Home / Artikel / Politik / Partai Allah dan Partai Setan*

Partai Allah dan Partai Setan*

Oleh Prof. DR. Rifyal Ka’bah, M.A.**

Prof. Dr. Rifyal Ka’bah (foto : tridaya)

“Berserah diri dan bertaqwalah kepada-Nya. Tegakkanlah shalat dan jangan menjadi orang musyrik. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka menjadi kelompok-kelompok. Setiap partai bangga dengan apa yang ada padanya.” (Ar-Ruum 30-32).

“Barangsiapa yang mengangkat Allah, Rasul dan orang-orang beriman sebagai pemimpin, maka sesungguhnya Partai Allah lah yang akan menang.” (Al-Maidah 56).

“Mereka diperdaya setan sehingga menjadi lupa mengingat Allah. Mereka adalah Partai Setan. Ketahuilah bahwa Partai Setan adalah kelompok yang merugi.” (Al-Mujadalah 19).

Hizb (partai) adalah sebuah kata asli Arab yang digunakan dalam al-Qur’an. Secar bahasa, ‘hizb’ berarti tanah kasar yang keras (al-ardh al-ghalizhah asy-syadidah), tetapi juga digunakan untuk menunjukkan sebuah kelompok yang mempunyai kekuatan dan kekentalan (Mu’jam al-Wasith I, hlm. 170). Partai dalam al-Qur’an adalah pengertian kedua ini.
Karena itu, lexicograper al-Qur’an terkenal, al-Ashfahani, mendefinisikan ‘hizb’ sebagai sebuah kelompok yang di dalamnya terdapat kekentalan-kekentalan (jama’ah fiha ghilazh) [al-Mufradat, hlm. 114].

Partai (hizb) dalam bahasa Arab modern berasal dari pengertian kuno seperti ini, yang sudah dipahami oleh bangsa Arab sejaj beratus-ratus tahun. Sekarang ini, disejumlah negara Arab terdapat ‘Hizb al-Ba’ts’ (Kebangkitan), ‘al-Hizb al-Isytiraki’ (Partai Sosialis), dan ‘al-Hizb asy-Syuyu’i’ (Partai Komunis). Semuanya adalah dalam pengertian kelompok-kelompok politik yang mempunyai unsur-unsur kekentalan ajaran dan ideologi.

Partai sebagai sebuah kelompok yang ‘solid’, menurut al-Qur’an, mempunyai kecenderungan bangga dengan dirinya sendiri. Umat Islan sepatutnya menjadi sebuah umat yang bersatu dan tidak terbagi-bagi kepada partai-partai yang saling berbangga dengan ciri partainya. Ciri Islam adalah persatuan. Allah mengatakan bahwa umat Islam adalah sebuah umat yang esa dan Tuhan umat ini adalah Tuhan Yang Esa, yaitu Tuhan satu-satunya yang patut disembah dan ditakuti [al-Mu’minun 52-53]. Allah itu Esa. Agama yang diturunkannya Esa. Umat manusia juga esa karena diciptakan oleh Allah Yang Esa. Sifat keesaan ini berasal dari ciptaan Allah. Segalanya telah dirancang dengan rapi dan rancangan ini tidak dapat tidak ditukar atau diganti. Umat diminta untuk berserah diri dan bertaqwa kepada Allah, menegakkan shalat, dan tidak menjadi orang-orang musyrik. Sifat orang musyrik adalah berpartai-partai dan memecah-belah agama. Setiap pengikut partai bangga dengan partainya [Ar-Rum 30-32].

Umat Islam sepatutnya hanya mempunyai satu partai, yaitu Partai Allah (‘Hizbu ‘llah’). Ciri partai Allah adalah mengangkat Allah, Rasul dan orang beriman sebagai ‘waliy’ (pemimpin) [al-Maidah 5: 56]. Dengan demikian, Partai Allah sebenarnya adalah sebuah partai orang beriman yang menjadikan Allah dan Rasul sebagai pemimpin atau pedoman dalam program partai demi mencapai tujuannya.

Lawan dari Partai Allah adalah Partai Setan (‘Hizb asy-Syaithan’). Partai Allah mengajak orang ke jalan Allah, sementara Partai Setan mengajak orang melupakan Allah. Karena berada di jalan yang salah, Partai Setan akhirnya akan kalah melawan Partai Allah yang berada di pihak yang benar. Al-Qur’an mengingatkan orang beriman bahw setan itu adalah musuh mereka dan melarang mereka dan melarang mereka untuk menjadikannya sebagai pemimpin [al-Mujadalah 19]. Partai Setan akan mengajak orang beriman untuk menjadi penduduk neraka [Fathir 6].

Kata partai dalam al-Qur’an juga digunakan dalam bentuk jamak (‘ahzab’). Salah satu surah al-Qur’an dinamakan ‘al-Ahzab’, yaitu sebuah koalisi atau konfiderasi beberapa partai setan yang sepakat untuk menghancurkan Partai Allah pada masa permulaan Islam. Mereka terdiri dari; (1) kelompok kafir Quraisy; (2) kelompok Yahudi Banu Nadhir yang terusir dari Madinah; (3) kelompok Banu Quraizhah di Madinah; dan (4) kelompok Ghathfan, sebuah suku Badui dari pedalaman jazirah Arab. Mereka tidak hanya berkoalisi sebagai partai garis keras, tetapi juga membentuk sebuah konfiderasi militer yang mencoba menyerang Negara Madinah. Serangan dengan lebih kurang 10.000 pasukan konfiderasi militer ini dilakukan pada Bulan Syawal dan Dzu al-Qaidah tahun 5 Hijrah. Sejarah membuktikan bahwa partai-partai setan ini mengalami kekalahan dalam perang melawan Partai Allah.

Mengikuti pemahaman di atas, partai politik Islam adalah cerminan dari Partai Allah dalam Partai Setan. Sesuai dengan sifat Islam yang cenderung kepada kesatuan dan persatuan, untuk menyatukan derap langkah dan tujuan, sepatutnya dalam sebuah bangsa dalam pengertian modern hanya ada satu partai Islam. Bila kondisi ini tidak mungkin diwujudkan karena beberapa pertimbangan yang masuk akal, beberapa partai politik Islam dapat berdiri, tetapi AD, ART dan khittah perjuangannya harus selalu mencerminkan landasan Partai Allah, dan bukan sebagai Partai Setan yang membawa umat ke neraka.
____________________

*Bunga Rampai Pemikiran
Partai Allah, Partai Setan, Agama Raja, Agama Allah.
Penerbit Suluh Press, Yokyakarta, 2005.

**Guru Besar Hukum Islam dan mantan Hakim Agung R.I.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Anies: Indonesia Tidak Didirikan untuk Mayoritas dan Minoritas

Anies di Pengukuhan Forum Komunitas Ustazah. (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan) thayyiba.com :: Isitlah mayoritas dan minoritas di ...