Home / Catatan / Catatan Lepas / KATA DENGAN DUA SUKU KATA DALAM AL-QUR’AN

KATA DENGAN DUA SUKU KATA DALAM AL-QUR’AN

Oleh : Inayatullah Hasyim

(Dosen Universitas Djuanda Bogor)

 

Al Qur’an (Foto : MizanStore)

 

Jika kita perhatikan, di dalam al-Qur’an, ada sejumlah kata yang terdiri dari dua suku kata yang diulang. Mari kita perhatikan bersama:

  1. Kata “صرصر” dalam firman Allah SWT berikut ini:

وَأَمَّا عَادٌ فَأُهْلِكُوا بِرِيحٍ صَرْصَرٍ عَاتِيَةٍ

“Sedangkan kaum ‘Ad, mereka telah dibinasakan dengan angin topan yang sangat dingin”, (QS al-Haaqah: 6)

Kata صرصر di ayat tersebut umumnya diterjemahkan sebagai “angin topan”, walaupun — menurut saya — tidak seratuspersen tepat. Mengapa? Sebab, semua kata yang terdiri dari dua suku kata seperti itu menunjukan peristiwa yang terulang bolak-balik terus menerus. Terjemahan “angin topan” punya pemahaman, angin yang bertiup kencang dalam satu arah. Misalnya, angin yang bertiup dari arah barat ke arah timur dengan kecepatan tinggi.

Semestinya, صرصر itu berarti angin bertiup bolak-balik menimpa kaum ‘Ad. Jadi, dia bukan sekedar angin topan, tetapi (mungkin) angin puting beliung yang memporak-porandakan. Sedemikian kencangnya angin itu bertiup sehingga, di ayat selanjutnya, Allah menegaskan:

فَهَلْ تَرَىٰ لَهُم مِّن بَاقِيَةٍ

“Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” (Al-Haqqah: 8)

  1. Contoh lain adalah kata زلزال dalam firman Allah SWT,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat”, (QS al-zilzalah 1).

Kata “زلزال” juga menunjukan proses dari dua arah. Yaitu, apabila bumi diguncangkan dengan gempa yang menggoyang keras. Tentu, gempa itu terjadi dengan “sekali goyang ke kanan, sekali bergoyang ke kiri”. Dalam bahasa Indonesia, kita suka bilang “zigzag” untuk orang yang berkendara meliuk-liuk ke kanan dan kiri.

  1. Kata yang lebih dahsyat dari زلزال adalah kata دمدم dalam firman Allah SWT,

فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُم بِذَنبِهِمْ فَسَوَّاهَا

“Namun mereka mendustakannya dan menyembelihnya, karena itu Tuhan membinasakan mereka karena dosanya, lalu diratakan-Nya (dengan tanah)” (QS As-Syams: 14).

Pada ayat itu, Allah membinasakan kaum Nabi Shaleh dengan cara lebih dahsyat dari sekedar gempa (زلزال). Yaitu dengan diruntuhkan bangunan rumah mereka dan diratakan dengan tanah. Kata yang digunakan Allah adalah “دمدم” yang juga terdiri dari dua suku kata yang berulang, dan bermakna (-+) gempa terjadi ke atas dan ke bawah secara terus menerus hingga rumah mereka rata ditelan bumi. Jadi دمدم itu lebih dahsyat dari زلزال

  1. Kata lainnya adalah رفرف dalam surah Ar-Rahman ayat 76. Allah SWT berfirman,

مُتَّكِئِينَ عَلَىٰ رَفْرَفٍ خُضْرٍ وَعَبْقَرِيٍّ حِسَانٍ

“Mereka bertelekan pada bantal-bantal yang hijau dan permadani-permadani yang indah.” (QS Ar-Rahman: 76).

Hemat saya, kata “bantal-bantal” sebagai terjemahan dari kata رفرف tidak seratus persen tepat. Terjemahan yang mungkin lebih tepat adalah “ayunan”.

Mengapa ayunan? Sebab, kalau Anda sedang bersantai dan bermanja-manja menghabiskan waktu sore, misalnya, Anda asyik duduk di sebuah ayunan yang didorong dengan penuh kedamaian. Bukankah ayat itu sedang bercerita kenikmatan ahli surga sampai-sampai mereka berleha-leha santai dalam ayunan permadani yang bergerak ke depan dan ke belakang? Maka, menerjemahkannya sebagai “bantal-bantal” kurang  menggambarkan suasana kedamaaian ahli surga sebagaimana dimaksudkan kata رفرف itu.

  1. Ada kata lain yang menggunakan dua suku kata dan diulang, yaitu kata عسعس dalam firman Allah SWT,

وَاللَّيْلِ إِذَا عَسْعَسَ

demi malam apabila telah larut” (QS At-Takwir: 17).

Nah, penerjemahan “malam apabila telah larut” apakah tepat di ayat ini? Mengingat kata-kata lain yang mengunakan dua suku kata yang diulang menunjukan peristiwa yang berulang.

Ada banyak ayat yang menceritakan tentang penciptaan malam. Maka, hemat saya, “malam” bukan semata karena “hilangnya cahaya matahari” lalu semakin lama menjadi semakin larut, tetapi dia merupakan makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT sebagaimana Allah menciptakan makhluk-makhluk lainya. Maka, dalam salah satu ayat lain, Allah berfirman:

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا

“Dan telah Kami jadikan (ciptakan) malam sebagai pakaian”. (QS An-Naba: 10).

Jadi malam itu “something that can be defined”. Sesuatu yang diciptakan Allah, bukan sekedar hilangnya cahaya siang. Ketika Thomas Alva Edison menemukan lampu pijar, dia menemukan sumber cahaya buatan yang dihasilkan melalui penyaluran arus listrik melalui filamen yang kemudian memanas dan menghasilkan cahaya.

Kaca yang menyelubungi filamen panas tersebut menghalangi udara untuk berhubungan dengannya sehingga filamen tidak akan langsung rusak akibat teroksidasi. Suatu penemuan yang luar biasa. Tetapi, belum ada manusia yang bisa “menciptakan” malam hingga hari ini. Buktinya? Belum ada alat yang bisa mengantarkan “malam” seperti senter atau lampu pijar yang bisa mengantarkan cahaya terang.

Maka, kata عسعس menunjukan proses penciptaan malam yang selalu terbarukan. Itulah di antara rahasia al-Qur’an tentang ilmu pengetahuan yang perlu kita pelajari bersama. Wallahua’lam.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

PUJILAH ISTRIMU

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Di suatu pengajian pagi, seorang ustadz berkata ...