Home / Artikel / Humaniora / SHIBGHOTULLAH

SHIBGHOTULLAH

Oleh: Tarmidzi Yusuf

 

(Foto : Sumut24)

 

Ada 2 kemungkinan ketika masuk dalam Pemerintahan. Mewarnai atau terwarnai. Mewarnai Pemerintahan yang adil dan tidak zalim. Bisa juga terwarnai. Dulunya orang baik dan taat beribadah menjadi orang tidak baik dan lalai dalam beribadah. Sebelumnya orang yang tegas terhadap kezaliman menjadi orang yang diam dan membiarkan kezaliman.

Pemerintahan yang mengajak manusia kepada kebaikan. Amar ma’ruf nahi munkar. Pemerintahan yang mengajak manusia bertauhid. Pemerintahan yang tidak mencampuradukkan antara yang haq dan batil. Contoh sederhana ketika memimpin sebuah Kementerian atau menjadi Gubernur, shalat berjamaah atau 15 menit sebelum adzan kantor Kementerian/Kantor Gubernur sudah dikondisikan untuk persiapan shalat berjamaah bagi yang muslim. Luar biasa bila Menteri atau Gubernurnya menjadi imam shalat fardhu. Rapat-rapat dikondisikan 15 menit sebelum adzan sudah bubar. Persiapan shalat berjamaah.

Bisa juga terkontaminasi. Ketika belum punya jabatan ahli ibadah namun ketika sudah punya jabatan lupa ibadah. Futurnya pelan-pelan. Dari shalat on time menjadi masbuk. Dari berjamaah menjadi sendiri-sendiri. Dari shalat di masjid menjadi shalat di rumah atau di ruang kerja. Begitulah setan menggoda mempreteli keimanan sedikit demi sedikit.

صِبْغَةَ اللَّـهِ ۖ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّـهِ صِبْغَةً ۖ وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ ﴿١٣٨﴾

“Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah..” (QS. Al-Baqarah[2]: 138)

Sebagian ulama mengatakan yang dimaksud dengan shibghatallah artinya agama Allah. Sebagian mengatakan bahwa disebut sibghah karena adanya luzum (lengket). Seperti baju yang dicelup, maka warnanya jadi lengket. Kata Syaikh Utsaimin rahimahullah, dua penafsiran ini tidak bertabrakan. Karena agama Allah subhanahu wa ta’ala itu memberikan warna pada seseorang. Orang yang berpegang kepada agama, maka ia akan terlihat dari tingkah lakunya, dari akhlaknya, dari pakaiannya. Ketika seseorang betul-betul berpegang kepada agama Allah subhanahu wa ta’ala, maka itu akan mewarnai hidupnya. Sehingga ia terwarnai.

“Dan adakah yang lebih baik shibghahnya dari Allah subhanahu wa ta’ala?” Kata Syaikh Utsaimin, pertanyaan disini maknanya peniadaan. Artinya tidak ada celupan yang paling baik daripada celupan Allah subhanahu wa ta’ala, tidak ada agama yang paling baik dari agama Allah subhanahu wa ta’ala. Bagaimana tidak? Karena agama Allah yaitu Islam mengandung maslahat-maslahat yang luar biasa untuk kehidupan manusia dan menghindari mafsadah-mafsadah. Orang yang memikirkan tentang agama Islam, ia akan dapatkan bahwa Islam ini sesuatu yang luar biasa sekali. Tidak ada maslahat kecuali Allah pasti perintahkan, tidak ada sesuatu yang mudharat kecuali pasti Allah larang. Allah berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ …

“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan…” (QS. An-Nahl[16]: 90)

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

HANTU RADIKALISME

Oleh: Tarmidzi Yusuf   Jujur sebenarnya rakyat sudah muak dengan isu radikalisme. Hubungan antar ummat ...