Home / Artikel / Humaniora / FILSAFAT MENANAM PADI: MUNDUR UNTUK MAJU

FILSAFAT MENANAM PADI: MUNDUR UNTUK MAJU

Oleh: Trimanto B. Ngaderi

Nandur (Foto : Istimewa)

 

Bagi orang Jawa, segala sesuatu memiliki maknanya tersendiri. Baik itu berupa ucapan, perbuatan, kebiasaan, fenomena sosial, maupun fenomena alam semesta. Semuanya mengandung filosofi yang spesifik. Orang Jawa memiliki nilai, keyakinan, kesadaran, pengetahuan yang terejawantahkan dalam ilmu Jawa (Ngelmu Jowo).

Ilmu Jawa ada yang tersurat, ada pula yang tersirat. Ada yang berupa pesan-pesan langsung, ada pula yang diwujudkan dalam berbagai simbol tertentu. Dan memang, orang Jawa sangat suka akan simbol-simbol (perlambang) untuk menyampaikan pesan-pesan. Akan tetapi, sekarang ini banyak ilmu Jawa yang sudah tidak diketahui oleh orang Jawa sendiri, bahkan sebagian (besar) telah ditinggalkan.

Salah satu contoh ilmu Jawa adalah Ngelmu Tandur (ilmu menanam padi). Menanam padi tidak sekedar menancapkan benih padi di tanah, setelah itu selesai. Tidak sesederhana itu menurut pengetahuan Jawa. Tandur adalah laku hidup, yang pada setiap bagian atau rangkaiannya memiliki makna atau hikmah tersendiri.

Berikut beberapa di antaranya:

  1. Tandur itu harus dilakukan secara mundur.

Kalau secara maju, tentu padi yang sudah ditanam akan terinjak-injak dan rusak. Walaupun mundur, sebenarnya mereka maju, dalam arti nantinya petani akan memperoleh kemajuan. Yaitu akan memanen padi, akan bisa makan nasi, atau padinya dijual untuk kebutuhan lainnya.

Demikian halnya dalam hidup, adakalanya kita harus mundur (mengalah). Mengalah untuk menang, mengalah untuk kebaikan bersama. Suami-istri yang sering bertengkar biasanya karena kedua-keduanya selalu ingin menang, tiada yang mau mengalah. Juga sering adanya tawuran pelajar, perang antarkampung, bahkan perang antarnegara; karena didasari nafsu ingin menang dan mengalahkan yang lain.

  1. Tandur itu harus dilakukan dengan njengking (merunduk).

Jika dilakukan dengan berdiri, tentu bibit padinya tidak bisa tertanam. Sudah merunduk, mundur, dan juga capek tentunya. Hikmah yang dapat kita petik adalah bahwa untuk meraih segala sesuatu haruslah kerja keras. Ini sudah sunnatullah (hukum alam). Tidak ada kamus hidup yang instan. Bim salabim, main sulapan, memelihara tuyul, cari pesugihan, dll.

Sebaliknya, orang yang tidak mau bekerja keras dan ingin serba instan, ujung-ujungnya ya korupsi, menipu, berjudi, dan semacamnya.

  1. Tugas manusia sekedar menyemai, menanam, dan menyiangi.

Setelah bibit padi ditanam dan disiangi, maka tugas selanjutnya diambil-alih oleh Tuhan. Tuhanlah yang akan menumbuhkan padi menjadi lebat dan tinggi, menumbuhkan biji-bijinya. Setelah bekerja keras, manusia memasrahkan segalanya kepada Tuhan (tawakkal). Ini bermakna spiritual, inti dari keimanan seseorang.

Jika sudah bertawakkal, apapun hasilnya, bagus atau tidak panennya, akan ia terima dengan lapang dada dan senang hati. Ia tidak akan kecewa atau sedih. Karena ia sadar sepenuhnya bahwa manusia tiadalah punya kuasa, hanya bisa berikhtiar. Juga sebaliknya, jika panennya bagus, pun manusia tidak boleh sombong dan membanggakan diri serta melupakan peran dan kerja Tuhan.

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Perselisihan (Direktur Paytren) Achfas Achsien dengan Tiga Adiknya

AKIBAT TAMAK DAN TEGA?     Senyum mengembang dari wajah Ny. Masrifah. Wanita sepuh ini ...