Home / Artikel / Artikel Lepas / Lihatlah, Siapa Gurumu?

Lihatlah, Siapa Gurumu?

Anak laki-laki sedang membaca - Ilustrasi foto
Anak laki-laki sedang membaca – Ilustrasi foto

thayyiba.com :: Di zaman ini kita begitu banyak menyaksikan orang-orang yang mengklaim diri mereka berada diatas ilmu dan berdakwah diatas ilmunya, padahal hakikatnya mereka, adalah penyeru kepada kelompok dan kesesatan.

Oleh sebab itulah keharusan bagi setiap muslim untuk memperhatikan siapakah gurunya yang ia mengambil agama ini darinya.

Berkata Imam Muhammad bin Sirin rahimahullah;

ﺇِﻥَّ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﺩِﻳْﻦٌ ﻓَﺎﻧْﻈُﺮُﻭْﺍ ﻋَﻤَّﻦْ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻭْﻥَ ﺩِﻳْﻨَﻜُﻢْ

“Sesungguhnya ilmu ini adalah agama, maka hendaklah kalian melihat dari siapa kalian mengambil agama kalian.”

Muqaddimah Shahiih Muslim.

Beliau rahimahullah juga berkata;

كانوا لا يسألون عن الإسناد فلما وقعت الفتنة قالوا سموا لنا رجالكم وإن كان من أهل السنة أخذوا حديثهم وإن كان من أهل البدعة تركوا حديثهم

“Mereka (para shahabat dan tabi’in) pada awalnya tidaklah menanyakan tentang sanad hadits, namun ketika terjadi fitnah (munculnya berbagai firqah sesat seperti Khawarij, Syi’ah-Rafidhah dan lainnya), mereka berkata: “Sebutkan kepada kami sanad kalian, maka dilihat apabila datang dari ahlus sunnah maka diterima haditsnya dan apabila datang dari ahli bid’ah maka ditolak haditsnya.”

Muqaddimah Shahih Muslim

Bahkan sebelumnya ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu telah mengingatkan tentang hal ini, beliau berkata;

ﺍُﻧْﻈُﺮُﻭﺍ ﻋَﻤَّﻦْ ﺗَﺄْﺧُﺬُﻭﻥَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻓَﺈِﻧَّﻤَﺎ ﻫُﻮَ ﺩِﻳﻦٌ

“Lihatlah oleh kalian dari mana kalian mengambil ilmu ini, karena ia adalah agama.”

Riwayat Al Khathib Al Baghdady dalam Al Kifayah (121)
Ketahuilah….!!
Bahwasanya agama Allah ini adalah agama yang mulia, dan Allah akan menjaganya hanya melalui orang-orang yang mulia yang dikenal dengan keilmuan serta kebaikannya.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

ﻳَﺤْﻤِﻞُ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻣِﻦْ ﻛُﻞِّ ﺧَﻠَﻒٍ ﻋُﺪُﻭْﻟُﻪُ :ﻳَﻨْﻔُﻮْﻥَ ﻋَﻨْﻪُ ﺗَﺤْﺮِﻳْﻒَ ﺍﻟْﻐَﺎﻟِﻴْﻦَ ﻭَﺗَﺄْﻭِﻳْﻞَ ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴْﻦَ ﻭَ ﺇِﻧْﺘِﺤِﺎﻝَ ﺍﻟْﻤُﺒْﻄِﻠِﻴْﻦَ

“Ilmu agama ini akan dibawa oleh orang-orang yang adil (lurus) pada setiap generasinya, mereka akan menolak tahrif (perubahan) yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas & ta’wil (penyimpangan arti) yang dilakukan oleh orang-orang yang bodoh serta kedustaan yang dilakukan oleh orang-orang yang berbuat kepalsuan.”

Riwayat Ibnu ‘Adi dalam Al Kamil, Al Baihaqi dalam Sunan Kubra, Ibnu ‘Asakir dalam Tarikh Dimsyaq dan Ibnu Hibban di dalam ats Tsiqat.

Dan diambilnya ilmu dari yang bukan ahlinya merupakan tanda kebinasaan ummat.

Berkata ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu;

ﻻَ ﻳَﺰَﺍﻝُ ﺍﻟﻨَّﺎﺱُ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻣَﺎ ﺃَﺧَﺬُﻭْﺍ ﺍﻟْﻌِﻠْﻢَ ﻋَﻦْ ﺃَﻛَﺎﺑِﺮِﻫِﻢْ , ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺧَﺬُﻭْﻩُ ﻣِﻦْ ﺃَﺻَﺎﻏِﺮِﻫِﻢْ ﻭَ ﺷِﺮَﺍﺭِﻫِﻢْ ﻫَﻠَﻜُﻮْﺍ

“Terus menerus manusia berada diatas kebaikan selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar (tua) mereka, jika mereka mengambil ilmu dari orang-orang kecil (ahli bid’ah) dan orang-orang buruk (orang fasik) di antara mereka, maka mereka pasti binasa.”

