Home / Artikel / Artikel Lepas / Tabayyun dalam Islam

Tabayyun dalam Islam

Thayyiba.com :: Akhir-akhir  ini, banyak media masa memberitakan tentang kejadian yang seolah-olah mengguncang keamanan dan bahkan keutuhan masyarakat bangsa Indonesia. Baik itu pada aspek keamanan, perekonomian, sosial, sampai masalah situasi kerukunan beragama terkadang mengalami kegoncangan. Akibat kejadian-kejadian tersebut, memunculkan berbagai tanggapan dari berbagai kalangan atas situasi yang semangkin komplek tersebut. Tangapan-tangapan yang mereka berikan tersebut, memunculkan solusi-solusi alternatif yang berbeda-beda seiring perbedaan sumber dan pola berpikir yang menyampaikannya. Dari perbedaan solusi tersebut, menimbulkan spekulasi yang berbeda-beda diantara masyarakat, yang menimbulkan aksi atau sikap yang berbeda-beda pula.

Pada aspek keagamaan, misalnya perbedaan penyikapan dari informasi yang diterima juga melahirkan aneka ragam sikap dan aksi. Meskipun sama sumbernya, dari Alqur’an maupun dari hadits nabi. Namun, akan tetapi tetap memunculkan perbedaan-perbedaan sikap yang beragam. Baik itu, sikap toleran terhadap suatu masalah sampai dengan sikap yang keras tanpa toleransi. Penerimaan masyarakat pun menjadi berbeda-beda, sebagai akibat penyikapan yang berbeda-beda terhadap suatu informasi. Tidak jarang  memunculkan konflik yang tentu saja merugikan beberapa pihak. Dan tentu saja konflik ini mengganggu stabilitas keamanan dan kerukunan di dalam lingkungan kehidupan kemasyarakat.

Karena itu, dalam ajaran Islam terdapat tradisi yang disebut dengan tabayyun. Tabayyun merupakan mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Sedangkan secara istilah tabayyun adalah meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa dalam memutuskan masalah baik dalam hal hukum, kebijakan dan sebagainya hingga jelas benar permasalahannya. Tabayyun adalah tradisi ajaran Islam yang dapat menjadi solusi, terutama bagi informasi-informasi yang berpotensial memunculkan konflik dalam masyarakat. Metode tabayyun adalah proses klarifikasi sekaligus analisis atas informasi dan situasi serta masalah yang sedang dialami umat. Tujuanya adalah untuk mendapatkan hasil kesimpulan yang lebih bijak, arif dan lebih tepat sesuai keadaan masyarakat sekitarnya.

Dalam Alquran Allah Swt, berfirman yang artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).

Ayat tersebut mengandung makna, keharusan bertabayyun terhadap adanya suatu berita atau informasi ataupun suatu pemahaman dan cara berpikir keberagamaan yang baru. Selain itu pula, Allah mengingatkan kepada kita untuk tidak mengikuti sesuatu yang belum diketahui secara jelas masalahnya atau jangan mengambil kesimpulan terlebih dalulu sebelum mengetahui secara jelas. Karena semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan semuanya di hadapan Allah.

Hal ini sebagaimana firman Allah, yang artinya:

Dan Janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS: al-Isrâ’: 36).

Pemahaman dan keyakinan kita terhadap suatu ilmu, terkadang belum tentu mengandung kebenaran yang dikehendaki oleh syariat Islam. Bukankah kita mengetahui adanya istilah yaqin‘ainul yaqin dan haqqul yaqin?. Kita tentunya dapat mengukur sejauh mana kapasitas keilmuan kita dalam memahami suatu persoalan atau dalam memahami teks Alquran maupun hadits nabi? Sehingga pemahaman yang kita peroleh telah selaras dengan maksud Rasulullah Saw dan kehendak Allah Swt. Hal ini karena, dalam memahami redaksi ayat Al-Qur’an dan teks al-Hadits merupakan hal yang sama sekali tidak sepele. Makna yang dikehendaki Allah Swt dan Rasulullah Saw tidak hanya dapat dilihat dan dipahami dengan satu buah atau dua buah teks saja. Satu ayat atau hadits selalu terhubung dengan ayat dan hadits yang lain.  Diperlukan bekal banyak ilmu untuk yang cukup untuk dapat memahami suatu makna ayat dari Alquran maupun hadits Rasulullah Saw.

Menafsirkan atau memahami ayat Alquran dan hadits, tanpa dibekali dengan ilmu dapat dikatakan merupakan tindakan penafsiran dan pemaknaan ayat secara paksa. Hal inilah yang pada akhirnya akan melahirkan penafsiran-penafsiran dan kesimpulan yang tidak benar dan terkadang melahirkan pemahaman-pemahaman yang tidak toleran di tengah-tengah masyarakat, bahkan cenderung ekstrim dan keras. Pemahaman dan keyakinan yang ekstrim, telah banyak dirasakan akibat buruknya, oleh masyarakat dan bahkan bagi kelompok yang mendakwahkannya.

 

Menanamkan sikap tabayyun merupakan salah satu akhlak yang mulia. Sebab tabayyun merupakan akhlak yang mencerminkan perbuatan dan tindakan untuk mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar keadaannya. Oleh karena itu, pantaslah Allah swt memerintahkan kepada orang yang beriman agar selalu tabayyun dalam menghadapi berita yang disampaikan kepadanya agar tidak meyesal di kemudian hari.

Semoga bermanfaat dan menjadikan pelajaran bagi kita semua, terutama bagi saya pribadi. Aamiin ..

 

 

Oleh : Hasrian Rudi Setiawan

About A Halia

A Halia

Check Also

Bukti Loyalitas Abu Bakar Pada Peristiwa Isra Mi’raj

thayyiba.com :: Waktu yang pasti mengenai, ‘kapan tepatnya Isra Mi’raj berlangsung’ hingga saat ini memang masih ...