Home / Artikel / Artikel Lepas / Memaksa Diri untuk Istiqomah

Memaksa Diri untuk Istiqomah

Ilustrasi. (inet)
Ilustrasi. (inet)

thayyiba.com :: Menyibak aroma wangi Ramadhan kemarin, mengupas amalan-amalan unggulan yang bisa kita persembahkan. Ada rasa nyaman menelisik di hati, ada jiwa tenang yang pernah merasai. Sungguh memang indah saat ruh dan jiwa ini dekat dengan Tuhan-nya.

Lalu apakah kita akan beranjak dari kemesraan yang indah dengan Allah? Seperti perginya Ramadhan ini?

Jangan biarkan semua hilang begitu saja. Jangan hilangkan sisa-sisa kenyamanan hati. Bertanyalah kepada hati nurani kita, dengan apa kita bisa merasakan kenyamanan itu lagi?

Dengan memaksakan diri, membiasakan kembali berbuat kebaikan. Membiasakan dan mengistiqamahkan diri kita. Pasti awalnya memang berat, dan perlu tenaga besar saat putaran pertama. Mumpung masih tersisa semangat Ramadhan itu, maka coba bangkitkan lagi dan kuatkan lagi untuk terus berputar dalam alur kebaikan. In syaa Allah, semua akan diberi kemudahan oleh Allah.

Saat kita memaksakan diri dan hati untuk istiqamah, memang berat, terkadang merasa yang kita lakukan tidak ada rasanya. Merasa beratnya memulai sholat malam lagi, padahal saat Ramadhan kita bisa menjaganya dan bahkan rutin melakukannya. Beratnya tilawah Al Quran, padahal saat Ramadhan kita mampu menembus beberapa kali khatam. Padahal saat kita mampu memaksakan diri dan merutinkan, ada perasaan nyaman dan indah di kalbu. “Saat hati seseorang bersih, maka ia tidak akan puas membaca Al Quran,” itulah ungkapan Umar bin Khattab ra.

Begitulah amalan yang rutin dilakukan, tenaga awalan yang besar atau mujahadah itu hasilnya pasti indah di kalbu. Kita akan merasa berat meninggalkan amalan yang telah membuat kita akrab dengan Allah.

Allah sangat mencintai hambaNya yang merutinkan amalan-amalannya. Meski itu sedikit, bahkan hanya sebesar biji zarrah. Allah sangat jeli dengan setiap amalan kita, dan akan diberikan-Nya balasan yang paling indah dari setiap amalan yang ikhlas dan terus dilakukan.

Bahkan bila kita telah merasakan indahnya amalan itu, kita bisa merasakan seperti orang yang kehilangan harta yang sangat berharga saat tidak melakukannya. Luar biasa bukan?

Jangan biarkan diri berada dalam kefuturan, dalam keimanan yang terus menurun. Bangkitlah dan kuatkan lagi keimanan itu. Karena kefuturan itu merugikan kita dan menjadikan kita berat menapaki jalan kehidupan ini. Bagaimana tidak? Saat futur, kita akan merasa beban itu hanya kita saja yang menanggung dan menyelesaikan, padahal ada Allah yang mampu menyelesaikannya. Dalam persaudaraan kita akan merasakan kekeringan ukhuwah, pada iman kita yang sedang mengerdil. Dan muamalah kita merasa selalu rugi, karena boleh jadi itu peringatan Allah agar kita kembali padaNya. Dalam munajat dan indahnya amalan yang kita persembahkan padaNya.

Maka jangan menunda untuk menyemangati dan memaksa diri melakukan kebaikan-kebaikan itu. Seperti yang diungkapkan oleh Ibnu Quddamah dalam bukunya mukhtasar minhajil qashidin.”Jangan menunda-nunda tanpa melakukan persiapan untuk kematian. Umur kita sangat singkat. Jadikanlah setiap tarikan nafas adalah udara terakhir yang kita hirup. Lalu kematian akan menjemputmu. Kematian seseorang akan terjadi dalam keadaan di mana ia biasa melakukan sesuatu ketika hidup. Dan ketika dibangkitkan di akhirat maka ia juga akan dibangkitkan dalam situasi itu juga.”

Dan Allah itu adalah pencemburu, “Sesungguhnya Allah cemburu dan seorang mukmin juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmkn melakukan apa yang dilarang-Nya.”(Haduts Riwayat Bukhori – Muslim). Cemburu bila hamba-Nya jauh dan menghindar dari amalan yang selama ini biasa dilakukan. Cemburu bila hambaNya lebih mementingkan yang lainnya dibanding urusannya dengan Allah.

Mohonlah kepada Allah agar kita diberikan keringanan langkah dan hati dalam melakukan ketaatan. Untuk lebih mengutamakan Allah dan ibadah-ibadah yang akan lebih mendekatkan kita padaNya. Bermunajat kepada Allah agar diberi kemudahan dalam melakukan kebaikan-kebaikan. Agar senantiasa dimudahkan dan dikuatkan dalam keistiqamahan.

“Barangsiapa yang menginginkan pertemuan dengan Allah. Maka Allah pun menginginkan pertemuan dengannya. Barangsiapa yang enggan bertemu dengan Allah maka Allah tidak suka bertemu dengannya.” (Hadits Riwayat Ahmad)

Semoga kita adalah orang-orang yang selalu merindukan bersama Allah dan kita yang selalu dirindukan oleh Dzat yang memiliki diri kita. Maka paksakan diri, lipat gandakan  tenaga untuk melakukan kebaikan dan amalan yang mampu mendekatkan kita dengan Allah. Maka nikmatNya akan memenuhi diri dan relung hati kita. Selalu berdoa dan memohon agar diri dikarunai keistiqamahan dalam mencintaiNya meski apapun yang terjadi. (dakwatuna.com/hdn)

About A Halia

A Halia

Check Also

Membatalkan Puasa Tanpa Alasan, Begini Siksaannya di Akhirat Kelak

    thayyiba.com :: Di tengah kehidupan tanpa adanya sistem pemerintahan yang mau mengakomodir nilai-nilai syariat ...