Home / Kabar / Daerah / Kenali 5 Ciri Lulusan Ramadhan, Apakah Kita Termasuk?

Kenali 5 Ciri Lulusan Ramadhan, Apakah Kita Termasuk?

Cendekiawan Muslim, Prof KH Didin Hafidhuddin saat memberikan tausiyah di acara Buka Puasa Bersama Yayasan Pondok Karya Pembangunan (PKP) DKI Jakarta di Kampus PKP Jakarta Islamic School, Jakarta Timur, Senin (27/5).
Cendekiawan Muslim, Prof KH Didin Hafidhuddin saat memberikan tausiyah di acara Buka Puasa Bersama Yayasan Pondok Karya Pembangunan (PKP) DKI Jakarta di Kampus PKP Jakarta Islamic School, Jakarta Timur, Senin (27/5).

thayyiba.com :: Ada lima ciri alumni  ‘Sekolah Ramadhan’ yang menggambarkan kehebatan para alumninya. Hal tersebut dijelaskan dalam surah Ali Imran ayat 17.

 

“Ashshaabiriina washshaadiqiina walqaanitiina walmunfiqiina walmustaghfiriina bil-ashaar. Artinya, orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, dan yang memohon ampun di waktu sahur. (Ali Imran: 17).

Hal tersebut disampaikan Cendekiawan Muslim, Prof KH Didin Hafidhuddin saat memberikan tausiyah di acara Buka Puasa Bersama Yayasan Pondok Karya Pembangunan (PKP) DKI Jakarta di Kampus PKP Jakarta Islamic School, Jakarta Timur, Senin (27/5).

Sebelumnya, KH Didin menjelaskan bahwa para ulama menyebut Ramadhan sebagai bulan pendidikan. Bahkan beberapa ulama menyebutnya sebagai Madrasah Ramadhan, Sekolah Ramadhan, dan Perguruan Tinggi Ramadhan. Allah SWT mendidik orang-orang beriman ketika mereka melaksanakan ibadah puasa pada Ramadhan.

Didin menjelaskan, paling tidak ada lima ciri apakah manusia telah berhasil menjadi alumni Sekolah Ramadhan. Pertama, ashshaabiriina atau orang yang sabar. Orang yang sabar adalah orang yang tahan dengan ujian dan tidak mudah frustrasi. Puasa Ramadhan adalah proses melatih kesabaran.

“Orang yang sabar kalau punya cita-cita yang baik, walau menghadapi hambatan dan tantangan, dia terus berbuat yang terbaik dengan sepenuh hati, tidak banyak mengeluh,” kata KH Didin kepada para jamaah di Aula Al Kautsar.

Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menjelaskan, sabar bukan menyerah dan diam melainkan aktif berbuat yang terbaik dengan sepenuh hati. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa sabar adalah sumber energi.

Kemudian ciri yang kedua adalah washshaadiqiina atau orang yang jujur dan benar. Kejujuran sangat penting dalam kehidupan manusia. Orang yang jujur selalu tepat janji dan tidak suka berbohong. Saat melaksanakan puasa Ramadhan sebenarnya sedang melatih kejujuran.

“Tidak ada yang tahu hakikat puasa kita selain diri kita dengan Allah, boleh saja kita di rumah puasa tapi di luar tidak puasa, saat kembali ke rumah pura-pura puasa lagi, namun kita tidak melakukan itu karena kita sedang berlatih kejujuran saat puasa Ramadhan,” ujarnya.

Kiai Didin menegaskan, kejujuran harus menjadi ciri khas umat Islam. Sebab jujur bagian penting dari keimanan. Bahkan Rasulullah mengatakan bahwa tidak ada iman dalam diri manusia yang tidak jujur, tidak ada agama dalam diri orang yang tidak menepati janji. Maka penting bagi orang yang menjadi pemimpin harus jujur dan menepati janji.

Ciri ketiga walqaanitiina atau orang yang benar dan tunduk pada ketentuan Allah SWT. Menurutnya, orang yang walqaanitiina meyakini Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sebab orang tersebut yakin semua perintah Allah adalah yang terbaik bagi dirinya.

Ciri keempat walmunfiqiina atau orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah (zakat, infak, dan sedekah). KH Didin menerangkan, orang yang walmunfiqiina adalah orang yang menjadikan zakat, infak, dan sedekah sebagai gaya hidup.

“Orang yang suka melakukan infak tidak mungkin miskin, pengusaha yang biasa infak tidak mungkin bangkrut, karena Nabi Muhammad pernah mengatakan bahwa orang yang melakukan infak akan dibalas Allah SWT,” jelasnya.

Didin menegaskan, infak tidak akan mengurangi harta tapi justru menambah harta. Oleh karena itu anak-anak sejak dini harus dilatih agar terbiasa melakukan infak.

Kemudian ciri yang kelima adalahwalmustaghfiriina bil-ashaar atau orang yang memohon ampunan Allah di waktu sahur. Menurut Didin, ciri kelima adalah orang-orang yang melakukan istighfar di waktu sahur.

Makna sahur ada tiga di antaranya makan, waktu terbaik dan amalan. Amalan terbaik di waktu sahur adalah istighfar karena saat itu pintu langit sedang terbuka dan Allah menerima doa hambanya.

Sebelumnya, Ketua Yayasan PKP DKI Jakarta, KH Amidhan Shaberah, dalam sambutannya mengatakan buka puasa bersama dan tausiyah digelar Yayasan PKP DKI Jakarta dalam rangka menghidupkan bulan suci Ramadhan. “Untuk itu panitia telah mengundang Prof KH Didin yang menjadi guru besar di beberapa perguruan tinggi dan dai nasional kita untuk memberikan tausiyah,” ujarnya.

Sumber: Republika

About A Halia

A Halia

Check Also

Cara Remaja Masjid di Jakarta Selatan Menyemarakkan Ramadhan

thayyiba.com :: Berbagai acara islami terus digiatkan aktivis Masjid al-Falah, Cilandak, Jakarta Selatan, untuk menyemarakkan bulan ...