Home / Sastra / Kisah Nyata / Sanad Ijazah Kubrò

Sanad Ijazah Kubrò

Oleh: KH. Mardhani Zuhri

KH. Imam Zarkasyi (Foto : Istimewa)

 

Dipagi hari itu. Ditahun 1984. Adalah hari yang sakral. Karena ada peristiwa besar yang bila tidak berlebihan menggambarkannya maka perisiwa tersebut hanya terjadi satu kali saja sepanjang aku belajar di Gontor.

Aku kelas 3 saat itu, ditengah pelajaran ke 3 terdengar pengumuman dari menara masjid Pondok yang pastinya pola pemberitahuan melalui spèker menara Pondok adalah hal ganjil atau ada berita besar.

Suara itu sangat menyengat, “Al I’làn .. Al I’làn .. Al I’làn”, yang artinya pengumuman, suara itu berat dan berwibawa juga fasih. Kegiatan belajar mengajar yang sedang berlangsung terpolong hening dicekam suara dari menara Masjid.

Sedetik suara pengumuman berbahasa Arab selesai sontak menggerakan seluruh penghuni Darussalam bergegas tanpa terkecuali menuju Masjid Jami’, bahkan para eks bulis lail (santri yang semalam mendapat tugas menjaga pondok yang belum sempurna dari istirahatnya) juga penjaga rayon bersegera terpontang panting menuju Masjid Jami’ karena suasana khusus ini.

Di mihrab masjid telah duduk dengan kursi dan meja sosok yang sangat kami hormati, sosok yang bahkan bila kami menyebut namanya akan sangat berhati-hati karena ta’dzim kami kepada beliau.

Trimurti terakhir. K.H Imam Zarkasyi Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam dalam usianya yang sudah senja menunggu kami dengan pancaran haibah dan simà nya yang menaklukan dan menundukan wajah-wajah kami.

Seakan kami masuk masjidpun berjinjit bahkan tanpa suara dan beratur duduk rapi tanpa komando.

Hening. Khidmat. Bahkan jarum jatuhpun kedengaran.

Majlis mengalir tanpa pembawa acara. Ayat Suci Al qur’an dibacakan oleh Qori terdengar sangat jelas laksana suara tunggal karena deru nafas kamipun yang baru saja duduk dari berlari harus sangatlah perlahan kami hembuskan dan tarik kembali. Kami lunglai dihadapan kebesaran wibawa Sang Kyai.

Lirihnya lantunan ayat suci itu membuncahkan rasa dan rona aneh yang membuat kami tertikam dan membathin adakah akan terus bersama beliau yang kami hormati karena sepuhnya usia beliau, dan dari satu isakan tangis menularkan isakan lain membuat kami ter isak-isak tanpa mampu mengurainya dengan deret kosakata ‘mengapa ada keharuan dan tangis saat itu’. Yà Rabb. Yà Rabb. Shadaqallahul ‘adhìm. Qori telah menyelesaikan bacaannya dan kami masih sibuk menyeka air mata tanpa sedikitpun menoleh kiri dan kanan.

Di Majlis berhormat ini tidak ada petugas yang mengatur, semuanya tertib duduk, menyimak, ta’dzim dan semuanya meleleh dihadapan Kyai Besar.

“Anak-anakku”. Suara itu amboi sangat merindu menyapa telinga kami dan energinya sangat lembut membelai hati yang melompat bangga disebut sebagai anak.

“Sengaja mengagetkan, mengumpulkan seluruhnya disini karena kami ingin mengajari doa”, beliau menyapu pandangannya ke seluruh kami.

Dan hening kembali.

“Kalau kalian dikejar oleh anjing, apa yang kalian lakukan?”

Satu santri senior menjawab “Saya lari.” Yang lain berdalih “Saya duduk.” Ada yang berkata “Saya ambil batu dan melemparkannya.”

He..he..he..he.. Sang Kyai terkekeh dan kami malahan ikut tertawa yang tanpa kami fahami mengapa ikut tertawa, dan tawa kami langsung lenyap ketika beliau melanjutkan wejangannya.

“Bila kalian dikejar anjing, maka panggilah pemilik anjing itu,” Beliau mengulangi dengan suara menegaskan. “Bila kalian dikejar anjing maka panggilah pemilik anjing itu, maka anjing berhenti mengejarmu.”

“Dan bila kalian dinakali manusia maka panggilah Pemilik manusia Tuannya manusia,” kembali beliau menegaskan. “Bila kalian dinakali manusia maka panggilah Pemilik manusia Tuannya manusia maka manusia itu akan berhenti menakalimu. Siapa Pemilik manusia? Siapa Tuannya manusia? Siapa? Serempak gemuruh jawaban “Allah Subhànahu wa Ta’àlà.”

“Bagaimana cara memanggilnya? beliau berhening sejenak. “Memanggil Pemilik manusia Tuannya manusia dengan cara membaca:

حسبنا الله و نعم الوكيل

“Cukup Allah Yang Menjadi Wakil kami. Cukup Allah Yang Menjadi Penolong Kami”

Dan kembali suara bergemuruh karena kami dibimbing membaca dengan tiga kali mengulangi ayat tersebut.

“Ajaztukum”, yang artinya saya ijazahkan kepada kalian. Kami berucap Alhamdulillah karena sangat beruntung mendapatkan Ijazah Kubrò Ayat 173 Al Qur’an Surah Ali Imron yang bersanad kepada beliau.

Alhamdulillah. Tsumma Alhamdulillah

Majlis ditutup doa dan selanjutnya masing-masing kami menerima buku bersampul hijau dop berjudul “Doa” yang ditulis langsung oleh beliau Sang Pendidik dan Pengasuh besar K.H Imam Zarkasyi.

Dzikir ini yang membasahi bibir kami disaat kami mendapat tugas sebagai penjaga malam (bulis lail) atau disaat kami menghadapi kegawatan atau darurat ataupun saat mengemban amanat pondok. Bahkan.

Sampai sekarang. Ketika kami menua.

Hasbunallah wa Ni’mal Wakìl. Cukup Allah Yang Menjadi Penolong kami.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Apa yang Kau Bela?

“Mati sebagai Islam itu baik, tapi akan lebih baik lagi kalau kita mati ketika sedang ...