Home / Sastra / Essai / Bulu Kemoceng dan Fitnah

Bulu Kemoceng dan Fitnah

Kemoceng (Foto : istimewa)

 

Seorang murid meminta maaf kepada gurunya yang telah difitnahnya.

Mendengar itu Sang guru hanya tersenyum sambil bertanya

“Apa kau serius?”

“Saya serius, Guru” jawab sang murid.

Guru terdiam sejenak, lalu bertanya, “Apakah kamu punya sebuah kemoceng ?”

“Ya Guru, saya punya. Apa yang harus saya lakukan dengan kemoceng itu?”

“Berjalanlah berkeliling lapangan sambil mencabuti bulu-buku kemoceng itu. Setiap kali kamu mencabut sehelai bulu, ingat-ingT perkataan burukmu tentang aku, lalu jatuhkan di jalanan yang kamu lalui”

Esoknya, sang murid menemui Guru dengan sebuah kemoceng yang sudah tak memiliki sehelai bulu pun.

“Guru, bulu-bulu kemoceng ini sudah saya jatuhkan satu per satu sepanjang perjalanan. Saya berjalan lebih dari tiga kilo sambil mengingat semua perkataan buruk saya tentang guru. Maafkan saya, guru….”

Sang guru terdiam sejenak, lalu berkata, “Kini pulanglah dengan kembali berjalan kaki dan menempuh jalan yang tadi kamu lalui.”

Di sepanjang jalan kepulanganmu, pungutlah kembali bulu-bulu kemoceng yang tadi kau cabuti satu per satu. Esok hari, laporkan kepadaku berapa banyak bulu yang bisa kamu kumpulkan.”

Sepanjang perjalanan pulang, sang murid berusaha menemukan bulu-bulu kemoceng yang tadi dilepaskan di sepanjang jalan. Hari yang terik. Perjalanan yang melelahkan. Betapa sulit menemukan bulu-bulu itu.

Bulu-bulu itu tentu saja telah tertiup angin, atau menempel di bangunan-bangunan atau tersapu ke tempat yang kini tak mungkin ia ketahui.

Sang murid terus berjalan berjam-jam, dengan pakaian yang dibasahi keringat. Nafasnya terasa berat. Tenggorokannya kering. Hanya lima helai bulu kemoceng yang berhasil ditemukan di sepanjang perjalanan.

Hari berikutnya sang murid menemui sang guru dengan wajah yang murung.

“Guru, hanya ini yang berhasil saya temukan.” Disodorkannya lima bulu kemoceng ke hadapan sang guru.

“Kini kamu telah belajar sesuatu,” kata sang guru.

“Apa yang telah aku pelajari, guru?”

“Tentang fitnah-fitnah itu,” jawab sang guru.

“Bulu-bulu yang kamu cabuti dan kamu jatuhkan sepanjang perjalanan adalah fitnah-fitnah yang kamu sebarkan. Mereka dibawa angin ke mana saja, ke berbagai tempat yang tak bisa kamu duga. Itu telah menjadi dosa yang terus beranak-pinak tak ada ujungnya. Meskipun aku atau siapa pun saja yang kamu fitnah telah memaafkanmu sepenuh hati, fitnah-fitnah itu terus mengalir hingga kau tak bisa membayangkan ujung dari semuanya. Bahkan meskipun kau telah meninggal dunia, fitnah-fitnah itu terus hidup karena angin waktu telah membuatnya abadi. Maka kamu tak bisa menghitung lagi berapa banyak fitnah-fitnah itu telah memberatkan timbangan keburukanmu kelak. Itulah sebabnya kenapa Alqur’an mengingatkan, fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan.”

Sang murid hanya menunduk, merenung.[]

 

(Artikel diambil dari WAG tanpa disebutkan penulis dan sumber tulisan)

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Kitab Maulid Barjanzi

Oleh : Abdul Syakur Dj     Boleh dibilang, Maulid Barjanzi adalah kitab yang paling ...