Home / Kabar / Opini / MENGGUGAT KONSEP DAN APILIKASI SEDEKAH YUSUF MANSUR (3)

MENGGUGAT KONSEP DAN APILIKASI SEDEKAH YUSUF MANSUR (3)

Yusuf Mansur terbaring di RSPAD (FP Abdullah Gymnatiar)
Yusuf Mansur terbaring di RSPAD (FP Abdullah Gymnatiar)

Refleksi dari Sakitnya Yusuf Mansur

 

thayyiba.com :: Sabtu (29/8), Yusuf Mansur dikabarkan masuk Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPD) Jakarta. Kabar ini bermula dari Aa Gym yang berkicau di akun twitternya. Hanya dalam hitungan menit, banyak orang langsung menanggapi kicauan Aa Gym itu dengan menyampaikan ucapan prihatin dan doa untuk kesembuhan Yusuf Mansur.

Sakit yang diderita Yusuf Mansur memang terbilang serius. Menurut berita yang beredar, otak sebelah kirinya tak bisa menerima support oksigen dan darah. Akibatnya Yusuf Mansur sering merasa pusing dan sakit kepala. Sakit ini sudah dideritanya lebih dari dua tahun, seperti yang dikui anaknya Wirda Yusuf. Oleh karena itu, Yusuf Mansur kali ini harus menjalani operasi. Hari ini, Senin (31/8) Yusuf Mansur dikabarkan sudah selesai jalani operasi dan meninggalkan RSPD. Dia kemudian menjalani program berobat jalan.

Sebagaimana orang terkenal lainnya, sakitnya Yusuf Mansur ini mendapat sorotan media. Itu juga karena dia dan beberapa ustad-ustad pop sama-sama mengabarkan sakitnya ini di media sosial, di mana mereka aktif  berkomunikasi di dalamnya. Selain mendapat komentar prihatin dan doa akan kesembuhannya, berita sakitnya Yusuf Mansur juga mendapat tanggapan kritis dari pengunjung berita on line. Di situs Republika On Line (ROL) umpamanya. Diantara yang mendoakan kesembuhan Yusuf Mansur ada juga pengunjung yang berkomentar  mengejutkan. Seseorang yang bernama Asrul Purba menulis komentar, “Semoga ustadz yusuf mansyur segera diberi kesembuhan oleh Allah… Segera bisa menyelesaikan kewajiban-kewajiban patungan usahanya. Kalau dulu uatadz getol menggerakkan sedekah yg bisa mengatasi berbagai masalah, termasuk sakit. Saatnya sekarang ustadz banyak sedekah.”

Komentar Asrul Purba ini mengingatkan penulis pada sebuah berita yang pernah ditulis di Islampos.com pada tanggal 4 Juli lalu dengan judul “Peserta Investasi Patungan Usaha Mensomasi Yusuf Mansur”. Di situ diberitakan, seorang peserta Patungan Usaha (usaha investasi milik Yusuf Mansur) melayangkan somasi kepada Yusuf Mansur karena merasa diabaikan hak-haknya. Era Fadilla, investor asal Solo, Jawa Tengah yang mensomasi Yusuf Mansur itu sudah dua tahun mengikuti program Patungan Usaha dengan menyetor uang sebesar Rp. 12 juta. Belum lagi mendapat laporan investasinya, Era Fadilla sudah mendapat SMS penawaran investasi baru berupa koperasi haji dan umrah dari Yusuf Mansur.

Masih dalam hari yang sama, Islampos.com memuat tanggapan Yusuf Mansur dengan menulis, “Mudah-mudahan saya malah bisa menemukan kesalahan saya. Sehingga bisa minta maaf. Saya jagain bener visi misi PU supaya bisa dicopy paste untuk Indonesia.” Pada bagian lain Islampos.com menulis, “Diakui juga oleh Yusuf Mansur sebagai proyek awal Patungan Usaha banyak kekurangannya. Dan dana  investasi Patungan Usaha yang sekarang berwujud sebuah hotel di kawasan bandara Soekarno Hatta”

Hotel yang dimaksud adalah Hote Siti, yang diambil dari nama istrinya (Siti Maemuna) Meski sudah lama beroperasi, hotel itu terus sepi pengunjung dan tampak tak tersentuh tangan-tangan professional. Nama besar Yusuf Mansur ternyata tidak berpengaruh terhadap keberadaan hotel itu. Bisa jadi, keadaan hotel ini adalah ceriminan dari sikap Yusuf Mansur yang selalu menggebu-gebu dalam membangun usaha baru. Jika usaha baru itu sudah tercapai “keuntungan” secara pribadi maka usaha barunya itu akan “ditinggalkan” tanpa memberikan pertanggungjawaban secara professional kepada investor. Yusuf Mansur kemudian kembali membuat usaha baru dengan merekrut investor baru. Para investor juga tidak mempermasalahkan usaha yang lama maupun yang baru karena sebelumnya mereka sudah diyakinkan bahwa dana yang mereka setorkan adalah sedekah, bukan sebuah invstasi yang bernilai profit.

