Home / Sastra / Kisah Nyata / DIA DAN AKU BUKAN TERORIS

DIA DAN AKU BUKAN TERORIS

Oleh : John Suteki

Prof. John Suteki (Foto : Nusantarakini)

 

Merinding saya, setelah membaca artikel berbahasa Inggris ini. Bila berita ini benar, maka kita akan tahu tentang bagaimana Barat mencari TERORIS yang dituduh telah melakukan serangan brutal, atau bahkan baru DIDUGA melakukan aksi terorisme.

Perburuan terhadap Osama bin Laden mungkin telah mengorbankan jutaan jiwa melayang, jutaan lainnya terpenjara, terintimidasi tersebar di seluruh dunia bahkan proyek pemberantasan terorisme telah menghasilkan turunan baru yang bernama RADIKALISME. Apa hasil akhirnya: OSAMA DINYATAKAN TIDAK BERSALAH. Simaklah pernyataan CIA berikut ini:

“LANGLEY, VA—Admitting that the organization had erroneously rushed to judgment in response to an unimaginable tragedy, CIA director Gina Haspel issued a posthumous apology Wednesday to the family of Osama bin Laden in light of new evidence which conclusively clears the former Al Qaeda leader of any involvement whatsoever in the 9/11 attacks. “The U.S. Central Intelligence Agency extends its most sincere and heartfelt apologies not only to Mr. bin Laden, but also to his grieving family and the many friends who stood by his side,” said an emotional Haspel, acknowledging for the first time that the CIA had based its entire 9/11 investigation on the testimony of a single, questionably reliable eyewitness who later recanted.”

Proyek pemberantasan RADIKALISME telah pula menghajar seluruh sisi kehidupan umat Islam, mulai dari masjid hingga kampus. Dengan indikator yg diragukan validitasnya mudah sekali memberikan statement: MASJID RADIKAL, KAMPUS RADIKAL, DOSEN RADIKAL, MAHASISWA RADIKAL.

Saya sendiri sebagai DOSEN PANCASILA DAN FILSAFAT PANCASILA SELAMA 24 TAHUN pun masih diragukan kesetiaannya terhadap PANCASILA, NKRI dan “thethek mbengek” yang lainnya hanya lantaran saya berbeda pandangan dengan pemerintah terkait dengan Perppu Ormas, HTI dan khilafah sebagai ajaran Islam yang boleh didakwahkan selama tidak ada unsur pemaksaan dan penggunaan kekerasan.

Tidak berhenti di situ, kisah saya pun berujung pada pemberhentian “sementara” terhadap 3 jabatan saya di kampus ternama di Indonesia ini. Apakah terbukti saya adalah dosen radikal? Dosen anti NKRI? Dosen anti Pancasila? Apa buktinya, kapan membuktikannya, dengan cara apa pembuktiannya? Asumsi-asumsi terus dibangun untuk menyematkan terhadap saya tentang PEMBUNUHAN KARAKTER DIRI. Sakit rasanya dituduh yang bukan-bukan dan diberikan “treatment” yang GRUSA-GRUSU terhadap karir “rendahan” saya.

Mestinya pemerintah bersyukur ada dosen macem saya ini. Saya radikal itu benar, tetapi radikal saya adalah ramah terdidik dan berakal sehingga tidak menjadi dosen pembeo, berani berbeda pendapat lantaran konstruksi berpikir ilmiah dengan argumentasi hukum yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Nasi telah menjadi bubur. Osama bin Laden dan orang-orang yg berada di sisi atau pihaknya telah menjadi korban kebiadaban tuduhan yg tidak disertai FULL KNOWLEDGE terhadap Islam dan umat Islam. Begitu juga apa yang terjadi terhadap saya, sudah terlanjur. Saya bisa berbuat apa untuk melawan kedigdayaan penguasa ini. Palu ada di tangan pihak penguasa, saya hanya bisa mengumandangkan perang pemikiran bahwa apa yang dilakukan oleh penguasa terhadap saya adalah keliru. Teriakan itu terus saya gaungkan hingga mungkin nyaris lirih tak terdengar.

Live oppressed or rise up against?

Kalimat ini mantra sakti saya untuk tetap punya semangat memperjuangkan kebenaran dan keadilan di negeri ini. Hidup ini terlalu singkat untuk tidak berpihak kepada kebenaran dan keadilan. Saya yakin bahwa umat Islam bukanlah teroris, saya pun bukanlah seorang radikalis berbahaya yang akan meruntuhkan bangsa dan negara ini.

Kalau begitu, bercermin pada kasus Osama bin Laden dan kasus Suteki, masihkah patut meneruskan proyek-proyek internasional tentang terorisme dan radikalisme sementara “teroris sejati” dan “radikalis sejati” adalah “pihak” yang mungkin telah dan sedang menebar teror dalam tubuh bangsa sendiri? Menusuk tubuh dari dalam terhadap saudara sendiri.

Waspada itu harus, phobia itu kedunguan. Avidya!

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Hidayah: Islam Menjawab Kegelisahanku

Islam Menjawab Kegelisahanku Aku ingin berbagi mengenai kisah perjalanan keislamanku, mengapa aku memilih Islam sebagai ...