Home / Sastra / Kisah Nyata / Kisah Nyata : Rezeki tidak akan tertukar

Kisah Nyata : Rezeki tidak akan tertukar

thayyiba.com :: TOKO BANGUNAN KITA JAYA. Suatu hari saya memanggil Tukang Rumah untuk melakukan beberapa perbaikan untuk rumah kami. Sewaktu saya tanya dimana ya toko bahan bangunan yg lengkap, bagus dan murah?

Lalu si Tukang tadi menjawab “kalo biasanya sih orang2 disini belanja di Toko Kita Jaya pak.”

Beberapa kali kami merenovasi rumah dan berganti tukang yang mengerjakannya, jika di tanya selalu menjawab berbelanjanya sebaiknya di TB. Kita Jaya.

Jadilah kami berbelanja disana, ya memang harganya relatif murah dan bersaing, orangnya ramah dan mau memberikan penjelasan lengkap setiap ditanya, barang boleh tukar jika tidak cocok. Cuma sayangnya satu. Toko itu hanya buka setengah hari, padahal para pembelinya sangat banyak sekali.

Jika pemiliknya di tanya mengapa ia hanya buka setengah hari, jawabannya selalu, “iya setengah hari aja buka tokonya pak sudah cukup kok pak” sambil tersenyum ramah.

Penasaran dengan apa yg terjadi dengan toko bahan bangunan Kita Jaya, lalu satu per satu dari tukang yang kerja di tempat kami tanyai mengapa kita Jaya yang laris itu hanya buka setengah hari.

Baru kemarinlah saya dapat jawabannya, dari seorang tukang yang biasa bekerja untuk rumah-rumah di komplek kami.

“Ia pak, Toko Kita Jaya itu suka memberikan bonus pada para tukang yang merekomendasikan belanja disana, tapi harganya masih tetap lebih murah dari toko lain. Jawab pak Tukang Bangunan.

“Terus mengapa ia Cuma buka setengah hari..?”. Tanya saya lagi.. “Karena menurut dia biar bisa bagi-bagi rezeki dengan toko bangunan lainnya pak”. kata si Pak Tukang.

“Tapi meskipun buka setengah hari karena banyaknya order, toko tersebut kalo mengirim barang ke konsumen bisa sampai sore hari.” Jawab pak Tukang Bangunan lagi.

Wow..!!! menarik sekali penjelasannya. Sungguh seorang pengusaha yang luar biasa bijaksana dan baik hati. Pikir saya.

Meskipun tokonya paling laris ia tetap berpikir untuk berbagi rezeki dengan toko lainnya dan meskipun ia berbagi rezeki tapi tokonya tetap yang paling laris.

Dengan penuh penasaran suatu ketika saya belanja sendiri disana, tiba-tiba saya tanya pada si pemiliknya. Dan jawabannya lebih kurang sama seperti si pak tukang bangunan.

Hanya di tambah sedikit; katanya begini;

“Wah nyari uang kalo diikutin terus mah gak ada habisnya pak, jadi buat saya ½ hari kerja udah cukup, sisanya buat keperluan yang lain-lain, termasuk keluarga.”

Lalu iseng-iseng bertanya untuk mencari tahu lebih jauh;

“ Koh kalo tokonya cuma buka setengah hari dan Koko membiarkan mereka belanja di Toko Sekitar sini apa gak takut nanti pelanggannya pada lari ke toko lain…?” Tanya saya memancing.

Mengapa saya mengajukan pertanyaan ini? karena biasanya kebanyakan toko-toko tidak akan mau pelanggannya lari ke tempat pesaing mereka. Semisal saja kita sedang mencari barang di tokonya kemudian tidak tersedia, dan ketika kita tanya kira-kira toko mana ya yang ada barang seperti ini. Pasti jawabannya, “Wah… Tidak Tahu ya…pak”

Tapi rupanya agak berbeda dengan toko ini, waktu saya tanya tentang kemungkinan usahanya mundur karena persaingan, si pemiliknya malah menjawab dengan santai;

“Ya kalo pelanggan saya lari ke toko sebelah itu artinya ada yang masih kurang bagus dan perlu di perbaiki dengan pelayanan di toko saya.”

Lalu dia menambahkan lagi; ” Tapi selama ini sih menurut pengalaman saya biarpun saya sering tunjukin untuk belanja di toko lain, pelanggan saya sebagian besar belanjanya tetap kembali lagi ke sini…”. Jawabnya sambil santai dan tersenyum ramah.

Satu lagi pelajaran berharga bagi saya tentang arti kebijaksanaan dari seorang pengusaha bahan bangunan yang baik hati.

Mungkin Dr Arun Gandhi benar dengan ucapannya bahwa;

“Orang Bijaksana pasti pintar dan orang Pintar belum pasti Bijaksana”.

“Orang pintar mengarahkan pikirannya untuk meraup keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya sementara orang bijaksana berusaha untuk membuat semua orang beruntung.”

Siapa saja yang beruntung dalam hal ini?

Tentunya Pembeli, Pemilik Toko, Para Tukang Bangunan, dan Toko-toko di sekitarnya dibuat merasa beruntung dan berjaya persis seperti nama tokonya KITA JAYA, kita semua merasa berjaya!

Sebuah kisah sederhana ini mengajak kita untuk merenungkan sejenak tentang makna dalam mencari rejeki. Apakah dalam mencari ada keinginan untuk membagi rejeki kita bersama orang lain? Ataukah kita ingin mencari rejeki sebanyak-banyaknya dan menikmatinya sendiri?

Sudahkah kita bijaksana dalam hal ini? Dan sudahkah kita memikirkan orang lain serta mau berbagi rejeki untuk orang lain?

Mari kita renungkan bersama…

 

Oleh : Alifah Sulistia Ningsih

About A Halia

A Halia

Check Also

Tips Jitu Meraih Sholat Khusyuk

Thayyiba.com :: “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya,” (QS. Al Mu’minuun ...