Home / Catatan / Catatan Lepas / KEMATIAN SEORANG PEMIMPIN

KEMATIAN SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Inayatullah Hasyim (Dosen Univ. Djuanda Bogor)

Pemakaman BJ. Habibie (Foto : Tegar)

 

Prof. Dr. Eng. Burhanuddin Jusuf Habibie, presiden Republik Indonesia yang ke-tiga, telah kembali kepada Allah SWT pada hari Rabu, 11 September 2019 lalu. Air mata pun tumpah di negeri ini. Seperti pepatah bilang, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.

Habibie adalah nama yang akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang membawa bahtera Indonesia keluar dari krisis moneter. Dia meletakkan dasar-dasar kebebasan pers, kehidupan demokrasi dan keutuhan NKRI.

Kematian, pada akhirnya, akan menjumpai siapa saja, pemimpin atau rakyat jelata. Dikisahkan, sebagai pemimpin setelah Rasulallah ﷺ, Abu Bakar dikenal hidup sederhana namun dermawan. Ketika menghadapi kematiannya, Abu Bakar berpesan pada Aisyah, anaknya, “Lihatlah dua bajuku ini. Tolong cuci dan kafankan aku dengan baju itu. Mereka yang hidup di dunia lebih berhak menggunakan pakaian baru dari pada yang telah menjadi mayyit”.

Pada hari-hari terakhir itu, Abu Bakar sering mengulang membaca al-Qur’an surah Qaaf ayat 19.

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ۖ ذَٰلِكَ مَا كُنتَ مِنْهُ تَحِيدُ

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”. (QS Qaaf: 19).

Kisah lainnya, ketika Amr bin Ash, gubernur Mesir, menemui kematiannya, dia berkata, “Aku dulu seorang kafir yang paling keras. Aku juga orang terkeras pada Rasulallah ﷺ. Sekiranya aku mati ketika itu, aku pasti masuk neraka. Kemudian, aku berbaiat kepada Rasulallah ﷺ. Tak ada manusia yang paling aku cintai melebihi beliau. Sekiranya pada saat itu aku mati, aku mesti masuk surga. Kemudian aku diuji setelahnya dengan kekuasaan dan dengan hal-hal yang aku tidak tahu, apakah (kekuasaan) akan menolongku atau membebani aku?”.

Kemudian, Amr bin Ash mendongakan kepalanya ke langit, dan berkata, “Ya Allah, tak ada lagi (alasan) pembebas sehingga aku dapat meminta maaf. Tak ada lagi kekuasaan sehinga aku minta tolong. Sekiranya Engkau tidak merahmati aku, nicaya aku termasuk orang-orang yang celaka”.

Bagi pemimpin yang beriman, kematian adalah sesuatu yang dirindukan sebab saatnya dia akan bertemu dangan Rasulallah ﷺ dan orang-orang yang dicintainya. Suatu hari, Rasulallah ﷺ berkata,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ ، أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ ، وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ ، كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa yang rindu bertemu dengan Allah, Allah rindu bertemu dengannya. Dan barangsiapa yang benci bertemu dengan Allah, Allah benci bertemu dengannya”.

Aisyah bertanya, “Ya Rasulallah, apakah yang engkau maksudkan kematian? Bukankah setiap kita membenci kematian?”. Rasulallah ﷺ pun menjawab, “Tidak ya Aisyah. Seorang mukmin, jika telah sampai ajalnya, malaikat datang memberi kabar gembira padanya. Dia akan sangat rindu bertemu Allah, dan Allah rindu bertemu dengannya. (Demikian sebaliknya). Seorang kafir jika telah sampai ajalnya, malaikat datang memberi kabar buruk padanya. Dia akan sangat benci bertemu Allah, dan Allah pun benci bertemu dengannya”.

Setelah kematian merenggut seseorang dan ruhnya kembali kepada Allah, fungsi organ tubuhnya masih tersisa beberapa saat. Hatinya bertahan sepuluh menit, matanya bertahan dua jam, tulangnya bertahan tiga puluh hari, dan selebihnya dia akan bertemankan amal-ibadahnya di alam kubur.

Karena itulah, nasehat Ibnul Qayyim menarik sekali untuk dikutip. Beliau berkata,

عِشْ كُلَ يَوْمِِ فِي حَيَاتِكَ وَكَأنَهُ اليَومُ الآخِر، فَأحَدُ الْايَامِ سَيكوُنُ كَـذَلك.

“Jalanilah setiap hari dalam hidupmu seakan-akan hari terakhir. (Mengapa?) Sebab pasti salah satu hari dari hari-hari itu akan benar terjadi (sebagai hari terakhir)”.

Dan Ali Zaenal Abidin menulis puisi penutupnya,

لَيْسَ الغَريبُ غَريبَ الشَّأمِ واليَمَنِ * إِنَّ الغَريبَ غَريبُ اللَّحدِ والكَفَنِ

“Bukanlah menjadi (orang) asing itu dengan mengunjungi Suriah dan Yaman * tetapi menjadi (orang) asing itu saat (dimasukan) ke liang lahat dan berbungkus kain kafan”.

Semoga almarhum B.J. Habibie diampuni segala salah dan khilafnya, dan ditempatkan di sisi Allah bersama Rasulallah ﷺ, para sahabat Nabi, dan orang-orang yang dicintainya.

Wallahua’lam bis showwab.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

MERENGEKLAH DI PENGHUJUNG MALAM

Oleh Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Alkisah, pada suatu malam, seorang pencuri masuk ...