Home / Sastra / Cerpen / Murni

Murni

Oleh : Cak Choirul

Stasiun Bandung, sebuah ilustrasi (Foto : Tempo)

 

Lebih dari 200 penumpang kereta api di Stasiun Bandung petang itu mulai gelisah setelah moda angkutan yang seharusnya mengantarkan mereka ke Jakarta tidak kunjung tiba. Sebagian dari mereka ada yang mengumpat, selebihnya bermain game di hape atau mendengarkan musik jalanan yang disediakan pengelola stasiun.

Di antara para penumpang itu ada Murni yang juga menampakkan kegelisahan. Gadis yang baru lulus kuliah itu sesekali menggigit kukunya yang bercat merah jambu, mengibaskan rambutnya, menyilangkan kaki yang tertutup sepatu ket, dan mengetuk-ketukkan kukunya di sandaran kursi stasiun.

Sementara itu, kegeraman penumpang tak berkurang meskipun kepala stasiun berkali-kali meminta maaf seraya menjelaskan melalui pengeras suara bahwa keterlambatan kereta api lantaran ada tanah longsor di Bukit Silau. Akibat bencana tersebut, sebagian rel ganda yang menghubungkan Bandung -Jakarta tak bisa dilalui.

“Kami meminta maaf dan pengertian bapak dan ibu sekalian akibat keterlambatan ini. Kami telah berusaha keras mengatasi musibah yang tak kita inginkan. Beberapa saat lagi hambatan tanah longsor akan teratasi sehingga kereta bisa lewat.”

Permintaan maaf kepala stasiun itu tak dihiraukan Murni. Bisa jadi dia sama sekali tak medengarkan apa yang disampaikan pemimpin perjalalan kereta api itu. Murni fokus berbalas pesan melalui hape dengan Abdi, kakak kelasnya di Fakultas Kedokteran Hewan yang kini menekuni usaha peternakan sapi di Desa Ronggeng.

“Kenapa sih kamu ini, Abdi?” tulisnya di hape.

“Nanti aku jelaskan semuanya, kita ketemu di Bakso Malang sebelah alun-alun kota. Kamu mau ya, please!”

“Atau kita makan siang bareng di Café Sodok sebelah Bioskop Satria yang ada di depan alun-alun kota. Aku tahu makanan kesukaanmu ada di café itu. Ada tahu genjrot, rujak uleg, steak domba. Aku traktir deh…”

Seluruh pesan itu tak mendapatkan respon Abdi. Dua jam kemudian, Abdi membacanya dan menjawab singkat, “Aku lagi malas.”

“Please aku mohon deh jangan marah kayak gini. Aku tersiksa, Ab!”

“Jelasin dong, masa sih marahan gak kelar-kelar. Entar jadi batu lho kayak patung Si Malin Kundang!”

“Udah deh Murni ga usah banyak tanya. Kamu ngapain saja kemarin sore. Naik motor sama siapa, kemana kamu pergi, ha….”

“Eits…jangan sewot dulu Pangeranku. Neh, aku jelasin ya. Tapi dengerin jangan digratisin.”

“Oks..”

Murni mulai rileks setelah Abdi mau menjawab pesan WhatsApp yang dikirim melalui hape Samsung J5 hadiah tantenya. Dentuman klason lokomotif yang mondar mandir di stasiun nyaris tak terdengar oleh kupingnya. Dia asyik dengan jawaban Abdi kendati bernada ketus.

“Wahai Pangeranku Abdi,” Murni membuka kalimat.

“Aku kemarin sore sengaja minta tolong teman kakakku dengan motornya. Sore itu jalanan macet total sehingga sulit ditembus mobil. Kamu tahu ga sih, aku kan ga bisa naik motor dan harus buru-buru. Mana mungkin aku naik kudamu, atau dokar kesayangmu. Iya kan, ngertiin dong!”

“Siapa yang memboncengmu. Kamu pake pegangan perut segala!”

“Wuaaah engga lah Pangeranku. Sweaarrr……lagian ngapain pegangan perut si gembul itu!”

“Kamu cemburu sama kuda laut itu. Janganlah, dia orang baik sahabat kakakku. Bahkan Kak Lamad itu sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Ayoo dong Abdi, jangan marah ya sayang…!”

“Oh ya, aku nyanyiin lagu kesukaanmu ya. Tapi janji, dengerin sampai habis. Sebentar aku rekam dan kukirim di hape ini ya. Abdi…ayooo janji…!”

“Iya, aku janji!”

“Janji apa?”

“Nah, maumu apa?”

“Mencintaiku…hihiiii…!”

“Udah deh…cepetan nyanyi..!”

“Sabar dong, Pangeranku. Aku kan perlu tarik napas panjang gegara kereta telat.”

“Abdi, aku mau nyanyi lagu Camelia ya. Kamu masih inget ga lagu ciptaan Ebit G Ade itu aku nyanyiin di deket tenda kita pas kemping di Gunung Pokak?”

“Inget, kenapa?”

“Ya….judesnya keluar lagi. Senyum dong sayang. Entar kasih sun pipi ya kalo udah denger laguku, mau kan?”

“Ga mau!”

“Pelit amat sih, ya uda deh kalo ga mau, neh denger aku nyanyi!’

Dia Camelia

Puisi dan pelitamu

Kau sejuk seperti titik embun membasahi daun jambu

Di pinggir kali yang bening….

Murni tak melanjutkan bait lagu berikutnya. Pengumuman kepala stasiun melalui pengeras suara membuyarkan lagu yang dinyanyikan Murni. “Brengsek neh, aku asik nyanyi direcokin…”

“Kampret…udah telat banyak omong pula,” Murni mengumpat.

Dia selanjutnya menulis pesan di hape. “Abdi, aku ingin cerita meskipun aku lebih suka kalo ketemu langsung denganmu. Tapi ga apa-apa, mungkin kamu sibuk atau masih marahan sama aku.

Aku kemaren minta tolong Kak Lamad karena terpaksa. Sebenarnya dia ga mau tapi karena kondisi mendesak akhirnya Kak Lamad bersedia. Bibiku saat ini dalam keadaan koma, tidak sadar, akibat ditabrak angkot waktu belanja ke pasar. Aku harus ke rumah sakit nengok bibi yang membesarkanku. Kamu ngerti kan. Aku sama sekali tak punya hubungan apa-apa dengan Kak Lamad, hanya sebatas meminta tolong nganter ke rumah sakit. Abdi…!”

“Kamu tahu, aku sangat suka ketika awal kita berkenalan di kampus. Kamu keliatan lucu, mukamu blepotan lempung setelah keluar dari kandang sapi di dekat kampus. Trus kamu tersenyum melihatku dan ingin berkenalan. Peristiwa itu sulit aku lupakan. Badanmu masih belum berotot seperti sekarang, tapi gagah apalagi saat naik kuda keliling kampus.”

“Aku cemburu ketika kamu berlama-lama bicara sama Narti, mahasiswa Fakultas Hukum. Please Abdi, aku sangat mencintaimu…!”

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Apa Arti Cinta Seorang Ayah?

thayyiba.com :: Angin mulai berhembus, seolah-olah menginginkan makhluk di sekitarnya ikut menari seperti dedaunan yang ...