Home / Artikel / Artikel Lepas / I’tikaf di Masjid atau di Mall?

I’tikaf di Masjid atau di Mall?

Foto: Firdaus Jawaposs Makassar
Foto: Firdaus Jawaposs Makassar

thayyiba.com :: Ramadhan adalah musim kebaikan doa dikabulkan, keberkahan diturunkan, dosa dihapuskan, maka sudah wajar kalau seorang muslim yang cerdas menginvestasikan waktu yang tidak lama, satu bulan untuk kesuksesan sebelas bulan berikutnya, investasi 10 hari untuk kebahagiaan 350 hari berikutnya.

Seorang muslim dipersiapkan menjadi insan produktif, memanage waktunya dengan baik, memiliki tujuan yang jelas, Ridha Allah swt, bahagia dunia dengan perjuangan, dan bahagia di akhirat dengan Ridha dan surga Allah, diraih dengan menghambakan diri kepada Allah dalam seluruh aktifitas hidupnya, dengan cara mengatur alam semesta dengan manhaj Allah swt, maka sudah sewajarnya proyek besar ini harus ada perencanaan, pelaksanaan program, dan evaluasi program, kemudian perbaikan dan pelurusan yang salah, penyempurnaan yang kurang, diharapkan dapat mencapai tujuan di akhir hidupnya dengan husnul khotimah.

Rasulullah saw menjelang diangkat sebagai Nabi, tiga tahun berturut-turut melakukan tahannuts berhari-hari setiap bulan Ramadhan, dalam hari-hari itu beliau beribadah kepada Allah, memikirkan nasib ummat manusia yang tenggelam dalam kesestan, berfikir keras bagaimana menyelamatkan ummatnya, demikian selama tiga tahun sampai Allah mengangkatnya sebagai Nabi, dan mengutusnya sebagai Rasul. Dalam ayat pertama surat Al’alaq: “Bacalah dengan Nama Rabbmu yang menciptakan, menciptakan manusia dari segumpal darah, bacalah dan Rabbmu paling mulia, yang mengajari manusia dengan pena, mengajari manusia apa yang tidak diketahui” QS Al-‘Alaq 1-5.

I’tikaf diakhir bulan Ramadhan, tepatnya sepuluh hari terahir di Masjid, menahan diri di masjid untuk beribadah sebagai kelanjutan dan penyempurnaan apa yang Rasulullah saw lakukan setelah menjadi Nabi, hal itu diikuti oleh para sahabat, istri itri Rasulullah saw dan ummatnya sampai hari kiamat.

Kegiatan duniawi selama setahun cukup menghabiskan energi, banyak mengalami godaan dunia dan syahwat sehingga menurunkan kualitas iman, maka sudah wajar kalau orang beriman butuh berhenti sejenak mengisi bahan bakar di Pom BBM iman di akhir Ramadhan, untuk membaca Al-Qur’an, yang diturunkan di bulan yang mulia ini bulan Ramadhan yang Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan furqan pembeda antara yang haq dan batil. Untuk berdoa kepada Allah lebih khusyu’, untuk menyambut tawaran Allah yang sangat menggiurkan “jika hambaKu bertanya kepadamu tentang aku, katakanlah sesungguhnya Aku itu dekat, Aku mengabulkan doa orang yang berdoa ketika berdoa kepadaKu, maka imanlah kepadaKu dan sambutlah panggilanKu agar supaya mereka mendapatkan petunjuk” QS Al-Baqarah ayat : 186

