Home / Artikel / Humaniora / PLAYING VICTIM

PLAYING VICTIM

Oleh: Tarmidzi Yusuf

Peristiwa penusukan Wiranto di Banten (Foto : Istimewa)

Menghalalkan segala cara untuk kekuasaan. Tak peduli halal, haram, hantam (3H). Bodoh amat. Yang penting berkuasa. Dari level terendah hingga level jabatan tertinggi. Termasuk mencederai dan melukai diri sendiri dilakukan untuk meraih simpati dan dukungan. Menutupi aib yang dicurigai publik.

Playing victim adalah menempatkan diri sebagai korban dalam suatu permasalahan. Orang yang biasanya playing victim menempatkan dirinya sebagai korban untuk mendapatkan simpati, rasa kasihan dari orang lain, bahkan untuk lari dari tanggung jawab atas perbuatannya sendiri.

Misalnya, berita pejabat ditusuk orang. Heboh se jagad raya. Semua media mainstream menyiarkannya. Live. Breaking news berjilid-jilid. Kita tidak tahu, apakah benar-benar terluka atau tidak. Wallahu Ta’ala A’lam. Sementara mahasiswa tertembak di seberang sana sunyi senyap dalam pemberitaan. Ratusan petugas pemilu meninggal tak ada gaungnya. Apalagi yang terbunuh dan terusir dari pulau sana. Media mainstream mingkem. Mereka bisu, buta dan tuli.

Sementara “pelaku” bercadar, berjenggot dan celana cingkrang. Identik dengan stigma radikal dan teroris. Terpapar Islam garis keras. Menyebut nama organisasi teroris dunia. Organisasi bikinan CIA dan MOSSAD. Lagi-lagi Islam jadi kambing hitam.

Wanita bercadar. Laki-laki berjenggot dan celana cingkrang. Sedikit banyak mereka paham agama. Haram hukumnya melakukan kekerasan, pembunuhan dan merusak fasilitas umum. Hanya wanita bercadar jadi-jadian yang melakukan perbuatan melanggar hukum negara dan Islam. Demikian pula, hanya laki-laki berjenggot dan celana cingkrang gadungan yang berupaya membunuh pejabat negara.

Fitnah apa lagi terhadap Islam, agama penuh kasih sayang. Kenapa Islam selalu dijadikan kambing hitam. Kenapa untuk sebuah agenda politik, agama kami selalu diperlakukan seperti ini. Sakit hati kami… Sakit sekali.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, sementara Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukainya. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (QS at-Taubah: 32-33).

Dalam ayat yang lain Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, walau orang-orang kafir membencinya.” (QS. Ash-Shaff: 7)

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

THE SANTRI, YUSUF MANSUR DAN ANJING BERNASAB MULIA

Oleh : Nanang Alfatih Yusuf Mansur dan anaknya Wirda bersama Gus Azmi, pemain The Santri Ustadz kondang yang juga pendukung Jokowi, Yusuf Mansur memberikan tanggapan ...