Home / Catatan / Catatan Lepas / Bertongkat dan Usia 40-an

Bertongkat dan Usia 40-an

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Bertongkat (Foto : Pngtree)

 

Pagi itu, seorang teman kecil saya di Pesantren Attaqwa dulu, mengunggah sebuah foto di akun facebook-nya sedang memegang tongkat. Teman itu bernama K.H. Syarkowi Mukhtar. Beliau sekarang mengelola pesantren di kampung Pondok Soga, Kec. Babelan, Kab. Bekasi. Apa yang menarik adalah, beliau tidak sedang belajar jalan karena serangan stroke, misalnya. Beliau hanya ingin mencoba menjalankan kebiasaan para Nabi dan para ulama, bertongkat.

Saya jadi teringat almarhum guru kami di pesantren Attaqwa dulu. Beliau adalah K.H. Noer Alie, pahlawan nasional, yang selalu mengenakan tongkat di usia senjanya, padahal beliau juga tidak sakit atau lemah. Suatu hari ketika kami duduk sorogan baca kitab fiqh “I’anatut Thalibin”, di Pesantren Tinggi Attaqwa (PTA), almarhum Pak Kyai pernah bilang, “orang yang sudah di atas 40 tahun tidak memakai tongkat (dalam berjalan), orang itu tergolong sombong”.

Pelan-pelan saya cari sumber ucapan almarhum Pak Kyai itu. Ternyata, beliau mendasari ucapannya pada sebuah ungkapan bijak,

مَنْ بَلَغَ الْأَرْبَعِينَ وَلَمْ يُمْسِكِ الْعَصَا فَقَدْ عَصَى

“Barangsiapa yang telah mencapai usia empat puluh tahun dan tidak menggunakan tongkat, maka dia telah berbuat maksiat”

Para ulama mengatakan, ungkapan di atas itu memang BUKAN sebuah hadits Nabi. Tetapi semacam nasehat saja agar kita sadar bahwa salah satu kebiasaan para Nabi adalah menggunakan tongkat.

Di dalam al-Qur’an, Allah SWT menceritakan tentang kebiasaan Nabi Musa (AS).

وَمَا تِلْكَ بِيَمِينِكَ يَا مُوسَى : قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآرِبُ أُخْرَى — سورة طه: 17-18

“Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa?” Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain”. (QS Taha: 17-18)

Rasulallah SAW sendiri, dalam riwayat yang disampaikan dari Abi Umamah, juga menggunakan tongkat jika berjalan, terutama di masa tuanya.

خرج إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم متوكئا على عصاه

Rasulallah SAW keluar menemui kami, dan dia bertumpu (dalam berjalan) pada tongkatnya.

Intinya, menggunakan tongkat dalam berjalan adalah hal yang sangat baik, apalagi jika Anda sudah berusia di atas empat puluh tahun.

Ada satu catatan dalam manaqib Imam Syafii berbunyi begini:

سئل امام الشافعي رحمه الله: ما لك ٓتكثر من امساك العصا، ولستٓ بالضعيف؟ قال الشافعي ؛ لاتذكر اننى مسافر

“Imam Syafii ditanya, ‘Ada apa denganmu selalu membawa tongkat padahal engkau tidak lemah?’ Imam Syafii menjawab, “agar aku selalu ingat bahwa aku (hidup di dunia) ini hanyalah seorang musafir”.

Anda yang berusia 40-an, mungkin saat ini tengah berada di puncak karir. Jika Anda politisi, mungkin juga baru saja dilantik sebagai anggota dewan. Dilantik pula sebagai Bupati, Walikota, Gubernur atau Presiden. Lalu Anda pun merasa sedang gagah-gagahnya. Saudaraku, perbanyaklah memegang tongkat. Sadarlah bahwa semua adalah titipan. Amanah.

Suatu hari, Umar bin Abdul Aziz ditanya oleh seorang ulama yang bernama Ibn Ziyad, “Aku memperhatikanmu sebelum memegang kekuasaan dan saat masih di Mekkah engkau terlihat sehat, segar dan penuh senyum. Sekarang, setelah dilantik, engkau sangat berubah menjadi tua dan penuh beban padahal baru tiga bulan engkau menjadi khalifah?.

