Home / Artikel / Politik / Secara “De Facto” Sudah Jatuh ke Tangan Lawan!

Secara “De Facto” Sudah Jatuh ke Tangan Lawan!

Oleh: Fahmi M.S Kartari (Sutradara Film Dokumenter danPemerhati Sosial Politik)

 

Kampanya Akbar Prabowo-Sandi di GBK 7 April lalu (Foto : Kompas)

 

Tim Kampanye Nasional (TKN) sebagai tim sukses pasangan calon Joko Widodo-KH.Ma’ruf Amin bernomor urut 01, memang harus berbuat sesuatu dan sudah seharusnya bertindak luar biasa! Bagaimana tidak, dalam waktu singkat baik sebelum dan semasa kampanye Pilpres 2019, beberapa wilayah penting di Indonesia secara faktual, jatuh ke tangan paslon 02 yaitu Prabowo-Sandi!

Yang terbesar dan terlihat secara internasional, adalah saat Jakarta juga jatuh ke tangan massa pendukung paslon 02 dari berbagai daerah, luar negeri, golongan sosial dan lintas agama dalam Kampanye Akbar Prabowo-Sandi pada 7 April 2019 di Stadion Gelora Bung Karno (GBK) yang juga monumental bagi sejarah politik di Indonesia!

Ya, dilihat secara internasional karena kalangan pers di negara-negara barat bukan lagi sekadar melihat langsung kenyataan dan memberitakannya, tetapi sudah mulai pada penyampaian persepsi yang jujur baik terhadap perilaku pemerintahan Joko Widodo maupun bagaimana mereka melihat harapan yang layak pada Prabowo Subianto!

 Kehadiran pers dari negara barat untuk meliput Kampanye Akbar Prabowo-Sandi di GBK bisa langsung mengingatkan kembali pada kolom opini tanggal 3 April 2019 di situs media The Guardian, saat Kate Lamb mempublikasikan artikelnya yang berjudul : Joko Widodo : how ‘Indonesia’s Obama’ failed to live up to the hype. Memang sudah ada produk jurnalistik yang dipublikasi secara global sebelumnya untuk mengkritik pemerintahan Joko Widodo seperti situs media The Economist, tapi kali ini patut disimak, apa yang bisa dibaca dibalik artikel Kate Lamb yang tajam ini!

 Apakah opini Kate Lamb merupakan refleksi dari arah dukungan negara-negara blok barat terhadap Indonesia atas ukuran geopolitik yang enggan membiarkan Tiongkok menggenggam Indonesia? Bisa jadi tapi yang jelas, sikap pers kali ini telah menjadi bukti perubahan cerita tentang sikap politik internasional terhadap negeri kaya hasil bumi ini dibanding tahun 2014. Mata diplomatik negara manapun yang menjalin hubungan dengan RI, kecil kemungkinannya untuk luput dalam melihat kenyataan sosial dan politik di Indonesia.

 Tidak ada rekayasa terhadap bukti-bukti visual yang menunjukkan bahwa paslon 02 memang lebih mendapat sambutan luas dari masyarakat! Tidak masuk akal, jika jumlah massa sebanyak itu dimobilisasi dengan bayaran sedangkan anggaran kampanye 02 saja lebih minim dari lawannya. Malah justeru kini rakyat berinisiatif memberikan sumbangan agar paslon 02 bisa mendapat energi tambahan. Mobilisasi berfungsi sendiri karena sebab keadaannya yaitu Republik Indonesia butuh pemimpin yang baru!

 Fakta di lapangan mungkin bisa saja disembunyikan agar tidak terlalu luas diberitakan oleh media arus utama di dalam negeri dengan tujuan agar tidak memicu “penularan” massal yang memperparah jatuhnya daerah lain ke tangan paslon 02, terutama di basis-basis yang selama ini identik dengan partai pendukung petahana seperti di wilayah Jawa Tengah yang dikejutkan dengan jatuhnya Tegal ke tangan paslon 02!

 Seolah, propaganda leaflet (selebaran tertulis secara singkat yang bersifat psychological operations/psyops) yang biasanya menghajar paslon 02, terpental begitu saja. Isu khilafah, isu penculikan aktifis, isu kebrutalan di Timor Timur, isu pemecatan sebagai prajurit TNI dan segala yang diada-adakan? Ya, seberapa pengaruhnya jika dilihat dari sambutan massa itu?

 Justru kontra propaganda yang dilakukan oleh pendukung paslon 02, berbalik menekan paslon 01 karena sebagian analis independen di dalam negeri, sama halnya dengan Kate Lamb yaitu tidak melihat kenyataan hanya melalui sudut pandang pemerintah, melainkan memandang segala sesuatunya secara jujur, luas dan logis dari sudut pandang yang beragam dari tengah masyarakat!

