Home / Catatan / Catatan Lepas / Manusia Pengembara

Manusia Pengembara

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Pengembara, sebuah ilustasi (Foto : Istimewa)

 

Suatu hari, Rasulullah ﷺ memegang pundak Abdullah bin Umar. Beliau ﷺ kemudian berpesan,

كُنْ في الدُّنْيا كأَنَّكَ غريبٌ، أَوْ عَابِرُ سبيلٍ

“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau pengembara.”

Rupanya putra Umar bin Khattab itu sangat terkesan dengan ucapan singkat Rasulullah ﷺ hingga dia berkata, “Jaga nikmat hidupmu sebelum ajal menjemputmu”. Demikian pula seharusnya kita.

Bukankah setiap capaian dunia hanyalah halte demi halte untuk sampai pada terminal akhir kehidupan, yaitu kematian?

Pada hakikatnya, manusia memang hanya musafir. Hingga Ibnul Qayyim, berkata, “Manusia sejak tercipta dilahirkan untuk menjadi pengembara”.

Sifat pengembara dalam diri manusia merupakan sebuah keniscayaan kehidupan sebagaimana diungkapkan oleh Imam Syafii,

والأسدُ لولا فراقُ الأرض ما افترست،

والسَّهمُ لولا فراقُ القوسِ لم يصب

“Bahkan, seekor singa jika tak hidup di alam bebas, tak akan pandai berburu, dan anak panah yang tak pernah dilepaskan dari busurnya tak akan menemui sasarannya”.

Sayangnya, sifat pengembaraan manusia sering membuatnya alpa dalam pengembaraannya di padang sabana kehidupan. Manusia menjadi rakus dalam berburu rezeki.

Manusia berpikir, rezeki adalah uang. Padahal, sebuah cinta dari seorang istri pun adalah rezeki. Bukankah Rasulullah ﷺ menyebut cinta Khadijah dengan berkata, “Aku telah diberi rezeki dengan cintanya”.

Sering kali manusia tak pandai bersyukur atas karunia rezeki yang melimpah. Padahal, Allah berjanji untuk memberi lebih jika seorang hamba pandai bersyukur. Ibnul Qayyim berkata,

لَو رُزٍقَ العَبدَ الدُنيَا بِمَا فِيَها ثُمَ قَالَ “الحَمدُ لِلَه ” لَكاَنَ إِلهَامَ اللهُ لَهُ باِلحَمدِ أَعْظَم نِعمَةََ مِنْ إِعْطَائِهِ الدُنْيَا لأنَ نَعيمَ الدُنيَا يَفنَى وَثوابُ الحَمْدِ يَبقَى.

“Sekiranya seorang hamba mendapat seluruh rezeki dunia, kemudian dia berkata, “alhamdulillah”, niscaya pemberian Allah kepadanya dengan ucapan hamdallah itu lebih besar dari pada segala nikmat dunia yang telah diterimanya. Sebab, nikmat dunia kelak berakhir sedangkan pahala atas ucapan “alhamdulillah” kekal hingga yaumil akhir”.

Manusia memang sering mengalami krisis keyakinan soal rezeki. Krisis itulah yang mengantarkan manusia menjadi serakah, korup, manipulatif, dan merampas hak-hak orang lain. Wallahu a’lam bis showwab.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

Oleh:  Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Suatu hari, ketika jumlah kaum muslimin semakin ...