Home / Kabar / Perjalanan / Clara

Clara

Oleh : Cak Choirul

Masjid Budapest (Foto : Istimewa)

 

KEINGINANKU menemukan masjid di Hungaria, salah satu negara di Eropa Timur, Alhamdulillah terwujud pada Senin 11 September 2019 lalu setelah hasrat itu terpendam sejak 2016, saat aku berkunjung ke negeri itu pertama kali.

Di pekarangan bangunan yang dikenal dengan sebutan Masjid Qatar oleh umat Islam sekitar, meskipun nama tempat ibadah itu sesungguhnya bernama Masjid Budapest, hatiku berbung-bunga seraya bersukur tak terhingga.

“Assalamualaikum, nama saya Choirul muslim Indonesia. Bolehkah saya salat di sini? Kebetulan saya belum salat dhuhur,” ucapku kepada seorang pria berusia 50-an tahun setinggi 180 centimeter di depan pintu masjid.

“Masya Allah, silahkan saudaraku. Mari saya antar ke tempat wudu, setelah itu silahkan salat di lantai dua,” balas pria yang belakangan kuketahui bernama Abdul Ghani sambil memelukku erat dan meminjami aku sandal setelah sebelumnya aku mencopot sepatu.

“Usai salat, saya tunggu di lantai bawah ya. Nanti kita ngobrol sejenak,” sambungnya.

Aku menganggukkan kepala sembari menuju tempat wudu yang terlihat resik, tidak ada bau pesing yang menyengat dari toilet di sebelahnya sebagaimana pernah kualami di beberapa masjid di tanah air.

“Tempat ini memang dikenal dengan Masjid Qatar, lantaran seluruh pembangunannya dibiayai oleh Emir Qatar. Pemerintah Hungaria hanya menyediakan lahan, selanjutnya ongkos pembangunan dan perawatannya ditanggung oleh Qatar,” kata salah seorang pengurus masjid berjenggot menutupi seluruh janggutnya.

Masjid Qatar atau Masjid Budapest berdiri di atas lahan lebih dari 1.000 meter berwarna merah bata setinggi tiga lantai. Bila ditilik dari jalan raya, bangunan ini tak seperti masjid seperti di Indonesia. Pelataran masjid sanggup menampung sekitar 50 mobil untuk parkir dan puluhan sepeda ontel. Gedung ini tidak ada menara, apalagi pengeras suara untuk panggilan salat.

Kendati demikian, Masjid Qatar dipenuhi jamaah ketika waktu salat tiba. “Masjid ini berfungsi sekaligus sebagai Islamic Centre, pusat kegiatan Islam di Hungaria,” ujar salah seorang jamaah yang kutemui di pinggir masjid.

“Saya ada rencana menikah di masjid ini, doakan ya biar lancar,” imbuhnya disusul suara tawa.

Jamaah lain yang sempat salat di Masjid Qatar adalah Clara Shabrina Parameswary, mahasiwa asal Yogyakarta yang melanjutkan studi di Eotwos Lorand University, Hungary. Gadis ini mengaku sering salat di Masjid Qatar karena alasan dekat dengan kampusnya.

“Pengurus masjid memperkenankan jamaah perempuan salat di sini, sementara masjid Turki yang tak jauh dari sini melarang perempuan berjamaah. Saya pilih salat di sini, suasananya adeem…,” kata Clara sembari senyum.

Clara menambahkan, jika waktunya sangat padat untuk kuliah dia terpaksa tidak salat ke masjid. “Saya mencari ruangan kosong di kampus untutk salat,” tegasnya.

Tak lama, selang 10 menit kemudian, ada gadis berjilbab bertampang Melayu masuk ke pekarangan masjid. Aku melihatnya dari balik cendela mobil. Dia tampak clingukan, sepertinya agak bingung mencari pintu masjid.

“Heii Indonesia…,” panggilku kepada gadis itu setelah aku membuka cendela mobil.

Dia mendekat, lantas aku buang suara, “Assalamualaikum….kau gadis Indonesia?”

“Iya dari Indoesia…., saya mau ke masjid,” jawabnya tersenyum sambil membetulkan letak jilbab hitamnya yang tersapu angin Hungaria.

“Pintu masuk sebelah sana,” ujarku sok tahu dengan menunjuk pintu masuk ruang lobi masjid.

“Siapa namamu, dari mana?”

“Saya Mariana asal Bogor, Jawa Barat, lulusan IPB. Saya baru setahun di sini dan pertama kali mengunjungi masjid ini,” tuturnya.

Aku membalasnya dengan senyum. Selanjutnya, aku meninggalkan masjid dan menuju pusat pertokoan untuk makan siang serta membeli beberapa kebutuhan.

Clara dan Mariana, dua mahasiswa Indonesia di antara lebih 100 mahasiwa dari tanah air yang mendapatkan bea siswa dari pemerintah Hungaria. Selain itu, menurut Clara, Hungaria memberikan bea siswa untuk mahasiswa dari Brasil, Pakistan dan sejumlah negara ketiga lainnya.

Aku bersukur bertemu dengan kedua mahasiswa itu, karena kehadiranku ke masjid telah membawa hikmah. Allah telah membuktikan kepadaku dua hal: pertama, doa yang kupanjatkan tiga tahun lalu diijabah. Kedua, masjid bukan sekedar tempat ibadah salat melainkan juga sebagai pusat peradaban dan pertemuan sesama muslim dari berbagai negara, termasuk dua mahasiswa Indonesia itu.

Semoga Masjid Qatar di Hungari menjadi pencerah negeri yang sepi suara azan.

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Jahe

Oleh: Cak Choirul   Pernahkah kita bersukur atas sebuah nikmat? Mungkin sudah pernah berkali-kali tetapi ...