Home / Artikel / Artikel Lepas / Sufi Moderen (8)

Sufi Moderen (8)

Wasiat buat Sufi : Jangan Berhenti Jima’

Oleh: Tabrani Syabirin

Kitab Ilya Ulumiddiin, karya Imam Al Ghazali (Foto : Istimewa)

 

Siapapun yang ingin menjadi Sufi di era moderen ini sebaiknya membaca wasiat dari Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali. Beliau menganjurkan agar hidup tenang maka sering-seringlah melakukan hubungan seks. Maksudnya tentulah dengan isteri-isteri. Mengapa demikian? Dalam tulisan ini akan kita ikuti nasehat Al-Ghazali, ada baiknya kita pahami kembali siapa Al-Ghazali ini.

Siapa Al-Ghazali?

Dalam khazanah Islam, ada tokoh-tokoh hebat yang berjasa kepada Islam. Namanya tetap harum sampai dewasa ini. Dia adalah Abu Hamid Muhammad Al-Ghazali (1056-1111 M).

Dia bergelar Hujjatul Islam. Yang berarti argumentasi Islam atau Sang pembela Islam. Al-Ghazali membela Islam sendirian dengan menulis buku. Saat itu membela Islam tidak mengarahkan massa turun ke jalan seperti yang kita saksi dewasa ini.

Gelar itu disematkan kepada Al-Ghazali karena kegigihannya mempertahankan keyakinan Islam dari cara berfikir filsafat Barat atau filsafat Yunani. Para Filosof di dunia Islam yang diserang habis oleh Al-Ghazali diantaranya adalah Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, AlFarabi. Alkindi dan lain-lain. Serangan Al-Ghazali ini beliau tulis dalam satu buku yaitu Tahafud Alfalaasifah تحافت الفلاسفة : Kerancuan para Filosof. Dalam buku tersebut Al-Ghazali menyebut ada 20 poin kesesatan para filosof. Beberapa poin sudah di situ termasuk menjadi kafir.

Al-Ghazali menulis banyak buku. Tapi yang banyak di baca adalah kitab Ihya’ Ulumiddiin احياء علوم الدين. Kitab yang sangat tebal berjilid-jilid. Dalam kitab itu Al-Ghazali menjelaskan sisi hakikat di balik amalan syariat. Buku ini menjadi referensi penting kaum Ahlussunnah wal Jama’ah. Selain itu al-Ghazali juga bermazhab Syafii.

Pembelaan Al-Ghazali terhadap Islam memang tidak tanggung-tanggung. Dia all out membela dari serangan para ahli filsafat yang sangat menyesatkan itu. Al-Ghazali sampai keluar dari penjara filsafat lalu menjadi seorang Sufi. Bahkan menurut penjelasan banyak ulama dia ingin mengikuti mazhab kaum Ahli Hadits seperti imam Bukhari, Muslim, Imam Ahmad dan ulama yang segaris dengannya. Tapi sayang ajalnya segera datang. Dia meninggal dalam usia muda, 56 tahun sambil memeluk kitab Sahih Bukhari.

Kalau ada kelemahan Hujjatul Islam dalam kitab-kitabnya adalah dia kurang teliti dalam menyeleksi hadits. Sehingga kitab Ihya’ Ulumiddiin penuh dengan hadits-hadits dha’if. Karena itu banyak ulama yang menyeleksi, meringkas dan membuang hadits-hadits dha’if dan maudhu’ itu. Diantaranya Imam Ibnul Qudamah merevisi total kitab karya Al-Ghazali itu dengan menulis kitab dengan judul baru yaitu Manhajul Qasidin.

Meskipun banyak dikritik, tapi popularitas dan pengakuan akan kehebatan Al-Ghazali dalam melumpuhkan argumentasi para filosof Barat tetap tidak tergoyahkan. Dia tetap bergelar Hujjatul Islam.

Dalam kitab احياء علوم الدين itu di pesantren menjadi bacaan wajib. Hanya saja ada bab yang terlewatkan atau memang kajiannya yang belum sampai ke situ, yaitu Bab Zawaj باب الزواج. Berikut ringkasannya:

وقال محمد بن زكريا من ترك الجماع مدة طويلة ضعفت قوى اعصابه واستد مجارها وتقلص ذكره

قال ورأيت جماعة تركوه لنوع من التفشف فبردت أبدانهم وعسرت حركاتهم ووقعت عليهم كابة بلا سبب وقلت شهواتهم ومضمهم.. إنتهى…

Muhammad bin Zakaria berkata, siapa meninggalkan jima’ dalam waktu yang lama, otot-ototnya akan menjadi lemah, peredaran darahnya terhambat dan zakarnya akan menyusut (mengkered).

 Kemudian ia juga berkata, Aku pernah melihat sekelompok orang meninggalkan berhubungan dengan alasan menghindari nafsu duniawi. Tidak lama kemudian ia merasakan demam, sulit bergerak, dilanda perasaan sedih dengan tanpa tahu penyebabnya, birahinya menjadi lemah dan pencernaannya tidak bisa berfungsi normal.

فتزوجوا وجامعوا تصحوا…

Menikah dan berjima’lah maka kalian akan sehat.

Ini rahasia banyak berhubungan seks.

كان ابن عقيل الحنبلي رحمه الله تعالى يقول :

كنت إذا ستغلقت على مسألة، دعوت زوجتي إلى الفراش,فإذا فرغت من أمرها قمت إلى قراطيس أصب العلم صبا. لأن الجماع يصفى الذهن ويقوى الفهم.

Al-Imam Ibnu ‘Uqail Al-Hanbali berkata: “Ketika aku terkunci pada suatu permasalahan (ilmu), maka aku panggil istriku untuk berhubungan. Ketika aku selesai, maka aku ambil kertas dan ku tuangkan ilmu ke atasnya (mulai mengarang kitab)”.

Jima’ dapat membersihkan pikiran dan menguatkan kepahaman.

وكان الجنيد يقول : أحتاج الى الجماع كماأحتاج الى القوت. فالزوجة على التحقيق قوت وسبب لطهارة القلب. ولذلك أمر رسول الله كل من وقع نظره على إمرأة فتاقت اليها نفسه ان يجامع أهله.

Al-Imam Al-Junaid Al-Baghdadi berkata : “Aku butuh bersetubuh sebagaimana aku butuh makanan (untuk asupan badan), maka seorang istri tak ubahnya asupan badan dan menjadi sebab bersihnya hati”. Oleh karena itu Rosulullah memerintahkan kepada setiap lelaki yang melihat perempuan yang membuat hati tertarik padanya, maka hendaknya menggauli istrinya.

قال الفقهاء : وعلى الرجل ان يشبع إمراته جماعا او وطأ كما يشبعها قوتا.

Para Pakar Fiqih berkata: “Wajib bagi lelaki untuk memuaskan istrinya dalam hubungan biologis, sebagaimana mengenyangkannya dengan makanan”.

Dalam bahasa orang Betawi, “Dua mulut bini-bini harus kenyang, cing”.

Dalam bab itu Al-Ghazali juga menyebutkan kehidupan Hasan bin Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu yang menikah puluhan wanita. Hasan adalah cucu Rasulullah Muhammad SAW yang disebut sebagai Pemuka Pemuda Sorga.

Semoga anda mengikuti nasehat Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali ini.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

3 Rangkaian Dosa: Buruk Sangka, Tajassus dan Ghibah

  Allah Ta’ala mengingatkan kita tentang adanya tiga rangkaian dosa yang bisa jadi kita terjatuh di dalamnya ...