Home / Artikel / Artikel Lepas / Ancaman Bagi Mereka yang “Kabur”

Ancaman Bagi Mereka yang “Kabur”

ilustrasi (informasisekarang.blogspot.com)
ilustrasi (informasisekarang.blogspot.com)

thayyiba.com :: Dunia ini milik orang yang berani. Begitulah orang bijak mengatakan demikian. Bicara tentang keberanian, orang yang beriman harus lebih unggul dibandingkan dengan orang non-i dalam berbagai hal. Bahkan Allah memberikan ancaman kepada kaum mukminin yang melarikan diri dari serangan orang-orang kafir.

Sejelek-jelek tempat bagi mereka adalah neraka–semoga Allah melindungi kita. Rasulullah SAW menegaskan bahwa tindakan tidak patriotik itu merupakan dosa besar, ingat; dosa besar dan dapat membinasakan.

Jumhur ulama di antaranya Ibnu Abbas berpendapat bahwa hukum “mundur dari pertempuran” berlaku bagi siapapun yang sedang dalam perjuangan, berdasarkan hadits riwayat Bukhari-Muslim;
“Jauhilah olehmu tujuh perkara yang menghancurkan, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah, apa saja tujuh perkara itu?” Rasulullah menjawab: “Syirik kepada Allah, sihir, membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan haq, makan riba, makan harta anak yatim, melarikan diri waktu perang dan menuduh zina pada waktu yang baik dan beriman.”

Perilaku kabur atau melarikan diri pada waktu perang amat terkutuk. Tindakan ini merupakan cerminan dari akidah yang lemah dan rapuh. Tiada yang dicari oleh pasukan mukminin yang mundur dari medan perang tanpa ada alasan syar’i seperti mengatur siasat atau bergabung dengan pasukan lain, selain karena cinta dunia dan ingin hidup lebih lama.

Sayyid Quthb pernah memberikan paparan bahwa hasil sesungguhnya hati orang yang beriman harus kuat dan kokoh, tidak dapat digoyahkan oleh kekuatan apapun di atas bumi ini. Hati orang yang beriman menyatu dengan kekuatan Allah yang Maha Kuasa dan Perkasa. Kalau pun hatinya limbung karena suatu bahaya yang menghadangnya, maka tidak sampai pada tingkat melarikan diri atau chao. Ajal manusia di “Tangan” Allah, maka tidak boleh hal ini dilakukan orang yang beriman hanya karena khawatir terhadap kehidupannya. Hal ini bukanlah pemaksaan diri di luar kemampuan, karena seorang mukmin adalah manusia yang menghadapi musuhnya yang juga manusia sehingga dari satu sisi keduanya adalah sama.

Satu hal yang penting; kelebihan orang beriman memiliki hubungan kuat dengan Allah SWT. Jika hidup, ia akan kembali kepada Allah dan kembali kepada Allah juga ditafsirkan tidak meraih syuhada.
Oleh sebab itu, dalam segala hal, catatlah; orang mukmin lebih kuat dari lawan yang dihadapinya yang berstatus menentang Allah! (mubarok/thayyiba)

About Muhammad Solich Mubarok

Muhammad Solich Mubarok
Muhammad Sholich Mubarok. Terjun di dunia jurnalistik sejak tahun 2011 sebagai wartawan di media daring di kawasan Buncit, Jakarta Selatan. Kini aktif sebagai mahasiswa di STIU Al-Hikmah Jakarta dan sedang mengembangkan KontenPedia. Akun Instagram: @paramuda

Check Also

Azab Menghina Nabi Muhammad dan Balasannya

thayyiba.com :: Nabi Muhammad adalah salah satu Nabi utusan Allah SWT yang wajib untuk kita imani ...