yatim dan miskin itu sama-sama membaca ayat-ayat di atas dan diakhiri dengan berdoa agar Allah memberangkatkan haji dia, istri dan ketiga anaknya serta 20 anak yatim dan miskin itu. Kegiatan ini ditutup dengan sarapan bersama sebagai sedekah dari dia dan istrinya.

Sampai pada Jumat ke 28 atau tujuh bulan kemudian keajabain itu terjadi. Bapak salah satu dari 20 anak itu punya teman yang kaya raya. Orang kaya raya ini punya uang satu milyar dan sedang kesulitan mencari orang yang ingin diberangkatkan haji. Setelah mendapat informasi tentang kegiatan subuh Jumat ini, kesanalah orang kaya ini menyusup dan ingin membuktikan sendiri. Akhirnya, si bapak, istu dan tiga anaknya serta 20 anak yatim dan miskin ini berangkatkan haji oleh si orang kaya ini.

Meski diakui sebagai kisah nyata, namun bagi penulis ini tetap kisah fiktif. Alasannya, musim haji 2008 bukan pada bulan Juli 2008 seperti yang dikatakan Yusuf Mansur itu melainkan pada bulan Desember 2008 hingga Januari 2009. Sedangkan tokoh yang ada dalam cerita ini lebih yakin lagi sebagai tokoh imajinatif Yusuf Mansur sama seperti tokoh-tokoh dalam kisah-kisah fiktif lainnya yang selalau dituturkan dalam setiap ceramahnya.

Sebagai catatan, semua cerita fiktif Yusuf Mansur, selalu berkisah tentang orang miskin yang menginginkan sesuatu atau seseorang yang punya obsesi tertentu, kemdian dia bersedekah, bersholawat, tahajud, dhuha atau membaca Qur’an, selalu dan pasti datang orang kaya raya yang memberi solusi. Tidak pernah solusi itu datang dari sebuah kerja keras atau prestasi kerja. Itu pila sebabnya, Yusuf Mansur dalam sejarah keterkenalannya lebih pada upaya dia mendekatkan para orang kaya, para pemilik modal atau perusahaan-perusahaan besar. Dengan demikian, konpensasi dari jasa yang dia berikan juga lebih besar.

Yusuf Mansur juga mengatakan, bahwa karena kebiasaan membaca ayat-ayat dalam kedua surat ini, maka banyak santrinya yang menadapat beasiswa belajar ke Universitas Islam Madinah dari pemerintah Arab Saudi. Yusuf Mansur barangkali tidak tahu, atau sengaja sembunyikan informasi, bahwa memang pemerintah Arab Saudi memberikan beasiswa kepada ratusan santri dan mahasiswa seluruh Indonesia untuk belajar di Arab Saudi setiap tahunnya.

Sama seperti kebiasaan dalam ceramah-ceramahnya, pada kesempatan ini juga Yusuf Mansur tetap mainkan jurus todong. Kali ini yang ditodong adalah pengantinnya sendiri. Di video ini terlihat Yusuf Mansur dengan tidak canggung meminta agar penganten mensedekahkan mahar kawin keduanya untuk dibawanya pulang ke Jakarta. Dalam rangkaian ini, Yusuf Mansur menyuruh jamaah agar menjual mas kawain mereka. Buat apa menyimpan mas kawin kalau hidup miskin, lebih baik menjualnya kemudian disedekahkan supaya Allah menggantinya dengan kehidupan yang lebih baik. Begitu saran Yusuf Mansur.

Ada momentum yang cukup menarik perhatian dalam ceramah Yusuf Mansur kali ini, yakni dia berdoa agar Allah menimpakan hal yang jelek kepada jamaah yang hadir. Sebelumnya Yusuf Mansur meminta agar jangan ada jamaah yang meninggalkan acara sebelum selesai doa penutup. Namun sebelumm acara berakhir, ada jamaah yang berdiri ingin meninggalkan acara. Yusuf Mansur kemudian menegur jamaah tersebut dengan cara yang dirasakan tidak nyaman oleh jamaah itu.

Sesaat kemudian dia mengangkat tangan dan berdoa, “Ya Allah siapa saja yang meninggalkan acara ini sebelum doa terkahir, maka jangan berangkatkan dia pergi haji abada-abada (selamanya)”, begitu doa Yusuf Mansur.

Doa negatif ini diucapkan Yusuf Mansur sambil menunjukkan sikap, bahwa doanya benar-benar diijabah Allah. Naudzubillahi min dzaalik.

 

 

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Kec. Rote Timur, Kab. Rote Ndao. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan Bahagia, Bekasi. Pernah di redaksi Majalah Warnasari (Pos Kota Group) dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat

Check Also

w644 (31)

Diposting Anies Baswedan, Nenek Pisang Bikin Heboh Netizen

Anies Baswedan mengunggah foto nenek penjual pisang. Netizen menyebut nenek itu dengan panggilan Nenek Pisang, ...