Home / Kabar / Opini / Yusuf Mansur, Antara Cerita Fiktif dan Kesombongan

Yusuf Mansur, Antara Cerita Fiktif dan Kesombongan

ympembohongthayyiba.com :: Sudah merupakan pengetahuan umum, bahwa Yusuf Mansur dalam upaya meraup dana masyarakat yang disebutnya “sedekah” itu dia ciptakan kisah-kisah fiktif tentang orang yang menggapai keinginannya setelah bersedekah. Kisah-kisah fiktif yang diramu dalam ceramah-ceramahnya itu kemudian disebarluaskan melalui Youtube.

Selain melalui media Youtube, Yusuf Mansur juga menyebarkan cerita-cerita fiktifnya melalui website yang dibuat dengan namanya sendiri serta media sosial lainnya, seperti facebook, twitter dan instagram. Semua media berbasis internet itu dibuat dengan memakai namanya sendiri dan ada yang kemduain dembel-embeli di depan atau belakang namanya.

Untuk website,salah satu situs yang banyak dikunjungi adalah http://yusufmansur.com. Di awal tahun baru ini, Yusuf Mansur menulis dalam situsnya itu sebuah kisah tentang seorang ibu yang bernama Ayu (http://yusufmansur.com/keajaiban-sedekah/).

Diceritakan, ibu Ayu ini adalah orang yang gemar mendengar ceramah-cermah Yusuf Mansur dan sangat percaya dengan kisah-kisah yang ada di dalamnya. Ini bertolak belakang dengan suaminya yang selain tak peduli juga tidak percaya dengan isi ceramah Yusuf Mansur. Sampai suatu saat suami ibu Ayu ini terkena PHK dari kantor tempatnya bekerja.

Singkat cerita, karena terobsesi dengan ceramah Yusuf Mansur yang bercerita tentang adik kandungnya, maka ibu Ayu ini memaksa suaminya mengikuti jejak adik Yusuf Mansur sehingga sukseslah dia.

Cerita Yusuf Mansur tentang adiknya ini bisa kita saksikan dalam video di Youtube yang diberi berjudul ‘Ilmu Keyakinan Kepada Allah’ https://www.youtube.com/watch?v=oIIT1icZkec. Cerita ibu Ayu ini kemudian mendapat tanggapan atau komentar yang semuanya bagus dan direspon sendiri oleh Yusuf Mansur. Sangat tidak bisa diterima, kalau diantara ratusan orang yang merespon itu semuanya punya pikiran dan pandangan yang sama, tak satupun yang bisa mengkritisnya. Sungguh aneh.

Untuk membuktikan cerita Yusuf Mansur ini, apakah ibu Ayu dan ceritanya ini benar atau tidak, nyata atau fiktif, jujur atau bohong, penulis mengirim sebuah permintaan kepada Yusuf Mansur lewat akun emailnya “Yusuf Mansur” sejutayusufmansur@gmail.com pada Senin (11/1).

Penulis meminta agar Yusuf Mansur bersedia memberikan keterangan tentang ibu Ayu, di mana alamatnya dan berapa nomor teleponnya. Penulis berharap, dengan mendapatkan alamat dan nomor telepon ibu Ayu atau sedikit keterangan tentang ibu itu, penulis akan menghubunginya dan menkonfirmasi kebenaran kisahnya seperti yang ditulis oleh Yusuf Mansur itu.

Seminggu setelah email itu dikirim, Yusuf Mansur belum memberikan tanggapan apa-apa. Karena itu, pada Senin (18/1) penulis mengirim permintaan yang sama ke nomor WhatsApp-nya 081510511127. Sayang, permintaan ini juga tak kunjung dijawab Yusuf Mansur. Akhirnya, pada Rabu (20/1) ini penulis kembali mengirim permintaan ke akun instagramnya YUSUFMANSURNEW. Lagi-lagi Yusuf Mansur tidak mengindahkan permintaan ini.

Apakah Yusuf Mansur kemudian akan berdalih, kalau permintaan penulis itu tidak diketahuinya? Atau tidak pernah dibacanya? Jika itu alasannya maka jelas dia adalah telah berbohong. Karena orang seperti Yusuf Mansur selalu melekat pada dirinya alat komunikasi modern. Tak ada menit dan jam yang terlewati bagi Yusuf Mansur tanpa ada komunikasi berbasis internet.

