Home / Catatan / Catatan Lepas / Tiga Pesan tentang Usia

Tiga Pesan tentang Usia

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Perjalanan usia manusia, sebuah ilustrasi (Foto : AyoBandung)

 

Saudaraku, pada kesempatan singkat ini, mari kita renungi sejenak salah satu nikmat Allah SWT yang sering sekali manusia lalai dan melupakannya, yaitu nikmat usia.

Tak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia. Bila sedetik berlalu dari kehidupan kita, sesunggunya ia telah menjadi masa lalu, bagian sejarah dalam kehidupan anak cucu Adam di muka bumi ini.

Pertanyaannya, sudahkah kita hidup dengan mengoptimalkan setiap detik usia atau menyia-nyiakannya?

Hal ini penting mengingat masih banyak yang berfikir ia baru akan berbuat baik, pergi ke masjid, mengaji dan ibadah lainnya nanti setelah usia lima puluhan, enam puluhan bahkan tujuh puluhan. Padahal kematian tak harus menunggu usia tua dan renta.

Di tulisan singkat ini, saya ingin kemukakan tentang tiga hal terkait usia.

Pertama: Manusia dihisab atas usianya.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal, Rasulallah ﷺ bersabda,

لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن أربع خصال عن عمره فيما أفناه وعن شبابه فيما أبلاه وعن ماله من أين اكتسبه وفيما أنفقه وعن علمه ماذا عمل فيه

“Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat hal: Usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, serta ilmunya, apa yang ia telah perbuat dengannya.”

Setiap manusia akan ditanyakan tentang usia yang telah diberikan padanya. Bahkan secara khusus, akan juga ditanyakan tentang usia mudanya. Apa yang telah kita lakukan sepanjang masa muda itu?

Barangkali, penyebutan secara khusus tentang masa muda, karena pada masa itulah kita tengah membentuk diri kita, menentukan jati diri, dan melakukan revolusi besar dalam sejarah hidup; menikah, berkeluarga, memiliki keturunan, membangun karir dan melakukan segala aktivitas duniawi.

Bila kita renungi lebih jauh, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh rangkaian kewajiban agama juga merupakan peringatan tentang perjalanan usia.

Lihatlah bagaimana permulaan masuk waktu subuh, misalnya. Tatkala malam membuka selimut fajarnya, berdirilah seorang muadzin menyerukan setiap insan yang tengah terlelap dalam tidurnya, “hayya ala shalah”. (Marilah tunaikan shalat) “As-shalatu khairu min nawum”. (Shalat itu lebih baik daripada tidur).

Jiwa yang suci akan menjawab panggilan itu dengan segara melakukan shalat subuh. Ia akan membasuh wajahnya dengan air wudhu, membersihkan dirinya dari belenggu syaitan dan menyambut harinya dengan hati yang bersih. Sementara jiwa yang terbuai dalam nina-bobo syaitan akan menarik selimutnya, melanjutkan mimpi-mimpinya, hingga ia kehilangan waktu yang sangat indah.

Kedua: Usia cepat sekali berlalu.

Untuk itulah, para ulama terdahulu, dalam upayanya optimalisasi setiap detik kehidupan yang dijalaninya, mengatakan, shalat lima waktu adalah “neraca harian” kita. Shalat Jum’at merupakan “neraca pekanan”, puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam “neraca tahunan” dan menunaikan haji menjadi “neraca atau timbangan usia” kita.

Jika setiap muslim melakukan kalkulasi dengan benar pada neracanya itu niscaya ia akan beruntung dalam menapaki kehidupan ini. Umar bin Khattab berkata, “Barangsiapa yang hari ini sama dengan harinya yang kemarin, maka dia adalah orang yang tertipu. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang tercela”.

Waktu laksana angin, ia berhembus cepat baik saat kita senang ataupun susah. Dan, manakala maut datang menjemput, masa-masa yang panjang yang pernah dilalui seseorang hanyalah merupakan bilangan masa pendek yang berlalu bagaikan kilat. Jika akhir dari usia adalah kematian, maka panjang-pendeknya usia seseorang hanya tertulis di batu nisan.

Ketika Nabi Nuh, seorang rasul yang berusia ratusan tahun hendak dicabut nyawanya, malaikat bertanya, “Wahai Nuh yang memiliki umur terpanjang, bagaimana kamu mendapati kehidupan dunia ini.” Nuh menjawab, “Dunia ini laksana rumah yang memiliki dua pintu, saya masuk dari pintu yang satu dan segera keluar dari pintu yang lain.”

Maka, bila Nabi Nuh yang berusia sangat panjang itu merasa hanya sebentar di dunia, begitulah pula orang-orang kafir saat akan dihisab kelak. Allah berfirman,

كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَهَا لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا عَشِيَّةً أَوْ ضُحَاهَا

“Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melaikan (sebentar saja) yaitu di waktu sore atau di waktu pagi. (QS: An-Nazi’at ayat 46)

Untuk itulah, sering kita dapati orang yang meratapi masa mudanya saat ia telah berusia renta, lanjut dimakan zaman, rapuh dikikis angan-angan.

Karena itu pula, Ibnu Mas’ud, seorang sahabat Nabi ﷺ berkata, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu. Penyesalanku hanyalah pada hari yang telah berlalu, dimana umurku berkurang dan amalku tidak kunjung bertambah”.

Ketiga: Usia adalah harta termahal.

Hasan al-Basri, penyair Sufi mengatakan,

يا ابن آدم انما انت أيام فإذا ذهب يومك ذهب بعضك

“Wahai anak Adam, sesungguhnya kalian kumpulan dari hari-hari. Setiap kali hari berlalu, berlalu pula sebagian dari (diri)mu”.

Kita boleh jadi kehilangan emas permata, sesuatu yang mahal dan berharga. Namun, kehilangan itu bisa kita miliki lagi dengan membeli yang baru.

Kehilangan usia, tak pernah bisa kita ganti. Manusia melewati waktu dan terus menuju tua, dengan bertumbuh uban di kepala. Allah berfirman,

ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن ضَعْفٍۢ ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ ضَعْفٍۢ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنۢ بَعْدِ قُوَّةٍۢ ضَعْفًا وَشَيْبَةً ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَآءُ ۖ وَهُوَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْقَدِيرُ

Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan (kamu) sesudah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa”. (QS Ar-Rum: 54)

Menutup tulisan ini, patut kita renungkan nasehat singkat Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah. Kata beliau,

لاَ نَوْمَ أثْقَلُ مِن الْغَفْلَةِ، وَ لاَ رِقَ أمْلَك مِنَ الشَهْوَةِ، وَ لاَ مُصِيْبَة كَمَوْتِ الْقَلْبِ، وَ لاَ نَذِيْرَ أبْلَغ مِن الشَيْبِ.

“Tak ada tidur yang lebih lelap dari kelalaian. Tak ada perbudakan yang lebih menguasai (manusia) dari hawa nafsu. Tak ada musibah yang (lebih dahsyat) dari matinya hati, dan tak ada peringatan yang lebih sempurna dari uban (yang menyala di kepala)”. 😓😓😓

Semoga kita pandai mengoptimalkan nikmat usia. Wallahua’lam bis showwab.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

Oleh:  Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Suatu hari, ketika jumlah kaum muslimin semakin ...