Home / Artikel / Humaniora / VILOSOFI GENTENG

VILOSOFI GENTENG

Oleh : Ibnu Fathan

Pengrajin Genteng (Foto : Tribun)

 

 

Melihat genteng bertengger di puncak rumah atau gedung, tanah becek itu membayangkan betapa nikmatnya menjadi genteng berada di tempat yang tinggi itu.

Kemudian tanah becek itu terbawa arus lamunannya membayangkan fasilitas-fasilitas bagaimana genteng bertengger di atas kaso yang dikaitkan rapi dengan reng. Juga bagaimana genteng itu dapat mengayomi dan melindungi penghuni bangunan itu dari sengatan panas matahari dan guyuran hujan.

Kemudian tanah becek yang berwarna hitam itu mencoba mempengaruhi jenis-jenis tanah yang lain dengan memberitahukan kehebatan fasilitas dan manfaat genteng.

“Toh genteng itu juga sama sama tanah seperti kita.” Demikian kampanye kasak kusuk yang dilakukan oleh tanah becek itu. Intinya adalah silaunya tanah becek kepada fasilitas fisik genteng.

Padahal , tidak semua jenis tanah dapat diproses menjadi genteng. Tapi harus memenuhi kriteria tertentu. Jenis tanah yang dapat diproses menjadi gentengpun harus melalui beberapa proses, harus mau diadon dengan berbagai unsur yang telah ditentukan oleh pembuat genteng. Jika dengan sukarela atau terpaksa tanah itu merelakan dirinya diadoni dengan ketentuan ketentuan itu, maka akan diproses pada tahapan berikutnya : dipress dengan bentuk pola yang dikehendaki oleh pembuat genteng sebagaiman yang diorder oleh bakal penggunanya.

Ketika ada tanah yang tidak merelakan diri dipress sehingga ada bagiannya yang tidak rapat, maka tanah itu tidak dapat diproses berikut. Tapi dalam hal ini, adonan yang gagal diproses itu masih dapat kembali ke komunitas tanah di habitatnya.

Adonan tanah yang merelakan dirinya dipress, maka akan memasuki proses berikut yaitu pengeringan dan kemudian proses pembakaran. Sampai pada proses ini, genteng sudah jauh meninggalkan fitrah awalnya sebagai tanah. Karenanya ada beberapa resiko yang harus ditanggung. Tanpa bisa mundur lagi.

Dalam hal dipakai penggunanya, dia harus berbaris dengan teman yang sejenis dan sebangun. Dia tidak akan dapat melindungi dan mengayomi pemanfaatnya, kecuali jika sejenis dan sebangun. Dalam melindungi dan mengayomi, genteng hanya mengayomi sesuatu yang ada di lingkungan dimana dia dimanfaatkan. Dia tidak bisa memberikan pengayoman diluar lingkungannya. Dalam hal memberikan perlindungan dan pengayoman itu, tidak ada yang mengucapkan terima kasih.

Sekalipun dia sudah berfungsi sebagaimana mestinya, namun ketika arah angin berubah sehingga curahan air hujan tampias, bisa jadi akan diganti genteng dengan bentuk bangun yang lain. Dalam keadaan tidak dapat difungsikan lagi, tidak sesuai dengan trend atau sudah dalam keadaan pecah, maka genteng dibuang begitu saja tanpa rasa sayang.

Atau kalau toh ada yang memanfaatkannya kembali, genteng itu hanya dipakai untuk mainan anak-anak. Dan berakhirlah nasib genteng dengan nestapa dikarenakan meninggalkan fitrah dirinya yang ditentukan oleh Penciptanya. Oleh penggunanya sudah tidak dipakai lagi. Ketika kembali ke komunitas berbagai jenis tanah, tidak bisa lagi bersatu. Kecuali dihancur leburkan menjadi tepung. Dan itu menyakitkan.

Karena itu, untuk kita manusia, sering-seringlah berdoa. “Yaa Allah, Dzat Yang membolak balikkan suasana hati dan mengubah-ubah bentuk. Seiring dengan bolak-baliknya keinginan hati dan berubah ubahnya posisi dan kedudukan kami, tetapkan kami dalam keadaan taat kepada ajaran agamaMu”

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

CINTA ADALAH ENERGI

Oleh Inayatullah Hasyim (Dosen FH Universitas Djuanda Bogor)   Suatu hari, sepasang suami-isteri bertengkar. Dengan ...