 Jika kecerdasan massa pendukung suatu paslon terbiasa dibangun atas fakta dan bersesuaian dengan subyektifitas analis yang berkriteria seperti ini, maka akan menjadi suatu keterdidikan dan kecerdasan massal yang menjadi suatu kekuatan. Massa pendukung yang paham, akan memperluas opini cerdas dengan pemanfaatan secara efektif pada media sosial dan seringkali mereka berfungsi sebagai penyampai informasi yang tinggal dipilah dan diolah oleh para analis hingga sampai pula pada tim suksesnya secara valid! Ini merupakan bentuk kemapanan berfikir dan taktis terhadap informasi!

Kontra propaganda paslon 02 dan pendukungnya yang paling menakutkan sekarang ini adalah bagaimana petahana sudah terlalu banyak digambarkan kejatuhannya. Para analis melihat secara sosial, politik, psikologis atau sudut pandang lainnya, sedangkan massa pendukungnya berupaya lebih kreatif, misalnya mengilustrasikan kelemahan pemerintah pada persoalan apa pun yang berdasarkan bukti yang dikoleksi.

 Debat capres dan cawapres sebetulnya dapat terlihat siapa yang terbiasa menggunakan data dan informasi yang teliti dan sesuai fakta. Statistik skor dari panelis bukan hanya soal performa apalagi profil tetapi juga menunjukkan bagaimana pemanfaatan maksimal terhadap data dan informasi. Paslon 02 menyampaikan dari sudut pandang masyarakat dengan segala fakta masalahnya, sedangkan paslon 01 melalui sudut pandang pemerintah yang segalanya baik-baik saja!

 Paslon yang merasa lemah dengan ketelitian data dan informasi, seharusnya lekas berbenah jika keesokan harinya data dan informasi yang disampaikan saat debat, dikoreksi oleh berbagai pihak yang paham bahkan dikoreksi dengan bukti inkonsistensi data yang disampaikan antara saat debat maupun pada momen lainnya.

 Ternyata, sikap terhadap data dan informasi menentukan hasil dan itu sangat krusial! Sebab itulah pengumpulan data dan informasi di lapangan seharusnya tidak boleh diproses dengan kelalaian apalagi dimanipulasi. Masing-masing kubu paslon selalu membutuhkannya secara valid tentang kondisi rakyat pada umumnya dan juga informasi satu sama lain sebagai paslon untuk menentukan suatu ukuran yang bersifat taktis, maka sekali proses informasi itu lalai, disembunyikan dan dimanipulasi, akan ada potensi fatal!

 Ibarat suatu operasi militer yang gagal oleh informasi intelijen yang salah, akibatnya bukan hanya meleset dari target, tapi juga salah sasaran yang merugikan secara anggaran, fisik, materil, moral, propaganda, fokus dll, hingga yang mengerikan adalah dengan kondisi yang rentan dan terbukanya titik lemah itu, lawan dapat berbalik menyerang pada titik tersebut hingga tercipta situasi yang menekan hingga melumpuhkan!

 Jatuhnya wilayah-wilayah penting di seluruh Indonesia ke tangan paslon 02, berdampak serius pada elektabilitas petahana! Mereka gagal memprediksi dan mengantisipasi perubahan dan hanya terjebak oleh memori masa lalu yang indah bahwa perilaku sosial terhadap pilpres, masih sama dengan era kemenangan mereka di 2014. Padahal setiap masa bagi penyelenggaraan pilpres, berjalan dengan situasi sosial yang berbeda-beda dan selalu signifikan perubahannya.

 Terlalu banyak energi yang terbuang karena selama ini masyarakat yang berseberangan dan kritis terhadap pemerintahan Joko Widodo, justru ditempatkan sebagai musuh yang harus disikapi secara emosional! Akhirnya fokus gagal terarah pada sektor-sektor yang seharusnya menjadi prioritas.

 Selalu seperti itu dan akhirnya juga tidak sanggup melihat bahwa ada faktor penting yang harus dimanfaatkan yaitu sikap terhadap data dan informasi yang membutuhkan kejernihan fikiran, kestabilan emosi dan kemampuan untuk memposisikan diri di masyarakat untuk mendapatkan sudut pandang bahwa pada kenyataannya semua tidak dalam keadaan yang baik-baik saja.

 

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Babinsa Ditarik dari Gelanggang Pemilu. Ada apa, Jenderal?

 Oleh: Selamat Ginting (Jurnalis Pemerhati Militer)    Hari Kartini. Namun, kali ini pertanyaan teman-teman kepada ...