Situs berita lain, Bersama Dakwah.net menulis, sakitnya Yusuf Mansur ini sebagai ujian. Karena itu, banyak hikmah yang harusnya diambil dari sakitnya ini. Yusuf Mansur sendiri juga mengkui hal ini. Seperti yang ditulisnya seniri dalam akun twitternya, banyak anggota keluarganya yang datang membesuk. “Hikmah sakit, yg dkt dan jauh, pd ngumpul. Kayak lebaran lagi, hehehe,” tulis @Yusuf_Mansur. Lagi-lagi hal ini mengingatkan penulis pada pemberitaan di situs berita dakwatuna.com beberapa waktu lalu tentang pertemuan Yusuf Mansur dengan pemred dakwatuna, seorang pengusaha nasional, seorang wartawan dan seorang pimpinan pesantren dari Jawa Tengah pada sebuah restoran di pusat perbelanjaan di bilangan Kasablanka, Jakarta Selatan jelang Ramadhan lalu. Pertemuan itu  dilatarbelakangi oleh kritikan beberapa orang terhadap konsep dan aplikasi sedekah Yusuf Mansur Yang salah saat itu.

Dalam pertemuan ini Yusuf Mansur mengakui bahwa, selama ini dia terlalu sibuk dengan urusan mengembangkan usaha-usahanya. Oleh karena itu, tak disadarinya, bahwa banyak kesalahan yang dia perbuat, diantaranya lupa bersilahturahmi dengan para sahabat yang ikut membesarkan serta sanak keluarganya. “Insya Allah, beberapa hari sebelum Ramadhan ini, saya akan merajut kembali benang silahturahmi dengan anggota keluarga yang lama terputus dan orang-orang yng pernah atau merasa say sakiti”, demikian kurang lebih kata Yusuf Mansur kala itu. Sebelum berpisah, Yusuf Mansur meminta kepada penulis dan hadirin yang lain agar membantu menunjukkan orang-orang yang mungkin pernah dia pernah bersalah. Mungkin saja, niatan Yusuf Mansur belum tersampaikan, sehingga dengan sakitnya ini dia bisa berkumpul dengan semua anggota keluargnya. “Seperti lebaran,” begitu tulis Yusuf Mansur dalam akun twiternya.

Sebagai orang beriman, sakitnya Yusuf Mansur ini harus dilihat secara obyektif dan penuh ketauhidan. Bila Yusuf Mansur beriman dan berilmu, sakit ini akan menggugurkan dosa-dosanya. Namun, sebagai manusia biasa, jika sakitnya itu sebagai akibat dari kesalahan yang diperbuatnya –umpamanya suka menipu dan berbohong–  maka sakitnya itu adalah sebagai  peringatan atau musibah.

Siapapun diantara kita yang sakit, maka sesungguhnya Allah ingin melihat bukti keimanan dan kesabaran kita. Jika kita bisa menyikapi dengan benar, dan mengembalikan semuanya kepada Allah, maka Allah akan memberikan pertolongan dan rahmat sesudah musibah itu. Sebenarnya yang terpenting bukan musibahnya, tetapi apa alasan Allah menimpakan musibah itu kepada kita. Untuk di ingat, jika musibah itu terjadi, disebabkan dosa-dosa kita, maka segera-lah bertobat kepada Allah. Kalau musibah yang terjadi karena ujian keimanan kita, maka kuatkan iman dan berpegang teguhlah kepada Allah.

 

Saat artikel ini ditulis, Yusuf Mansur sudah kembali ke rumahnya. Semoga cepat sembuh.[]

 

 

About Tabrani Sabiri, Lc, M.Ag.

Tabrani Sabiri, Lc, M.Ag.
TABRANI SABIRIN, Lc, M.Ag. Lahir di Solok, Sumatera Barat, 14 Agustus 1965. Menyelesaikan pendikan S1 di Universitas Al Azhar, Kairo Mesir. Sedangkan S2 diselasaikan di UIN Syarief Hidayatullah, Jakarta. Menjadi staf pengajar di Fakultas Syariah dan Hukum UIN dari tahun 1998 sebagai PNS. Karena ketertarikannya pada dunia politik dan bisnis, akhirnya Thabrani meninggalkan UIN pada tahun 2009. Kini mantan Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus, PP Muhammadiyah dan anggota DPRD Provinsi Banten ini lebih aktif dalam dunia bisanis dan dakwah.

Check Also

Longsor Elektabilitas Jokowi, Rasa Luhut Binsar Panjaitan

Oleh: Miftah H. Yusufpati (Wartawan Senior)     AURA kepanikan itu tak bisa ditutupi lagi. ...