Home / Fashion / Beauty / Tentang Anting

Tentang Anting

Oleh : Inayatullah Hasyim

 

Anting di Telinga Wanita (foto : istimewa)
Anting di Telinga Wanita (foto : istimewa)

Pada mulanya, anting adalah tanda yang diberikan seorang tuan kepada budak wanitanya. Dengan kata lain, bila seorang wanita telah dilubangi daun telinganya, maka dia tak lagi menjadi manusia yang sempurna. Hidupnya menjadi milik orang lain. Tradisi ini dijalankan oleh orang-orang Yahudi sebelum Islam sebagaimana diterangkan dalam Injil, kitab Exodus 21:6.

Ketika Islam datang, tradisi melubangi daun telinga itu pun sudah ada di tengah masyarakat Arab. Hanya saja, anting telah berfungsi sebagai asesoris penghias kecantikan wanita. Tidak ada satu keterangan yang menyebutkan Rasulallah SAW melarang wanita memakai anting atau memerintahkannya.

Pernah, suatu hari, Rasulallah SAW menganjurkan para wanita berinfaq, dan mereka bersegera mencopot anting dari telinganya, lalu perhiasan itu dikumpulkan oleh Bilal bin Rabah.

Kisah lainnya, Aisyah menceritakan kepada Rasulallah bahwa suatu hari dia dan sepuluh orang wanita lainnya duduk-duduk bersama, lalu Ummu Abu Dzar, salah satu wanita dalam obrolan itu, mengatakan bahwa telinganya sampai berat membawa-bawa anting yang diberikan suaminya, Abu Dzar al-Ghifari.

Demi mendengar cerita Aisyah itu. Rasulallah SAW mengatakan, engkau bagiku seperti Abu Dzar pada Ummu Abu Dzar.

Dua kisah di atas kemudian melahirkan ihktilaf di kalangan para ahli fiqh, apakah hukum memakai anting?

Menurut madzhab Hanafi dan Hanbali, hukum memakai anting adalah sunnah sebab sesuatu yang tidak dilarang Rasulallah SAW adalah bentuk “sunnah taqririyah” atau “persetujuan Nabi” atas suatu hal.

Sementara, madzhab Syafii tidak menganjurkan menggunakan anting. Bahkan cenderung melarangnya. Sebab, menurut pendapat madzhab ini, melukai anggota tubuh untuk berhias adalah perbuatan yang menganiaya dan menyebabkan dosa. Kaitannya dengan kisah Aisyah di atas tak ada penjelasan apapun tentang anjuran Rasulallah SAW memakai anting. Ucapan Nabi SAW lebih menunjukan bahwa beliua SAW mencintai Aisyah seperti Abu Dzar mencintai isterinya.

Jadi, memakai anting adalah pilihan. Dan, nampaknya, untuk urusan yang satu ini, para wanita kita lebih memilih menggunakan madzhab Hanafi ketimbang madzhab Syafii. Padahal (dulunya) anting adalah lambang perbudakan bahwa wanita itu milik majikannya.

Pasti ada wanita yang mau bilang, “Wanita memang senang dimilki seutuhnya kok Pak…” hehe…. itu sih lain bab pembahasannya.

Salam: Inayatullah Hasyim ● twitter: @inayatullah_has ● facebook: inayatullah hasyim ● telegram: @inayatullahhasyim ● instagram: @inayat4 ● email: inayat4@yahoo.com

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Manfaat daun Sirih untuk kesehatan dan kecantikan

thayyiba.com :: Banyak sekali manfaat daun sirih yang bisa kita ambil, terlebih daun ini mudah ...