Home / Fashion / Life & Love / Super Kaya tanpa Pamer

Super Kaya tanpa Pamer

 

Superkaya, sebuah ilustrasi (Foto : nahdlatululama)

 

Pagi tadi tepat jam 7.30 WIB, saya berangkat ke kampus menggunakan MRT tujuan Lebak Bulus-Bundaran HI. Selanjutnya biasa menggunakan gojek untuk tiba di UI Salemba. Pagi ini saya ada tiga agenda; menerima wawancara dengan salah satu Harian Nasional terkait isu masa depan Turkey dan Moderatisme Arab Saudi di 8.30 WIB. Menerima deputy International Committee of the Red Cross pada 9.30 dan memimpin rapat dosen Kajian Ilmu Kepolisian, Sekolah Kajian Stratejik dan Global, Universitas Indonesia (KIK SKSG UI) dan pelatihan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada pukul 10.00.

Saya tidak akan membahas tiga agenda tersebut. Sharing saya hari ini adalah lesson yang sayang untuk dilewatkan. Tiba di stasiun MRT Lebak Bulus, tak perlu lama menunggu barisan besi tiba. Seperti biasanya saya mengambil posisi favorit, terdekat dengan pintu menyandar di partisi. Menurut pujangga Pondok Labu, tertidur bersandar di partisi MRT tak kalah saing bermalam di Kempinsky.

Perjalanan MRT kali ini luar biasa. Di depan saya duduk seorang ibu kisaran usia 60 tahun. Pakaiannya agak kumel dan rambutnya tidak rapih. Biasanya setiap penumpang berharap dapat duduk. Tapi tiga kursi di samping ibu tadi tak mau orang ambil. Kenapa? Apakah karena penampilan atau apa?

Untuk menghilangkan penasaran, saya pun pindah posisi lalu duduk di samping ibu tadi. Ternyata, memang ada semerbak yang tak sedap. Belum lagi si Ibu ini bawa bungkusan makanan dan tas yang cukup berat.

Pelan saya tanya kepada beliau, “Ibu dari mana?” Jawabnya dengan dialek medok Jawa-nya, “Saya dari Semarang.”

Lalu saya tanya lagi,”Ibu mau kemana? ”

“Ibu mau ke Salemba menemui anak Ibu yang sedang mengambil spesialis di Fakultas Kedokteran UI.”

Saya berkata dalam hati, “Subhanallah! Luar biasa ibu ini. Penampilan tak selalu menyimpulkan kualitas.”

Lanjutnya,”Ibu tiba semalam di Kampung Rambutan sekitar jam 12. Karena capek betul, ibu tidur di terminal. Ketika bangun jam 02.00 pagi ternyata uang Ibu tak lagi di saku. Ibu hanya bisa istighfar dan mohon ampun kepada Allah, nak. Mumpung masih gelap, Ibu sengaja jalan kaki dari Terminal Kampung Rambutan ke MRT Lebak Bulus ini.”

Saya tanya, “Kenapa Ibu tidak menggunakan uang yang 100 ribu itu untuk naik taksi atau Grab.”

Jawabnya, “Kalau ibu gunakan, ibu khawatir nanti tidak bisa sedekah. Uang 100 ribu ini, lalu ibu gunakan untuk membeli nasi dan lauk pauk ala kadarnya. Ya alhamdulillah dapat tujuh bungkus nasi.”

“Nasi-nasi itu buat siapa? Buat ibu dan anak Ibu?”

“Bukan. Nasi ini akan ibu bagikan ke tukang bersih-bersih. Tadi di MRT Lebak Bulus, ibu ndak mendapatkan mereka. Ibu berdoa, semoga di MRT Bundaran HI ada tukang bersih-bersih yang mau menerima sedekah Ibu.”

Mendengar jawaban itu, saya hanya bisa menangis. Ya Rabb, malu betul saya terhadap ibu ini. Uangnya padahal dicuri, tapi masih ingin memberi. Sedangkan Muta’ali, jangankan sedikit apalagi dicuri, banyak pun masih ingin terus diberi bukan memberi.

Tepat pukul 8.00 kami sampai di MRT Bundaran HI. Saya berkata kepada Ibu tadi. “Bu, bolehkah saya ikut membantu membagikan nasi-nasi itu kepada cleaning service?”

“Ndak usah merepotkan, nak.”

“Tidak, bu, saya bersyukur dipertemukan Allah dengan ibu hari ini.”

Saya yang awalnya hendak naik gojek, akhirnya saya putuskan naik Grab Car menuju Salemba bareng Ibu tadi. Ternyata kosan putranya tidak jauh dari UI Salemba.

Sebelum berpisah, saya tanya, “Ibu siapa namanya,

“Dijah”, jawabnya. Mungkin Khadijah yang dimaksud.

Abraham Maslow seorang pakar motivasi Barat mengatakan, level terendah seseorang ketika masih berkutat pada materi dan level tertinginya ingin dihargai dan selalu ingin dipuji. Bu Dijah, bukan hanya keluar dari level terendah, justru ketika uangnya dicuri sisanya malah disedekahkan lagi. Ia rela jalan kaki dari kampung Rambutan ke Stasiun MRT Lebakbulus. Bu Dijah tidak butuh penghargaan apalagi pujian. Penampilannya kumel bahkan tak sedap nirwangi. Hingga beberapa penumpang menghindarinya. Banyak yang baik rupa, tapi enggan memberi. Padahal kemuliaan bukan penilaian sesama, ia tak lain adalah hak prerogatif pencipta alam semesta.

Bu Dijah bagi saya adalah orang terkaya. Tak punya bahkan dicuri masih memberi. Banyak orang kaya, serba ada, tapi selalu mengepalkan jari bahkan selalu ingin diberi. Siapa yang kaya sebenarnya?

 

Abdul Muta’ali, Ditulis Perjalanan Pulang MRT HI-Lebak Bulus, 25 Juli 2019

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

BURUK DI AKHIR

Oleh: M Rizal Fadillah (Pemerhati Politik dan Keagamaan)   Banyak tokoh apakah pejabat, politisi, cendekiawan, ...