Home / Artikel / Artikel Lepas / Ibadah Haji dengan Selfie

Ibadah Haji dengan Selfie

thayyiba.com ::

Selfie secara harfiah seringkali diartikan sebagai aktivitas memotret diri sendiri atau narsisme. Jika ditelusuri lebih dalam, pengertian ‘Selfie’ menurut referensi pustakawan Britania adalah “sebuah pengambilan foto diri sendiri melalui smartphone atau webcam yang kemudian diunggah ke situs web media sosial.” (definisikata.com)

Perbuatan itu dipandang mengandung unsur pamer atau bahkan riya’, yang kalau sampai pada taraf itu maka sangat membahayakan bagi pelakunya. Karena riya’ itu termasuk dosa besar, syirik kecil yang menghancurkan pahala amal. Sedangkan ibadah haji itu seharusnya hanya untuk Allah Ta’ala.

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ        

وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah….

dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya. (QS Al-Baqarah: 196).

Laman Al-Faedah berbahasa Melayu mengutip Arabnews memberitakan, Seorang ulama terkemuka Arab Saudi menasihati jemaat agar tidak melakukan selfie saat menunaikan ibadah haji.
Portal berita arabnews.com melaporkan ulama terkenal dari Saudi, Sheikh Abdul Razzaq Al-Badr mengatakan, Allah memerintahkan jemaah haji agar menunaikan ibadah itu tanpa riya’ dan tidak memamerkannya kepada orang lain.

“Ketika Rasulullah SAW tiba di miqat, beliau bersabda:” Allah memerintahkan ibadah haji dilakukan tanpa riya’ dan tidak dipublikasikan kepada publik. ”

Wahyu itu disampaikan ketika beliau tiba di miqat diikuti dengan tindakan dan praktek membersihkan rohani.

“Jemaah haji sekarang gemar mengambil gambar ketika tiba di miqat. Tidak hanya itu, mereka juga mengambil gambar saat melakukan tawaf, saat bermalam di Padang Arafah dan saat melempar jumrah,” katanya.

Katanya, tindakan itu tampaknya menunjukkan tujuan mereka datang ke Mekah adalah untuk mengambil gambar dan bukan untuk beribadah.

“Bila mereka pulang, mereka akan berkata ‘Mari lihat gambar saya ketika saya berada di Arafah, ini pula gambar saya saat berada di Muzdalifah,’ ‘jelas Sheikh Abdul Razzaq.

Tambahnya, jemaah juga mengambil gambar secara selfie dengan berbagai gaya seperti sedang berdoa, terlihat merendah diri serta merasa takut dan tenang, namun setelah gambar direkam, mereka akan menurunkan tangan mereka kembali.

Rekaman selfie oleh selebriti Ellen DeGeneres pada acara Penghargaan Oscar tahun ini, menjadi terkenal dan dibicarakan di seluruh dunia dan belakangan ini, jemaah yang mengunjungi dua masjid suci di Arab Saudi juga tidak mau ketinggalan mengikuti budaya saat itu, meskipun bertentangan dengan praktek Islam.

Ulama terkemuka Sheikh Saleh Al-Fauzan menegaskan mengambil gambar ketika berada di dalam Masjidil Haram adalah perbuatan yang tidak bisa diterima. (MEKAH 30 Sept, al-faedah).

Yang paling dikhawatirkan oleh Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam.

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ قَالَ الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling ditakutkan dari apa yang saya takutkan menimpa kalian adalah asy syirkul ashghar (syirik kecil), maka para shahabat bertanya, apa yang dimaksud dengan asy syirkul ashghar? Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ar Riya’.” (HR. Ahmad dari shahabat Mahmud bin Labid no. 27742)

Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ الرِّيَاءُ ، يَقُوْلُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا جَزَى النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ : اذْهَبُوْا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاؤُوْنَ فِيْ الدُّنْيَا ، فَانْظُرُوْا هَلْ تَجِدُوْنَ عِنْدَهُمْ جَزاَءً ؟!

“Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari Kiamat tatkala memberikan balasan atas amal-amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ kepada mereka di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?” [HR Ahmad, V/428-429 dan al Baghawi dalam Syarhus Sunnah, XIV/324, no. 4135 dari Mahmud bin Labid. Lihat Silsilah Ahaadits Shahiihah, no. 951]

Doa untuk dijauhkan dari syirik

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita do’a yang dapat menjauhkan kita dari perbuatan syirik besar dan syirik kecil.

عَنْ أَبِي عَلِيٍّ – رَجُلٍ مِنْ بَنِي كَاهِلٍ – قَالَ: «خَطَبَنَا أَبُو مُوسَى الْأَشْعَرِيُّ فَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ; فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ. فَقَامَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حَزْنٍ، وَقَيْسُ بْنُ الْمُضَارِبِ، فَقَالَا: وَاللَّهِ، لَتَخْرُجَنَّ مِمَّا قُلْتَ، أَوْ لَنَأْتِيَنَّ عُمَرَ مَأْذُونًا لَنَا، أَوْ غَيْرَ مَأْذُونٍ. فَقَالَ: بَلْ أَخْرُجُ مِمَّا قُلْتُ، خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: ” يَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا هَذَا الشِّرْكَ ; فَإِنَّهُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ “. فَقَالَ لَهُ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ: وَكَيْفَ نَتَّقِيهِ، وَهُوَ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟! قَالَ: ” قُولُوا: اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ، وَنَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لَا نَعْلَمُهُ».

