Home / Catatan / Catatan Lepas / Manusia Pembelajar

Manusia Pembelajar

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Ulama menulis buku, sebuah ilustrasi (Foto : Chandra2015)

 

Saudaraku, sikap asasi seorang muslim adalah manusia pembelajar. Belajar adalah ibadah yang bernilai pahala berlipat ganda. Dengan belajar, seseorang menjadi cerdas dan memiliki masa depan yang lebih cerah. Imam Syafii mengatakan,

ومنْ لم يذق مرَّ التعلمِ ساعةً * تجرَّعَ ذلَّ الجهل طولَ حياته

ومن فاتهُ التَّعليمُ وقتَ شبابهِ * فكبِّر عليه أربعاً لوفاته

“Siapa orang yang tak pernah merasakan sulitnya belajar; * dia akan terus dikungkung kebodohan sepanjang hidupnya – Dan, siapa orang yang terlewat untuk belajar di masa mudanya * mari takbir empat kali (shalat jenazah) atas kematiannya”.

Maka, demikianlah kita mendengar Rasulallah ﷺ menganjurkan umatnya untuk terus belajar. Bahkan, Rasulallah ﷺ mengatakan,

فَضْلَ العالمِ على العَابِدِ كَفضل القمر ليلة البدرِ على سائرِ الكَوَاكِب

“Keutamaan seorang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti (keutamaan cahaya) bulan purnama atas seluruh bintang-gemintang” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Ilmu pengetahuan yang dipelajari harus menjadi jembatan untuk mendekatkan dirinya kepada Allah SWT. Dalam sebuah hadits dari Abu Darda radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulallah ﷺ bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ ، وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ ، وَإِنَّهُ لَيَسْتَغْفِرُ لِلْعَالِمِ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ هُمْ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ لَمْ يَرِثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَإِنَّمَا وَرِثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya di antara jalan menuju surga. Sesungguhnya malaikat meletakkan sayapnya sebagai tanda ridho pada pencari ilmu. Sesungguhnya orang yang berilmu dimintai ampun oleh setiap penduduk langit dan bumi, sampai pun ikan yang berada dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang yang berilmu dibanding ahli ibadah adalah seperti perbandingan bulan di malam badar dari bintang-bintang lainnya. Sesungguhnya ulama adalah pewaris para Nabi. Sesungguhnya Nabi tidaklah mewariskan dinar dan tidak pula dirham. Barangsiapa yang mewariskan ilmu, maka sungguh ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar.” 

 Islam tidak pernah membedakan ilmu dunia atau akherat, ilmu umum atau ilmu agama. Perbedaan itu terjadi karena keterbatasan manusia untuk menguasai semua disiplin ilmu. Kemampuan akal manusia sangat fakultatif sehingga diperlukan fakultas-fakultas ilmu.

Ilmu adalah anugerah ilahiyah. Tidak mungkin diperoleh kecuali dengan pertolongan dan taufik dari Allah. Karena itu, di antara doa yang paling agung yang adalah firman Allah SWT,

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“dan katakanlah, Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS:Thaahaa: 114).

Dari Ummu Salamah radhiallahu ‘anha, bahwa Rsulallah ﷺ setiap selesai shalat subuh mengucapkan doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا ، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik dan amal yang diterima.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah).

Oleh karena itu, hendaknya para pembelajar senantiasa meminta pertolongan kepada Allah SWT, memohon taufik kepada-Nya. Dan Allah sekali-kali tidak akan pernah mengecewakan doa seseorang yang tulus meminta kepada-Nya.

Puncak dari segala ilmu adalah yang mendatangkan rasa takut kepada Allah SWT. Bukan kesombongan apalagi sampai menantang-Nya. Allah SWT berfirman,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya adalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Faathir: 28).

Jadi, ilmu pengetahuan yang tidak mendatangkan ketaatan kepada Allah adalah kesia-siaan. Karena itulah, Ibnu Mas’ud mengatakan,

كفى بخشية الله علما

“cukuplah rasa takut kepada Allah disebut sebagai ilmu pengetahuan”.

Apalah artinya banyak gelar, jika tak pernah gelar sajadah. Capaian-capaian dunia hanyalah halte dari fase kehidupan kita. Hari ini Anda diwisuda, bergelar S-1, (SAg, S.H., SIP, SSos, Shut atau apapun embel lainnya). Esok lusa mungkin bergelar S-2, bahkan S-3 (doktor), tapi semua itu menjadi sia-sia jika tak mendatangkan ketaatan kepada Allah SWT. Sebab, suatu hal yang pasti, semua manusia akan bergelar Alm. Ya, itulah almarhum. Ketika seluruh episode kehidupan dunia kita berakhir. dan gelar itu disematkan saat jasad telah dikembalikan ke bumi. Sesungguhnya semua milik Allah, dan hanya kepada-Nya segala hal kembali.

Maka, barangsiapa yang kehilangan rasa takut kepada Allah SWT di dalam hatinya, dia tidak disebut sebagai ilmuwan, betapapun banyak gelar akademis yang disandangnya. Takut kepada Allah adalah esensi dan puncak keilmuan seseorang. Semakin besar rasa takut yang mendatangkan ketakwaan kepada Allah, maka akan semakin tampak bersih hatinya, bagus akhlaknya, berbinar wajahnya, lembut tutur-katanya dan ilmunya mendatangkan kemaslahatan bagi umat manusia.

Karena itu, menghadirkan kecintaan kepada Allah dan Rasulallah ﷺ adalah prasyarat utama dalam belajar. Apabila hati sudah dipenuhi dengan kecintaan kepada Allah SWT dan Rasulallah SAW niscaya akan semakin baik keadaan seorang hamba, dan semakin berkualitas amalnya.

Apabila ia mencintai Allah dengan tulus, maka amalannya akan ikhlas hanya untuk-Nya. Apabila seseorang mencintai Rasulullah dengan tulus, maka ia akan menjadikannya satu-satunya teladan dalam beribadah. Ia akan berusaha bagaimana agar amalnya ini sesuai dengan apa yang telah beliau ajarkan.

Para pembelajar hendaklah menjauhkan dirinya dari tempat yang sia-sia. Majelis yang hanya mendatangkan gurau, gelak canda. Majelis-majelis yang membuat hati menjadi sakit dan iman menjadi lemah. Ia senantiasa bersama orang-orang yang menginspirasi dan memudahkannya dalam belajar. Demikianlah memang, seseorang yang terbiasa berkumpul dengan orang yang baik, hal itu akan membawanya kepada kebaikan. Ia akan merasakan ringan dan mudah untuk beribadah.

Bagi setiap pembelajar, adab harus benar-benar diperhatikan. Para ulama menjelaskan adab-adab tersebut dalam kitab-kitab mereka agar penuntut ilmu bisa merasakan buah ilmu dan mewujudkan ilmu mereka dalam keseharian. Bahkan, Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, “Adab itu hampir sepertiga bagian agama ini.” Wallaua’lam bis showwab.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

Oleh:  Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Suatu hari, ketika jumlah kaum muslimin semakin ...