Home / Artikel / Artikel Lepas / Dahsyatnya Corong Liberalisme Zaman Now

Dahsyatnya Corong Liberalisme Zaman Now

thayyiba.com :: Menyaksikan Ade Armando cs di Indonesia Lawyer Club (ILC), Selasa (19/12), kita jadi banyak belajar banyak hal. Ternyata sangat mudah menjadi corong kaum liberalis. Modalnya yang penting percaya diri, ngeyel bin ngawur dan merasa paling benar. Tidak masalah kalau tidak ada data yang penting kata-kata harus meyakinkan. Tidak masalah kalau tidak dapat menafsirkan Al-Qur’an dan Hadist, toh kita dapat menafsirkannya sesuai logika dan hawa nafsu kita. Intinya semua sah-sah saja, bebas-bebas saja dan semau kita berkata apa, toh itu hak kita.
Bahkan LGBT dan zina yang sudah jelas-jelas maksiat membawa bencana masih saja dibela dengan akal logika yang serba terbalik. Padahal sudah sangat gamblang dr. Dewi Inong memaparkan efek penghancur yang disebabkan oleh LGBT dan zina melalui data-data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Tapi nyatanya data tersebut hanya angin lalu bagi corong liberalis, tak dianggap dan tak penting. Jangankan terhadap fakta data yang ada di depan mata, bahkan terhadap apa yang telah dikabarkan oleh Al-Qur’an pun dapat dengan mudahnya mereka abaikan dengan menafsirkannya sekehendak akal dan hawa nafsu mereka. Na’udzubillah.

Begitulah karakter corong liberalis. Kebebasan di atas segalanya. Bagi mereka kebebasan adalah hak absolut setiap manusia. Maka tak heran jika Ade Armando bebas beropini ngawur dengan mengatakan gay bukan penyakit, memaksa tidak gay melanggar HAM, agama tidak secara jelas mengharamkan LGBT bahkan dengan percaya diri mempelintir tafsir Al-Qur’an. Maka bukan yang aneh juga jika Cania Citta gagal paham Pancasila karena bagi corong liberalis tak masalah tak beragama, bahkan Tuhan tak layak masuk kamar. Maka tak kaget juga jika kita menganggap corong-corong liberalis otaknya tak lagi ditempat.

Mungkin mereka menjadi tuli, bisu dan buta terhadap kebenaran karena telah merasakan manisnya kucuran dana sebagai balasan pembelaan mereka terhadap LGBT dan zina. Sebagaimana yang telah disampaikan Prof. Mahfud MD di ILC, pada akhir tahun 2015 diisukan ada dana sekitar US$180 juta, atau setara Rp2,4 triliun masuk ke Indonesia dari organisasi luar negeri untuk meloloskan zina dan LGBT boleh ada di Indonesia (viva.co.id, 20/12 ).

Ya, adanya kucuran dana tersebut membuktikan corong-corong liberalis tidak asal-asalan dalam menjajakan “jualan” mereka. Mereka bekerja dengan sistematis, terorganisir dan terencana dengan baik. Ibarat sales, mereka akan sebaik mungkin meyakinkan konsumen bahwa produk (LGBT dan zina) mereka adalah gaya hidup yang sah-sah saja di zaman now.

Bahkan mereka sadar betul keinginan big bos mereka bahwa LGBT dan zina adalah alat politik tuan-tuan kapitalis Barat untuk menjajah negeri muslim melalui industri hiburan kapitalis dan gaya hidup hedonis. Karena itu kita perlu mewaspadai dengan kucuran dana tersebut bukanlah hal yang tidak mungkin jika mereka dapat membeli suara para legislator untuk melegalkan mereka hidup di negeri tercinta ini.

Corong-corong liberalis yang zaman now lantang meneriakkan “Aku Pancasila” nyatanya hampir berhasil menghantarkan bangsa dan negeri tercinta ke jurang kehancuran dan kenistaan. Mereka dengan cantik mengajak generasi bangsa ini kelembah kemaksiatan tapi mereka lupa-lupa ingat dengan korban-korban mereka yang telah tercemar HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya mewabah di tengah masyarakat.

Habis manis sepah dibuang. Mereka juga mendadak amnesia ketika banyak bencana menghujam bumi ini sebaliknya mereka menjadikan alam sebagai kambing hitam. Mereka juga mendadak pikun ketika kepunahan generasi umat ini sedang dipertaruhkan akibat ulah mereka.

Dasyat bukan corong liberalis dalam mengemban dan menyebarkan virus liberalisme di tengah-tengah umat? Mereka penuh percaya diri, tak tahu malu dan penuh semangat menjauhkan umat dari ajaran Islam yang mulia. Tak peduli yang salah menjadi benar, yang benar menjadi salah. Tak peduli aturan agama melarang atau membolehkannya.

Jika corong liberalis dengan gencar dan tak tahu malu menjajakan produk mereka. Dengan berani menampakan diri, tanpa rasa malu mendukung LGBT dan zina serta berusaha menyebarkan virus liberalisme di tengah-tengah umat. Maka begitu pula kita sebagai pengemban risalah Ilahi, yang Allah Allah (اﷲ) Subhanahu wa Ta`ala menyebut kita sebagai umat terbaik. Sebagaimana firman Allah Allah (اﷲ) Subhanahu wa Ta`ala : “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran [3]: 110).

Maka sikap terbaik kita adalah berani membungkam mereka dengan kalimat yang haq. Membongkar agenda-agenda bathil mereka di hadapan umat. Karena sungguh baik LGBT, zina dan berbagai kemaksiatan yang ada serta berbagai sistem jahiliah yang mendukung eksistensinya tak layak hidup di bumi pertiwi kita.

Maka dibutuhkan pula sebuah sistem yang unik dan paripurna yang mampu mengakhiri semua strategi busuk kaum liberalis serta mematikan virus liberalisme yang diembannya. Sistem unik dan paripurna itu tidak lain adalah Islam yang berasal dari Al-Khaliq. Sistem yang membawa kebaikan dan kemuliaan bagi seluruh manusia jikalau diterapkan secara kaaffah dalam seluruh aspek kehidupan.

Jangan diam dan bersikap masa bodoh. Karena diamnya kita dan tak mau ambil pusing dengan virus liberalisme yang menjadi akar merebaknya LGBT dan zina secara tidak langsung kita sedang mendukung upaya mereka untuk meliberalisasikan negeri kita tercinta. Ingatlah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam (ﷺ) bersabda: ”Barangsiapa di antaramu melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tak sanggup, maka dengan lidahnya. Dan jika tak sanggup juga, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Rapatkan barisan lawan LGBT dan zina, musnahkan virus liberalisme, selamatkan generasi terbaik kita!.

Wallahu’alam bishshawwab.

Ummu Naflah
(Muslimah Peduli Generasi, tinggal di Tangerang)
Dipublikasikan pertama kali oleh suara-islam.com

 

About A Halia

A Halia

Check Also

3 Faktor Keberhasilan Generasi Sahabat Keluar dari Masa Jahiliyah

thayyiba.com :: Sebelum Islam datang, para sahabat hanyalah bagian dari bangsa Arab yang saat itu di ...