Malam lailatul qadar adalah malam penuh berkah, Allah menurunkan SK Qadha dan QadarNya malam itu, “sesungguhnya Kami menurunkan Al-Qur’an di malam yang penuh berkah, sesungguhnya Kami pemberi peringatan, di malam itu diputuskan perkara yang bijak”, QS Ad-Dukhon ayat : 3-4, malaikatpun turun untuk memuliakan malam itu, hanya waktunya berpindah pindah dari malam ke 21 sampai ahkir Ramadhan, maka Rasulullah saw menganjurkan untuk mencari keberkahan malam itu di sepuluh terahir, dan kondisi yang paling tepat adalah i’tikaf di masjid, agar terpadu antara kemuliaan waktu dan kemuliaan tempat dan siapa yang mendapatkan malam itu dengan qiyamul lail, doa, dan dzikir maka ia orang yang paling beruntung yang mengalahkan orang terkaya dan tersukses dunianya yang tidak mendapatkan lailatul qadar. Kenapa sukses karena nilai yang didapatkan lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun, masya Allah, kesempatan emas ini dari pengabulan doa, pengampunan dosa, taufik meraih kesuksesan dunia dan akhirat, pantas untuk dikorbankan yang lainnya untuk mendapatkan keberkahan mulia ini.

Sepuluh terahir mestinya banyak dihabiskan untuk masjid sebagai tempat yang mustajab dan mulia, bukan di pasar dan mol-mol sebagai tempat yang paling tidak disukai Allah, artinya kalau belanja dan menghibur diri masih banyak waktu, dapat dilakukan sebelum Ramadhan, atau sebelum akhir Ramdahan. Seorang muslim dapat mengatur waktu secara baik, kenapa dalam setahun sulit menyisihkan waktu sepuluh hari untuk munajat kepada Allah, merancang tarbiyah diri, keluarga, islah da’wah untuk setahun mendatang, sehingga da’wah dan kondisi ummat lebih baik dari tahun sebelumnya.

Belanja di mall tidak dilarang, tapi kenapa harus di akhir bulan Ramadhan, yang harganya sudah membubung tinggi, dan biasanya akan menggeser agenda ibadah, dan mengurangi kekhusuan munajat kepada Allah. Kata-kata ini bukan untuk memojokkan peran pasar, dan perlunya pasar, tapi jangan sampai pasar menghalangi untuk beri’tikaf sehingga program tilawah, qiyamul lail bisa dilakukan lebih baik, dan marilah kita menjadi pengusaha sukses, berdagang dengan Allah dalam peningkatan program dan perencanaan ibadah, da’wah dan tarbiyah di akhir ramadhan yang waktunya sangat terbatas dan kalau lewat tidak bisa digantikan yang lainnya, berhenti sejenak untuk lari setelahnya.

Adalah para imam, seperti Syafi, imam Malik jika masuk bulan Ramdhan berhenti mengajar hadits dan fokus untuk ibadah tilawah Qur’an. Pasar mol bisa didatangi sepanjang masa, tapi pasar tanpa ruh ibadah dan ruh akherat akan menjadikan orang berjiwa materialistik konsumtif yang sering melupakan akherat dan mengukur kesuksesan dengan kenikmatan dunia, akhirnya terjadi standar duniawi, VIP diukur seberapa banyak uang yang dimiliki, maka kehidupan akan semakin jauh dari bimbingan Allah, dan konflik antar manusia semakin runyam, alangah indahnya nasehat Allah, di Rumah rumah yang Allah izinkan untuk diangkat dan disebut NamaNya, bertasbih di dalamnya setiap pagi dan sore. Yaitu para laki laki pioner yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli mereka dari mengingat Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mereka takut akan hari yang hati dan mata berbolak-balik, supaya Allah membalas mereka dengan yang paling baik apa yang mereka kerjakan dan Allah menambahi mereka karuniaNya, dan Allah memberi rizqi tanpa perhitungan. Al-Qur’an An-Nur ayat : 36-37

Dengan i’tikaf di masjid dan tidak menghabiskan waktu di mol mol diharapkan ruh masjid akan menjadi ruh dan jiwa yang bersemayam di hati pelaku pasar sehingga menjadi manusia akherat yang masih berjalan di muka bumi.

Semoga Allah memberkahi dan memberikan taufik untuk menjadi orang yang cerdas dan sukses dalam bulan Ramadhan.

Oleh: Dr. Muh. Mu’inudinillah Basri, MA

About A Halia

A Halia

Check Also

Perusak Hati

thayyiba.com :: Rusaknya hati itu disebabkan oleh enam hal. Rusaknya hati merupakan musibah terbesar bagi ...