Home / Artikel / Kesehatan / Causa Mortis (Penyebab Kematian) : Kelelahan?

Causa Mortis (Penyebab Kematian) : Kelelahan?

Oleh: dr. Evi Sylvia Awwalia

 

Puluhan dokter tutut pemerintah lakukan autopsi untuk mengetahui penyebab kematian anggota KPPS (Foto : Istimewa)

 

Ya Allah, saya gak bisa membayangkan seandainya statement itu saya ucapkan atau saya tulis pada laporan kematian pasien saya, dulu pada waktu menjalani pendidikan dokter spesialis.

Bisa dibayangkan akan berapa lama saya harus berdiri di depan ruang sidang ilmiah untuk mempertanggungjawabkan pernyataan saya itu di depan para guru dan senior saya. Saya tidak berani membayangkan akan ada berapa puluh pertanyaan yang harus saya jawab terkait statement saya itu, dan membayangkan wajah marah guru-guru saya, menunjukkan betapa asal-asalannya saya dalam menjalankan tugas, dalam menentukan causa mortis. Sebuah kesalahan fatal.

Bagaimana mungkin pasien kelelahan bisa meninggal? Kelelahan seperti apa yang membuat pasien bisa meninggal? Pertanyaan itu yang mungkin awal terlontar? Karena statement saya terdengar konyol. Mana ada kelelahan sebagai kausa kematian?

Pertanyaan akan dilanjutkan dengan, usia berapa pasien ini sampai bisa meninggal karena kelelahan?  Apakah pasien ini immunocompromised? Itu diagnosa apa? Atas dasar apa kamu membuat diagnosa itu? Bagaimana kondisi komorbid? Bagaimana riwayat penyakit dahulunya? Bagaimana kondisi jantungnya sebelumnya? Kondisi livernya? Ginjalnya? Parunya? Obat-obatan apa yang diminum pasien selama ini? Bagaimana perjalanan penyakitnya? Bagaimana perjalanan kematiannya? Bagaimana kondisi sebelum meninggal? Bagaimana hasil lab sebelum meninggal? Mana hasil pemeriksaan yang menunjang statementmu? Apa yang sudah kamu lakukan pada pasienmu? Yang kalau diteruskan pertanyaan ini bisa sangat panjaaang rentetannya. Dan bisa dibayangkan apa yang akan terjadi setelah itu.

Semua laporan mengenai pasien akan dibuka, rekam medis pasien akan diaudit, perjalanan pasien dari mulai masuk ke UGD sampai ke bangsal dan sampai meninggalnya akan ditelusur, semua dokter yang pernah terlibat dalam perawatan pasien di hari-hari sebelumnya akan diinterogasi, pertemuan-pertemuan membahas laporan kematian dilakukan, sidang demi sidang harus saya hadapi, bahkan departemen lain yang terkait pun diundang untuk mendiskusikan kasus ini, sampai jelas penyebab kematian pasien, dan sampai terbukti tidak ada kelalaian pada saya dalam menangani pasien.

Semua treatment yang diberikan dan tindakan yang pernah dilakukan pada pasien, akan diinvestigasi satu per satu, jam demi jam perawatan pasien. Tinggallah saya sebagai terdakwa pasrah terhadap nasib menunggu hasil investigasi, menyiapkan mental untuk menerima sangsi apabila terbukti saya bersalah. Dan ini cukup membuat saya berada dalam kecemasan, anoreksia dan insomnia selama berhari-hari. Sungguh siksaan yang luar biasa bagi seorang PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis).

Dan yang paling menakutkan adalah apabila saya dinyatakan tidak kompeten dalam menangani pasien akibat tidak berpikir panjang dalam menangani pasien. Hanya gara-gara menyimpulkan causa mortis tanpa dasar. Buat kami rasanya it’s the end of the world, terbentang bayangan-bayangan kesulitan yang akan kami hadapi di hari-hari mendatang karena kebodohan dan kecerobohan kami. Ya, begitulah kami dididik. Begitulah kami harus mempertanggungjawabkan statement kami.

Tidak boleh kami sembarangan dalam mengelola pasien, baik mendiagnosis penyakit sampai memberikan treatment. Bahkan dalam menentukan penyebab kematian kami harus berpikir keras, menganalisa, mempelajari sign dan symptom pasien, mempelajari riwayat hidupnya, mempelajari hasil pemeriksaan penunjangnya. Karena kami harus mempertanggungjawabkan assesment dan tindakan kami terhadap pasien.

Dokter Ani Hasibuan (Foto : Istimewa)

Kematian adalah takdir. Tapi jangan sampai ada kesalahan dan kelalaian tindakan kami dalam proses kematian pasien. Jadi bagaimana kami harus percaya dengan anda bung KPU? Your statement is ridiculous. Tanpa dasar. Sebegitu mudahnya anda menentukan kausa mortis dari kematian 500 lebih petugas KPPS dengan menyatakan itu hanya kelelahan biasa, tanpa analisa! tanpa kewenangan!

Insting kami tidak berkata demikian. Insting kami yang sudah terasah bertahun-tahun yang didasarkan pengetahuan dan pengalaman klinis, mencurigai adanya ketidakwajaran. Dari beredarnya foto dan video para petugas itu, dan dari keluhan yang dirasakan sebelumnya oleh mereka, dari masifnya jumlah mereka. itu bukan suatu kelelahan!

Kematian mereka patut ditelusur, sampai bukti menyatakan kematian mereka adalah wajar. Salute to dr Ani Hasibuan yang mempercayai instingnya untuk memperjuangkan kebenaran. Semoga Allah senantiasa menjaga beliau.

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

3 Gangguan Kesehatan yang Bikin Anda Sendawa Terus-terusan

  thayyiba.com :: Sendawa biasanya terjadi setelah Anda makan atau minum terlalu cepat, atau sambil mengobrol, ...