Home / Catatan / Catatan Lepas / KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

KUMANDANG ADZAN DAN RUMAH KITA

Oleh:  Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)

Adzan (Foto : pelitakarawang)

 

Suatu hari, ketika jumlah kaum muslimin semakin banyak, Rasulallah ﷺ memikirkan bagaimana caranya memanggil mereka shalat. Rasulallah ﷺ kemudian berdiskusi dengan para sahabatnya. Sebagian mengusulkan, “Angkat saja bendera, Ya Rasulallah”.

Maksudnya, seperti pasukan perang. Bila telah terlihat bendera berkibar, tandanya siap shalat. Rasulallah ﷺ tidak setuju. Sebagian lain mengusulkan dengan membunyikan lonceng seperti di gereja. Juga tidak disetujui.

Diskusi hari itu tak menemukan solusi. Di antara para sahabat yang ikut berdiskusi itu, ada Abdullah bin Zaid. Dia tak henti berfikir apa cara terbaik memanggil kaum muslimin untuk shalat.

Sampai, saat tidur, dia bermimpi didatangi seseorang berjubah hijau. Lalu orang berjubah hijau itu mengajarkan kalimat adzan yang sekarang kita kenal.

Keesokan harinya, Abdullah bin Zaid menceritakan mimpi itu pada Rasulallah ﷺ, dan beliau setuju dengan cerita sahabatnya itu lalu memerintahkan Bilal untuk kumandangan adzan dengan lafadz yang diceritakan tadi. Demi mendengar kumandang adzan Bilal itu kaum muslimin lalu berkerumun menuju masjid. Umar bin Khattab bahkan berkata, “Ya Rasulallah, aku melihat dalam mimpiku seperti yang dilihat oleh Abdullah…” Rasulallah ﷺ kemudian berkata, “Alhamdulillah, (atas solusi ini) dan walillahil hamd.”

Maka, jika Anda membayangkan Madinah, Anda akan merasakan suasana ini. Angin bertiup sepoi-sepoi menembus kebisuan sisa-sisa malam. Sejumlah orang berjalan tergesa menuju masjid Nabawi. Kumandang adzan fadjar sebentar lagi akan memecah mimpi langit Madinah dan sejurus kemudian masjid dengan arsitektur mengagumkan itu pasti telah penuh dengan jamaah dalam barisan shaf shalat.

Setiap pagi shubuh di Madinah adalah seperti pagi empat belas abad lalu. Pagi yang bersahaja di kota yang penuh kedamaian, kota Rasullah ﷺ. Sekelompok burung merpati terbang rendah, kakek penjual kayu siwak menggelar dagangannya, dan sholat shubuh akan ditunaikan. Madinah memang selalu pantas dirindukan. Bahkan perilaku penduduknya, kata imam Ahmad bin Hanbal, dapat menjadi hujjah atau dalil dalam kehidupan beragama.

Begitu agung kota Nabi itu, meski tiap hari adalah kebersahajaan dalam ibadah shalat. Namun, shalat itu pula yang membawa energi baru dan menjadi kekuatannya. Persis seperti kata Rasulallah ﷺ pada Bilal bin Rabah,

ارحنا يا بلال بالصلاة

rehatkanlah kami ya Bilal dengan — kau kumandangkan adzan — untuk shalat.

Maka, setiap selesai shalat, kita pun merasa memiliki kekuatan untuk mengisi kehidupan. Ada kesegaran ruhiyah yang tak bisa dirasakan kecuali oleh orang-orang yang menjalaninya. Sebab, apalah artinya banyak gelar jika tak pernah gelar sejadah. Ilmu yang tak mendatangkan ketakwaan pada Allah tak ada manfaatnya.

Karena itulah, Said Ibnul Musyaib, seorang ulama generasi awal Islam mengatakan,

مَا أَذَنَ مُؤَذِنُ مُنْذُ عِشْرِينَ سَنَة إِلَا وَأنَا فِي الْمَسْجِدِ

“Tidaklah berkumandang adzan seorang muadzin selama dua puluh tahun kecuali bahwa aku sudah berada di masjid”.

Adzan adalah juga pertanda umat Islam selalu bersatu-padu. Maka, wajar pula ketika kita mendengar Presiden Turki, Racep Tayyip Erdogan berkata, “Dimana ada kumandang adzan, itulah tanah airku”.

Adzan yang indah menjadikan orang-orang beriman rindu dengan masjid, seperti kisah Bani Salamah berikut ini.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, keluarga Bani Salamah memiliki rumah jauh dari masjid. Mereka acap kali telat shalat jamaah dengan Rasulallah ﷺ. Suatu hari dia ingin menjual rumah dan pindah ke sekitaran masjid Nabawi. Mendengar itu; Nabi berkata, “Wahai Bani Salamah dari rumah kalian dicatat langkah kalian…. dari rumah kalian dicatat langkah kalian”. Lalu turunlah firman Allah SWT:

إِنَّا نَحْنُ نُحْىِ الْمَوْتَى وَنَكْتُبُ مَاقَّدُموا وَءَاثَارَهُمْ وَكُلَّ شَىْءٍ أَحْصَيْنَاهُ فِي إِمَامٍ مُّبِينٍ

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang yang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab induk yang nyata (Lauh Mahfuzh)”. (QS Yaasiin: 12)

Kini, banyak orang tak mau punya rumah dekat masjid sebab merasa bising. Sedang asyik tidur, tiba-tiba suara pengeras suara berbunyi. Bangunkan mereka yang tengah berselimut dalam nina bobo kemalasan. الصلاة خير من النوم “Shalat lebih baik dari tidur”

Bandingkanlah dengan keluarga Bani Salamah yang bahkan berusaha menjual rumahnya agar dapat membeli sebidang tanah dekat masjid dan menikmati keindahan suara adzan dan shalat berjamaah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang merindukan kumandang adzan.

Wallahua’lam bis showwab

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

MERENGEKLAH DI PENGHUJUNG MALAM

Oleh Inayatullah Hasyim (Dosen Universitas Djuanda Bogor)   Alkisah, pada suatu malam, seorang pencuri masuk ...