رَوَاهُ أَحْمَدُ، وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ

Diriwayatkan oleh Al Imam Ahmad dan At Thabrani dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai manusia takutlah akan Syirik ini, sesungguhnya ia lebih tersamar dari pada semut. Maka seseorang yang Allah kehendaki berkata kepada beliau: “Bagaimana kami merasa takut dengannya sementara ia lebih tersamar daripada semut ya Rasulallah? Maka berkata Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : ” Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إناَّ نَعُوذُ بِكَ مِنْ أَنْ نُشْرِكَ بِكَ شَيْئًا نَعْلَمُهُ, وَ نَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ نَعْلَمُه

“Ya, Allah! Sesungguhnya kami berlindung kepada-Mu dari perbuatan syirik yang kami ketahui. Dan kami memohon ampunan kepada-Mu dari dosa (syirik) yang kami tidak mengetahuinya.” (HR Ahmad dan At-Thabrani/ Shahih At-Targhib wat-Tarhib).

Berhaji dijanjikan ampunan dan surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَتَى هَذَا الْبَيْتَ، فَلَمْ يَرْفُثْ، وَلَمْ يَفْسُقْ، رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ» رواه مسلم

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang datang ke Baitullah (untuk haji) lalu tidak berkata kotor dan tidak menyalahi aturan Allah, maka dia kembali sebagaimana baru terlahir dari rahim ibunya.” ( H.R.Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«جِهَادُ الْكَبِيرِ وَالضَّعِيفِ وَالْمَرْأَةِ :الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ» (رواه النسائي بإسناد حسن)

“Jihadnya orang tua, lemah dan wanita adalah haji dan umrah” (HR.an-Nasaai dengan sanad hasan)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا. وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ». ) رواه البخاري ومسلم والترمذي وغيرهم(

“Dari umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada pahala baginya kecuali surga.” (HR.Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan selainnya)

Di antara tandanya, menurut Hasan Al-Bashri adalah zuhud (membatasi diri, tidak loba) terhadap dunia, tapi cinta (amalan-amalan untuk) akhirat.

وقال الحسن البصري رحمه الله: “الحج المبرور أن يرجع زاهداً في الدنيا، راغباً في الآخرة”.

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Haji mabrur itu kalau dia kembali dalam keadaan zuhud (tidak loba, membatasi diri) terhadap dunia, tapi mencintai akherat.” (Lathoiful Ma’arif, Ibnu Rajab)

Berhaji ada yang meraih dunia akhirat dan ada yang dunia saja

{ فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوا اللَّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ (200) وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (201) أُولَئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ} [البقرة: 200 – 202]

  1. apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Rabb Kami, berilah Kami (kebaikan) di dunia”, dan Tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.
  2. dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Rabb Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah Kami dari siksa neraka”[127].
  3. mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya. (QS Al-Baqarah: 200-202).
[126] Adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat ini diturunkan maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

[127] Inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang Muslim.

Kalau tidak hati-hati, kebiasaan Arab Jahiliyah yang tadinya membangga-banggakan nenek moyangnya itu akan diulang kembali dengan aneka modifikasi, di antaranya adalah membanggakan diri sendiri dengan aneka bentuknya, salahsatunya adalah melakukan selfie demi memantapkan dalam bernarsis ria.

Sementara itu yang mengikuti aturan haji tanpa melanggar aturan-aturan, baik secara lahir maupun batin sehingga benar-benar ikhlas karena Allah Ta’ala, maka mereka pulang dari Baitullah bagaikan bayi yang sedang dilahirkan oleh ibunya, seperti dalam Hadits Shahih riwayat Imam Muslim tersebut di atas. Bersih dari dosa. Bahkan bila hajinya mabrur maka pahalanya jelas-jelas adalah surga.

Sebaliknya, mereka yang bernarsis ria dengan melakukan selfie dan lainnya, wallahu a’lam. Bagaimana pula bila yang dibawa pulang bukannya pahala dan bersihnya dari dosa namun hanya kebanggaan semu tak bermakna. Lebih dari itu semoga saja tidak sampai menggondol dosa besar dan hapusnya amal.

Di situlah letaknya, kenapa sampai ulama terkemuka pun angkat bicara untuk mengingatkan haji sedunia masalah selfie dalam berhaji ini. Karena selfie dalam berhaji dapat merusak amal sekaligus menjerumusan pelakunya ke arah mengikuti langkah-langkah syaitan. Sedangkan syaitan tidak akan menunjuki kecuali jalan ke neraka. Itulah persoalan pokoknya.

 

 

Oleh : eramuslim.com

About A Halia

A Halia

Check Also

Penguasa Itu Cerminan Kita

thayyiba.com :: Tidak cukupkah bagi kita kekacauan yang ditunjukkan oleh penyelenggara negara ini? Entah kapan selesainya ...