Selain penulis, masih ada pengguna instagram yang tidak mendapat konfirmasi dari Yusuf Mansur pada pertengahan Januari ini. Pengguna itu bernama Dee_naa_lativa.

Dalam akun instagramnya Yusuf Mansur menulis, “Kalo bukan kita2 yg beli produk2 sendiri, siapa lagi? Kuliner nusantara macam Waroeng Steak and Shake, Icon, Cibuik, Bebek Slamet, begitu g yg ga Selamet, hehe… trus Ayam Bakar Mas Mono (ABMM). Harus kita hidupi dg makan di sana. Itung2 dukung perekonomian asli Indonesia, untuk menghadapi MEA, ya kuatin produk dlm negeri & bikin cinta produk sendiri. Syukur2 kemampuan produksi bangsa qt jg top, missal, bs bikin gadget sendiri. The Samsul… sebagai competitor Samsung. ‘M-Po’, sbg competitor Iphone. Toh ada bnyk brand baru muncul jg. Bs jg tuh berkembang. Kyk Xiaomi. Knp ga qt bikin sendiri jg. Makasih buat Waroeng Steak and Shake & kwan2 lain yg bergerak di industry & ngegerakin ekonomi. Doa saya u sdr2 semua. I love you full…”

Menanggapi statemen Yusuf Mansur itu, Dee_naa_lativa menulis, : “Yusuf Mansur knp selalu promosiin Waroeng Steak, Mas Mono dan Bebek Slamet jogma malang, krn bisnis itu milik Yusuf Mansur sendiri. Pantes kuliner lainnya diejek boro2 dipromosiin tp malah dihina ga slamet, naudzubillah yusuf Mansur yg sok ustad gak fair dan ternyata jahat pikirannya, bisnisnya dr uang cuci uang dr penipuan berkedok sedekah. Wau tunggu kwalat tuh.”

Sikap tidak mau memberikan tanggapan ini bukan kali pertama penulis alami dengan Yusuf Mansur. Pada Mei tahun lalu, ketika penulis akan menulis tentang kritikan masyarakat terhadap konsep dan pola pengumpulan sedekahnya untuk Dakwatuna.com, Yusuf Mansur diam seribu bahasa ketika penulis sodorkan pertanyaan-pertanyaan.

Beberapa tahun lalu, ketika kasus penipuannya dilaporkan ke polisi dan sudah ramai di media massa, Yusuf Mansur sulit dikonfirmasi oleh wartawan. Meskipun nomor telepon pribadi dan kediamannya dihubungi, Yusuf Mansur tetap tidak mau memberikan tanggapan terhadap tuduhan penipuan yang dialamatkan kepadanya itu. Belakangan, kepada penulis, seorang ustad kondang bertutur bahwa Yusuf Mansur memintanya untuk memediasi kasus penipuan itu dengan polisi dan korban. Yusuf Mansur mau mengganti kerugian korban dan kasus diselesaikan secara kekeluargaan.

Sikap diam Yusuf Mansur terhadap setiap permintaan tanggapan ini, bisa jadi membuat orang berkesimpulan bahwa, semua testimoni yang dia sertakan dalam kisah-kisah sukses sedekahnya itu adalah cerita fiktif dan kebohongan belaka. Kaidah ushul fiqih menyebutkan, “Assuquut Yadullu ‘alar Ridho”, (Sikap) Diam itu menandakan pengakuan.

Mungkin juga Yusuf Mansur berpikir, bahwa orang-orang yang bertanya, yang meminta tanggapan atau klarifkasi atau bahkan menuduh, adalah orang-orang yang tidah penting baginya. Bisa jadi bagi Yusuf Mansur para penanya itu, seperti penulis, adalah orang yang tak sebanding dengannya, tak sepopuler dengannya atau tidak sekaya dengannya. Jika memang ini yang terjadi, maka betapa sombongnya Yusuf Mansur. Wallaahu a’lam.

About Darso Arief

Darso Arief
Lahir di Papela, Pulau Rote, NTT. Alumni Pesantren Attaqwa, Ujungharapan, Bekasi. Karir jurnalistiknya dimulai dari Pos Kota Group dan Majalah Amanah. Tinggal di Bekasi, Jawa Barat.

Check Also

Longsor Elektabilitas Jokowi, Rasa Luhut Binsar Panjaitan

Oleh: Miftah H. Yusufpati (Wartawan Senior)     AURA kepanikan itu tak bisa ditutupi lagi. ...