Home / Catatan / Ekonomi Syariah / Penyakit Uang Kertas

Penyakit Uang Kertas

Oleh: Zaim Saidi

Uang Kertas terancam remunirasi, pengurangan satu nol (Foto : Zaim Saidi)

Saat ini rupiah fluktuatif disekitar Rp 14.500/$. Jadi, sejak lahirnya 1946, merosot lebih dari 99% terhadap dolar AS. Dolar AS sendiri telah kehilangan daya belinya sebanyak 95% dibanding sebelum 1970-an. Semula 1 oz emas 35 USD ( ’71), menjadi 1400 USD (2019).

Ini bukti dari hadis Nabi SAW: “Akan datang masa semua yang ada tak bermanfaat (habis nilai), kecuali Dinar dan Dirham” – HR Ahmad

Mengapa uang kertas hilang nilainya? Karena memang tidak bernilai. Selembar kertas diberi angka nominal, dipaksakan bernilai. Sihir!

Sampai 1971, dalam sistem Bretton Wood, USD masih diikat dengan emas. Uang kertas lain diikat dengan USD dalam kurs tetap. Ekonomi pun stabil.

Gara-gara perang Vietnam, AS ambruk. Richard Nixon bertindak sepihak, 1971, USD dilepas dari emas. Karena USD terus dicetak, emas tidak cukup. Akibatnya kurs jadi mainan pedagang valas.

Secara mendasar emas berubah fungsi dari uang menjadi komoditi. Ekonomi menjadi sangat tidak stabil. Depresiasi terus-menerus. Ditandai dengan angka nominal besar.

Rupiah ’46 terbesar Rp 100. Hari ini Rp 100.000. Nilainya? Dulu Rp 1000 dapat 500 gr emas, hari ini Rp 1000 praktis tidak mendapat apa-apa. Jadi makin besar uang kita bukan makin kaya, tapi makin miskin. Selama 74 tahun merdeka hanya membuat kita 350.000 lebih miskin. Gara-gara uang kertas.

Dengan angka nominal besar, tapi tak berharga, bankir setiap kali harus mencetak nominal lebih besar lagi. Tapi, secara teknis itu repot. Komputer pun tak bisa mengelolanya.

Selain itu, secara psikologis, rakyat tak kan lagi bisa tenang dengan uang besar tapi tak bernilai. Para bankir mencari akal untuk memanipulasi

Teknik baru itu ketemu : Redenominasi. Penggundulan 0. Ini telah dimulai BI, dan semula terget ‘Go’, 2014, tapi tertunda. Kabarnya 2020 dilakukan.

Tentu itu bukan menyembuhkan, tapi menyembunyikan, penyakit uang kertas, yakni depresiasi terus-menerus. Dengan jumlah 0 sedikit atau banyak, tentu tak beda.

Buktinya 2010, saat isu redenominasi muncul, Rp 100 ribu dapat 7 kg telor. Hari ini hanya dapat 4 kg. Duit dan telornya sama, daya beli berkurang sekitar 40%. Selama Anda menggunakan uang kertas selama itu pula anda diperbudak bankers.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Kredit Lewat Pihak Ketiga (Bank)

  thayyiba.com :: Apakah boleh kredit lewat pihak ketiga atau dikenal dengan leasing? Biasa kita menemukan ...