Home / Sastra / Cerpen / HIJRAH DIBALIK CINTA

HIJRAH DIBALIK CINTA

imagesthayyiba.com ::

Aku adalah gadis remaja yang dengan tulus selalu berusaha mencintaimu dan bertahan untuk hubungan ini, saat 16bulan yang lalu kita memulai segalanya, memulai semuanya dengan begitu indah, memori kenangan yang sebenarnya takpernah ingin aku lupakan, saat kamu memberiku seribu kenyamanan dan sejuta kesejukan yang entah dengan cara apa lagi aku harus bersyukur karena aku bahagia bersamamu. Saat semuanya begitu indah, saat kamu masih bisa ada untuk ku, saat ku rasa hanya kamu yang selalu bisa mengabulkan tiap manjaku, menemui ku saat aku merindukan mu, menjemputku saat aku memintamu untuk mengantarkan ku, dan kurasa hanya kamu yang selalu memberiku segudang perhatian yang masih ku ingat jelas.

Rasanya, waktu semakin cepat berlalu, banyak sekali kejadian kejadian kecil dan kenangan yang menurutku itu indah yang ingin aku ulang? Tapi? Segalanya sudah menguak seperti tak berbekas, rasanya cukup berat harus terbiasa tanpa segalanya tentangmu, tepatnya tentang kita. Beberapa minggu yang lalu, banyak sekali kejanggalan yang ku temu kan, tak pernah lagi ku baca bbm ataupun pesan singkatmu untuk ku, tak pernah lagi kudengar sapa’an mu saat berjumpa, tak pernah lagi ku dengar kata-kata engaku merindukan ku seperti yang sering ku dengar dulu. Aku yang saat itu tidak mengerti dengan semuanya,

Namun, tidak dapat dipungkiri, perpisahan yang beralasan ataupun tidak beralasan sama-sama menimbulkan rasa sakit yang sama bukan? Meskipun banyak orang bilang cinta itu tanpa alasan, apakah berarti perpisahan yang terjadi harus juga tanpa alasan?

aku yang saat itu masih berharap hubungan ini tetap ada, tapi? Saat ku baca pesan singkatmu yang bertuliskan “Sayang, aku menyayangimu, tapi? Bisakah kau mengerti posisiku saat ini? Aku rasa kita cukup sampai disini, aku ingin lebih mendekatkan diri kepada allah, bukankah didalam islam tidak diperbolehkan untuk berpacaran? Aku takut sayang, aku takut jika hubungan ini semakin lama, semakin banyak dosa yang kita miliki, aku takut tuan putri kecil ku ini memikul dosa yang seharusnya tak harus dia miliki, aku menyayangimu tapi tidak untuk sekarang , ku yakin tuhan pasti akan mempertemukan kita, suatu saat nanti, ingat tuan putriku jodoh pasti bertemu”. Oh tuhan saat ku baca semua ini, air mataku tak dapat ku tahan, entah harus ku balas apa pesan singkatmu itu? Aku tak bisa menganggapmu egois jika sudah berhubungan dengan agama, aku tak bisa menganggapmu jahat jika itu pilihanmu, tapi? Aku belum bisa menerima kenyataan ini, harus pergi dan membiasakan diri tanpa mu.

Tapi jujur Berat rasanya harus menerima kenyataan bahwa kamu tidak lagi menyapaku lewat chat setiap pagi, berat rasanya harus membiasakan diri tidak lagi mendengar suaramu melalui telepon kita saat malam hari, berat rasanya meyakinkan diriku bahwa kita tak akan bertemu lagi, berat rasanya tidak lagi mendengar ocehan dengan dialek bicaramu yang sangat khas itu, berat rasanya tidak mendengar leluconmu dalam telepon ataupun dalam pertemuan nyata, berat rasanya harus menerima kenyataan bahwa kita tak lagi dapat bergandengan tangan.

Aku yang saat itu tidak bisa berfikir positif yang dibenak ku “Apakah mungkin dia akan berubah lebih baik dan meninggalkan ku karena allah? , apakah ini hanya alasannya saja untuk pergi dari aku? Apakah ada orang lain dibalik ini, Ohtuhan berat sekali rasanya”. Dan saat ku balas pesan singkat mu “ Apakah kita tidak bisa untuk seperti dulu? Walaupun kita tidak ada hubungan yang special seperti dulu?”, lantas kau langsung membalasnya “Iya, kita masih bisa bersama, walaupun kita tidak memiliki status, aku menyayangimu, tapi kau harus berjanji padaku, aku harus merubah dirimu untuk menjadi orang yang lebih baik, aku senang dengan perubahan mu saat ini, kamu telah menutup aurat mu dengan hijab layaknya kodratmu sebagai perempuan, dan aku ingin di setiap perubahanmu ini , kau lengkapi dengan memperbaiki diri, akhlak dan ibdahmu, begitu juga aku”.

Iya aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk berubah diriku menjadi lebih baik lagi, tapi? Masih banyak hal yang belum bisa aku terima, segalanya berubah drastis , beberapa hari setelah kepergianmu, kamu jarang menghubungiku, bahkan pernah ku dengar kamu jalan dengan wanita lain, aku yang saat ini kalut yang belum terima dengan segala perubahan yang harus aku hadapi, harus membiasakan diri tanpa mu, yang saat ini hanya bisa mengingat bagaimana kelakukanmu yang selalu memperlakukan ku layaknya tuan putri dan ternyata berita yang ku dengar tentang wanita lain itu hanyalah gossip dari mereka yang tak menyukai hubungan kita

Beberapa bulan setelah perpisahan kita, kali ini kita masih begitu akrab walaupun tanpa harus ada status yang lebih jelas, kamu kerap sekali membalas bbm ku, mengingatkan ku ini itu dan mengingatkan ku untuk beribadah, dari kisah ini aku belajar banyak hal, belajar mencintai, menyayangi, bertahan, diterpa masalah, diterpa kerinduan, dan diterpa dengan kata kepergian, tapi? Aku banyak bersyukur dalam hubungan ini karenamu, kita bisa sama-sama memperbaiki diri, bisa bersama mendekatkan diri kepada allah, bisa bersama-sama mencari keridhoan dari rab sang pencipta alam dan manusia untuk mencapai syurganya allah, inilah letak kasih sayang yang sebenarnya, letak keromantisan yang hanya bisa dilakukan oleh lelaki gentle, yang bisa mengajak orang yang dia sayangi hijrah kejalan yang lurus, seharusnya aku sadar, kau lebih tersiksa dari pada aku, saat harus mengakhiri segalanya , Karena ku tahu kau adalah seseoarang yang selalu butuh semangat dan perhatian, yang selalu berkata “Aku merindukanmu”, tapi kali ini? kamu tega menikam hati mu dan perasaanmu sendiri, demi mencapai suatu keridhoan dari Allah swt. Aku merasa menjadi orang yang beruntung, bisa bersamamu , walaupun memori kenangan yang lalu harus ku simpan dengan rapi, aku merasa beruntung saat bisa merasakan kasih sayang dan mendapatkan hidayah seindah ini. Terimahkasih cinta kau ajarkan aku untuk menjadi lebih baik.

 

Penulis: DheaAgustina

About A Halia

A Halia

Check Also

o-750x422

Melupakanmu

thayyiba.com :: Sudah lebih dari sebulan dia tak pernah memberiku kabar, padahal kapanpun dan di ...