Home / Artikel / Artikel Lepas / Menelisik Kebangkitan Islam dalam Chronicle of Sebeos

Menelisik Kebangkitan Islam dalam Chronicle of Sebeos

Islam
Islam

Catatan Sejarah Romawi Abad 7 M

thayyiba.com :: Catatan sejarah atau chronicle (disebut pula History of Heraclius) karya uskup dan sejarawan Armenia Sebeos, tidak diragukan lagi merupakan salah satu manuskrip terpenting untuk mengkaji sejarah Islam melalui sumber Barat. Sebeos diperkirakan hidup semasa dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Khulafa Ar-Rasyidin. Karyanya ini ditulis kira-kira pertengahan abad ketujuh masehi, bersamaan dengan masa Khulafa Ar-Rasyidin dalam peradaban Islam.

Chronicle karya Sebeos selain menjadi acuan bagi peneliti sejarah Byzantium di masa Heraclius, juga menjadi sumber primer bagi mereka yang mengkaji peradaban Byzantium dan Timur Dekat akhir abad kelima hingga tahun 661 M. Bahkan tulisannya ini seabad lebih tua dari chroniclenya Theophanes sejarawan yang merangkum peradaban Byzantium, lantaran Theophanes hidup di abad kedelapan masehi. Setidaknya Sebeos ini menjadi catatan berharga bagi para pengkaji sejarah disebabkan catatannya yang sudah sangat tua (lebih dari 13 abad). Di lihat dari masanya, karyanya ini lebih tua dari maghazi Ibnu Ishaq sekalipun.

Bagi para pemerhati sirah Nabawiyah, ternyata catatan Sebeos di bagian kedua merekam kebangkitan sejarah Islam yang timbul di masanya. Bahkan ia juga menyebut Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan sebutan pemimpin keturunan Ismail yang bernama “Mehmet”. Ia mengisahkan Romawi Byzantium di bawah pimpinan Heraclius berhasil merebut Edessa dan Armenia dari tangan imperium Persia. Sebeos mencatat, menjelang Byzantium merebut kota Edessa di Armenia, 12 suku Yahudi berbondong-bondong pergi ke Edessa.

Mereka sempat menguasai kota legendaris ini saat pasukan Persia sudah meninggalkan kota karena kalah perang melawan Byzantium. Orang-orang Yahudi pun menutup gerbang kota dan berkerumun di benteng kota. Ketika Romawi Byzantium tiba di Edessa, kaum Yahudi sadar mereka tidak bisa mempertahankan kota, akhirnya Byzantium pun bisa menguasai kota itu dengan mudah tanpa perlawanan dari kaum Yahudi. Kaum Yahudi sempat berunding dengan Byzantium serta menuntut perdamaian, walhasil disepakati kaum Yahudi untuk meninggalkan kota. Mereka pun hanya diusir oleh Heraclius.

Ternyata kaum Yahudi dalam perjalanannya tersebut pergi ke selatan, tepatnya ke wilayah Tachkastan (sebutan untuk wilayah Arab). Di sana kaum Yahudi bertemu dengan keturunan Ismail (bangsa Arab). Kendati terjadi pertemuan tetapi dikatakan, baik kaum Yahudi dan kaum Muslimin (Arab) tidak menemui kesepakatan lantaran perbedaan agama yang mereka anut. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun sempat disebut oleh catatan Sebeos itu, dengan sebutan ‘Mehmet’.

Sumber: berdakwah.net

About A Halia

A Halia

Check Also

Ajaran Sesat Yusuf Mansur (2)

Oleh: Thabrani Syabirin   Betapa pun sesatnya suatu ajaran atau keyakinan tetap saja ada pengikutnya. ...