Home / Artikel / Humaniora / Nasehat Kematian K.H. Maimoen Zubair

Nasehat Kematian K.H. Maimoen Zubair

Oleh Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)

 

KH. Maimoen Zubair (Foto : Tribun)

 

Kabar duka datang dari tanah suci. K.H. Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen menghembuskan nafas terakhirnya pada hari Selasa, 6 Agustus 2019 jam 04.30 dini hari waktu Saudi Arabia. Mbah Moen meninggal di usia sekitar 91 tahun. Indonesia berduka. Ulama panutan itu telah pergi menghadap Allah SWT.

Andai kematian dapat memilih tempat dan peristiwa, kematian Mbah Moen adalah kematian terindah. Betapa tidak, beliau meninggal saat berada di tanah suci Mekkah dan dalam persiapan akan menunaikan ibadah haji. Dua kemuliaan yang tergabungkan sekaligus.

Di antara para sahabat Nabi, Umar bin Khattab (radiallahu anhu) adalah orang yang sering berdoa agar meninggal di tanah suci. Umar acapkali berdoa, “Ya Allah, matikanlah aku dalam keadaan syahid dan di kota suci-Mu ini, Madinah al-Munawarah”. Orang-orang berkata, bagaimana Umar ingin mati syahid tapi dia berada di tanah suci Madinah. Bukankah tidak pernah ada perang di dalam kota Madinah?

Rupanya, Allah SWT mengijabah doa Khalifah kedua itu. Umar bin Khattab meninggal setelah ditikam oleh seseorang saat menunaikan shalat. Dalam riwayat diceritkan, saat sakaratul maut itu, Abdullah bin Umar, puteranya, mengatakan pada Umar, “Ayah, bunda Aisyah telah mengizinkanmu untuk dimakamkan di samping dua orang yang kau sayangi, Rasulallah SAW dan Abu Bakar”. Umar pun menghembuskan nafas terakhirnya.

Sedangkan sahabat Nabi Abu Dzar al-Ghifari, meninggal saat orang-orang bersiap menunaikan ibadah haji. Ketika itu, Abu Dzar mendekati kematiannya, istrinya menangis. Abu Dzar bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Sang istri menjawab, “Bagaimana aku tidak menangis, sementara engkau akan meninggal di negeri yang tandus ini, dan kita tidak punya kain untuk mengkafanimu”.

Abu Dzar berkata, “Tak usah bersedih. Aku beri kabar gembira untukmu. Suatu hari aku mendengar Rasulallah SAW bersabda, aku dan para sahabat lainnya ada di situ, ‘Di antara kalian akan ada yang meninggal di padang pasir yang tandus dan disaksikan oleh sejumlah orang-orang beriman’. Tak ada seorangpun dari para sahabat itu yang meninggal di padang tandus begini. Mereka meninggal di perkampungan dan di tengah-tengah masyarakat. Akulah yang akan mati di tempat tandus ini. Demi Allah, aku tidak berdusta…”.

Di padang yang tandus itu, tiba-tiba ada serombongan kafilah haji yang lewat. Demi mendengar suara tangisan dari balik gubuk yang kecil, mereka berhenti dan bertanya-tanya, ada apa? Seseorang di antara mereka mengenali, subhanallah, ini Abu Dzar, sahabat Nabi yang mulia. Mereka menghentikan perjalanannya dan mengurus seluruh prosesi pemakaman Abu Dzar al-Ghifari”.

Karena itu, tidak sedikit orang yang berharap meninggal di tanah suci dan saat menunaikan ibadah haji. Sebab, Rasulallah SAW menjanjikan keutamaan-keutamaan itu.

Antara lain, Pertama: orang itu termasuk syahid. Rasulallah SAW bersabda, “Barang siapa yang meninggal dunia dalam perjalanan haji, ia seperti orang yang mati di jalan Allah,” (HR Muslim).

Kedua: Dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan mengucapkan talbiyah. Diriwayatkan “Ketika seseorang tengah melakukan wukuf di Arafah, tiba-tiba terjatuh dari hewan tunggangannya lalu hewan tunggangannya menginjak lehernya sehingga meninggal. Maka, Rasulallah SAW bersabda: ‘Mandikanlah dengan air yang dicampur daun bidara lalu kafanilah dengan dua potong kain’ –– dalam riwayat yang lain, ‘dua potong kainnya’––dan jangan diberi wewangian. Jangan ditutupi kepala dan wajahnya. Sesungguhnya, ia akan dibangkitkan pada hari kiamat nanti dalam keadaan bertalbiyah”. (HR Bukhari-Muslim).

Sebab kematian akan mendatangi setiap anak manusia, siap ataupun tidak, maka Ali bin Abi Thalib berkata, “Kematian bagi kita semua bagaikan anak panah yang tak pernah keliru. Dia yang luput dari anak panah itu pada hari ini, tak akan pernah luput di hari yang lain”.

Untuk itu, bnul Qayyim berpesan, “Seorang hamba, (hendaklah selalu sadar) bahwa ada Tuhan yang (kelak) akan dijumpainya, dan rumah yang dia adalah penghuninya. Maka, hendaklah hamba itu selalu berusaha untuk membuat Tuhannya ridha sebelum berjumpa dengan-Nya, dan membuat nyaman rumahnya sebelum dia (suatu saat) berpindah ke rumahnya itu”.

Demi melihat banyaknya kutipan pesan-pesan terakhir Mbah Moen di media sosial, saya tertarik untuk mengutip pesan Abdullah bin Mas’ud saat ajal menjemputnya. Dia berpesan pada puteranya, dengan berkata, “Ya Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud, aku ingin berpesan padamu tentang lima hal. Berjanjilah untuk menjalankan pesanku ini.

Pertama: Hilangkanlah rasa putus asa dari hadapan orang banyak, sebab demikianlah kaya yang sesungguhnya.

Kedua: Tinggalkan mengemis untuk kebutuhan hidupmu dari orang lain, sebab yang demikian itu adalah kemiskinan yang kau datangkan sendiri. Ketiga: Tinggalkan hal-hal yang kau anggap tak berguna. Jangan sekali-kali sengaja kau mendekatinya. Keempat: Jika kau mampu, janganlah sampai terjadi padamu satu hari di mana hari itu lebih buruk dari harimu kemarin. Kelima: Jika engkau shalat, lakukanlah dengan sungguh-sungguh. Resapi dan renungkan seakan engkau tak akan shalat lagi setelah itu.

Mbah Moen pergi meninggalkan kita semua saat bangsa ini butuh suri tauladan yang tak sekedar diucap lewat kata-kata. Semoga Allah merahmati almarhum dan menempatkannya di surga-Nya kelak. Amin.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Serial Sufi Moderen (1)

Berbuka Puasa dengan Jimak Oleh : Thabrani Sabirin, MA   Siapakah Sufi itu? Dalam sejarah Islam ...