Umar bin Abdul Aziz menjawab, “bagaimana ya Ibn Ziyad jika engkau melihatku di kubur setelah tiga hari saja. Tanpa anak, tanpa pakaian, tanpa sahabat dan hanya berteman debu dan tanah. Aku lebih takut dari hari-hari itu. Demi Allah, bagaimana kira-kira keadaanku setelah tiga hari itu saja”.

Maka, kekuaaaan Umar bin Abdul Aziz pun penuh kesuksesan. Sedemikian suksesnya, sampai ada cerita menarik berikut ini. Suatu hari, para petugas pengelola baitul maal datang kepadanya. Mereka melaporkan saldo baitul maal yang masih tersisa; mau diapakan lagi?.

Umar bin Abdul Aziz perintahkan, berikanlah kepada para fakir-miskin. Mereka menjawab, “sudah tidak ada lagi orang miskin di negeri ini, wahai Amirul Mukminin.” Jika demikian, kata Umar lagi, biaya pernikahan anak-anak muda. “Kami sudah membiayai seluruh anak muda yang menikah. Mereka malah sedang asyik berbulan madu, wahai amirul mukminin”.

Jika demikian, Umar melanjutkan lagi, bayarkan seluruh hutang warga non-muslim: kalangan Yahudi dan Nasrani. “Kami sudah membayarkan hutang-hutang mereka. Tak ada seorang pun yang dililit hutang sekarang”.

Umar bin Abdul Aziz kemudian menginstruksikan: “Jika demikian, belilah gandum dan letakan di atas gunung, agar tak ada burung yang kelaparan di negeri ini”.

Mengingat akan kematian membuat seorang khalifah sadar apa esensi kekuasaan di usia 40-an. Maka demikiankah pula kita dengar kisah Utsman bin Affan saat jadi khalifah.

Dikisahkan, ketika Utsman ibn Affan menjadi khalifah, dia seringkali menangis bila melihat iring-iringan membawa jenazah. Bahkan Utsman pernah pingsan dan harus digotong ke rumahnya. Saat siuman dia ditanya, “Ada apa dengan-mu, wahai Amirul Mukminin?” Utsman menjawab, aku mendengar Rasulallah SAW berkata, “Kubur adalah terminal pertama seorang hamba, apabila sukses disana, niscaya dia akan hidup senang dan bahagia. Jika tidak, niscaya dia akan terus merugi selamanya”.

Maka, dengarlah pesan Ali bin Abi Thalib:

رأيت الدهر مختلفاً يدورُ * فَلاَ حزْنٌ يَدُومُ ولا سُرُوْرُ

وقد بنت الملوك به قصوراً * فلم تبق الملوك ولا القصور

“Aku saksikan roda kehidupan terus menerus berputar * Tak ada kesedihan yang abadi, demikian halnya juga kebahagiaan.

Sungguh, para penguasa telah membangun istana yang megah * Para penguasa itu akhirnya binasa, demikian juga istana-istana mereka”.

Kekuasaan dan usia gagah 40-an tidak boleh melenakan kita. Bertongkat, seperti kata Imam Syafii di atas, mengingatkan seseorang akan kesementaraan dunia.

Imam Ibnul Qayyim pun berpesan,

“لَابُدَ لِلْمَرْءِ أنْ يَقِفَ مَعَ نَفْسِهِ وَقَفَاتُ، يُفَكِرُ وَيَتَأمَلُ وَيُوَازِنُ لِيَعْرِفَ إِلَى أيْنَ يَسِيرُ؟ فَصَلاَحُ القَلْبِ بمُرَاجَعَةِ النَفْسِ، وَفَسَادُهُ بإهْمَالِهَا وَالاسْتِرْسَالِ مَعَهَا”.

“Seseorang hendaklah rajin berhenti sejenak; berfikir, merenung dan menimbang-nimbang agar ia sadar telah kemana langkahnya? Untuk memperbaiki hati diperlukan introspeksi diri; kerusakan hati adalah membiarkannya tenggelam dan hanyut dalam buaian angan”.

Demikianlah para pemimpin dan ulama dulu ketika memasuki usia 40-an. Anak sekarang bilang, mereka generasi ZamanOld. Sedangkan generasi ZamanNow, usia empat puluh-an tahun sedang genit-genitnya. Bukan pegang tongkat, tapi pegang sisir dan tongsis terus.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

Oleh:  Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Suatu hari, ketika jumlah kaum muslimin semakin ...