Riwayat Ibnul Mubarak dalam Az Zuhud (281).

Oleh sebab itulah para ulama’ melarang keras untuk mengambil ilmu dari seorang yang tidak jelas manhajnya dan menjadikan syarat menuntut ilmu hanyalah disisi Ahlul Ilmi yang kokoh diatas kebenaran.

▪ Berkata Imam Malik rahimahullah;

ﻻَ ﻳُﺆْﺧَﺬُ ﺍﻟْﻌِِﻠْﻢُ ﻋَﻦْ ﺃَﺭْﺑَﻌَﺔٍ : ﺳَﻔِﻴْﻪٍ ﻣُﻌﻠِﻦِ ﺍﻟﺴَّﻔَﻪِ , ﻭَ ﺻَﺎﺣِﺐِ ﻫَﻮَﻯ ﻳَﺪْﻋُﻮ ﺇِﻟَﻴْﻪِ , ﻭَ ﺭَﺟُﻞٍ ﻣَﻌْﺮُﻭْﻑٍ ﺑِﺎﻟْﻜَﺬِﺏِ ﻓِﻲْ ﺃَﺣﺎَﺩِﻳْﺚِ ﺍﻟﻨَّﺎﺱِ ﻭَﺇِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﻳَﻜْﺬِﺏُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﺮَّﺳُﻮْﻝ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ , ﻭَ ﺭَﺟُﻞٍ ﻟَﻪُ ﻓَﻀْﻞٌ ﻭَ ﺻَﻼَﺡٌ ﻻَ ﻳَﻌْﺮِﻑُ ﻣَﺎ ﻳُﺤَﺪِّﺙُ ﺑِﻪِ

“Ilmu tidak boleh diambil dari empat orang :

1. Orang bodoh yang nyata kebodohannya
2. Shahibu hawa` (pengikut hawa nafsu) yang mengajak agar mengikuti hawa nafsunya
3. Orang yang dikenal dengan kedustannya dalam pembicaraan-pembicaraannya dengan manusia, walaupun dia tidak pernah berdusta atas (nama) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
4. Seorang yang memiliki keutamaan dan keshalihan namun tidak mengetahui hadits yang dia sampaikan”.

Jami’ Bayanil ‘Ilmi (348)

Wahai para penuntut ilmu…. barokallohu fiikum…

Lihatlah siapakah gurumu yang engkau mengambil ilmu darinya, ketahuilah bahwa kemuliaan ilmu itu tidak akan diambil di tangan-tangan orang-orang yang hina.

Dan janganlah kalian termakan dengan syubhat orang-orang yang membolehkan menuntut ilmu dari setiap orang dengan mengatakan;

انظر ما قال ولا تنظر من قال

“Lihatlah kepada apa yang diucapkan dan janganlah lihat kepada siapa yang berucap.”

Ungkapan ini bukanlah ayat dan bukan pula hadits, melainkan syubhat yang sengaja dipopulerkan untuk mengelabuhi sebagian penuntut ilmu agar BERMANHAJ GADO GADO, yaitu mengambil ilmu dari siapapun tanpa melihat siapa yang membawanya.

Padahal hal tersebut bertentangan dengan apa yang telah kita jelaskan sebelumnya. Wallohul Musta’an.

Adapun sebagian orang yang berdalihkan dengan kisah Abu Hurairah yang bertemu dengan Syaithan lalu mengajarkan kepadanya ayat kursy lalu dibenarkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau;

ﺃَﻣَﺎ ﺇِﻧَّﻪُ ﻗَﺪْ ﺻَﺪَﻗَﻚَ ﻭَﻫُﻮَ ﻛَﺬُﻭﺏٌ

“Sungguh ia telah berkata benar kepada engkau padahal ia (syaithan tsb) adalah pendusta.”

Ini bukanlah dalil akan bolehnya menuntut ilmu kepada seorang yang jahat dan buruk manhajnya, namun ini hanyalah dalil wajibnya menerima kebenaran jika hal tersebut jelas kebenarannya walaupun kebenaran tersebut keluar dari lisan seorang penjahat.

Maka hendaklah dibedakan antara pembahasan menuntut ilmu (mencari suatu kebenaran) yang hal tersebut tidak diperbolehkan kecuali kepada seorang yang lurus manhaj dan aqidahnya,

Dengan pembahasan menerima suatu kebenaran jika jelas itu kebenaran walaupun datang dari siapapun juga, oleh sebab itulah telah bersepakat seluruh orang-orang yang berakal tentang tidak bolehnya menuntut ilmu kepada syaithan dengan dalil hadits diatas. Wallohu a’lam. (put/thayyiba)

Penulis : Al Ustadz Fauzan Al kutawy hafidzahullahu

About Lurita

Lurita

Check Also

harta-tahta

Bermegah-Megahan Dalam Hidup Akan Melalaikan

thayyiba.com :: Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala : أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ (1) حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ (2) ...