Home / Kabar / Nasional / BOM MEDAN KENAPA RUPANYA?

BOM MEDAN KENAPA RUPANYA?

Oleh: Tarmidzi Yusuf

 

(Foto : cnbc)

 

Serem bingit. Bom “bunuh diri”. Terjadinya di markas polisi. Polrestabes Medan. Berita besar. Opini dibangun. “Terduga” terlibat jaringan ISIS. Sering ke masjid dan kurang gaul. Kenapa tidak diperiksa apakah tas isi bom betul milik pelaku? Atau titipan seseorang untuk diantar ke Polrestabes tanpa pelaku tahu isinya? Sekalian ngurus SKCK. Kebetulan pelaku driver ojol. Aplikasi ojol milik “terduga” bisa menjadi penunjuk arah. Bom bunuh diri koq nyasarnya markas Polisi. Tidak ada korban jiwa kecuali pelaku. Sasarannya bukan pejabat polisi atau pejabat negera. Rada-rada aneh. Ada apa?

Markas polisi dan gereja selalu jadi sasaran. Penyerang selalu diidentikkan dengan “teroris”. “Pelakunya” orang “Islam”. Dari zaman orde baru hingga zaman now, polisi, gereja dan Islam menjadi headline yang diserang dan yang menyerang. Tiga serangkai entah siapa yang menciptakannya.

Cerita lama dan berulang. Penyerangan kantor polisi sering terjadi sebut saja misalnya; Polsek Cicendo Bandung 1981, Polsek Hamparan Perak Sumatera Utara 2010, selanjutnya Polres Dharmasraya Sumatera Barat 2017 dan Polsek Penjaringan Jakarta Utara 2018. Sepanjang 2019 ada dua kali penyerangan kantor polisi, yaitu Polsek Wonokromo Surabaya dan kemarin Polrestabes Medan.

Sementara serangan terhadap gereja terjadi di berbagai tempat. Misalnya tahun 2000 dikenal dengan bom natal yang terjadi di beberapa kota di Indonesia. Demikian pula tahun 2018 terjadi serangan terhadap gereja di Surabaya dan Yogyakarta.

Reda radikal radengkul radagila muncul isu baru, celana cingkrang dan cadar. Setelahnya muncul salam lintas agama dan polemik ‘pencekalan’ Imam Besar FPI Habib Rizieq Shihab. Hari ini muncul headline besar; Bom Medan diselimuti isu Ahok si penista agama jadi Direktur Utama Pertamina setelah diisukan Dewan Pengawas KPK menuai protes dan tidak lolos persyaratan UU KPK hasil revisi.

Seolah ada pesan dari bom Medan tidak perlu bikin SKCK lagi. Lha, orang terpidana penista agama dengan mudahnya jadi petinggi BUMN strategis. Standar moral sudah tidak diperlukan lagi di negeri ini. Diseberang sana seorang Menko dan mantan gubernur bersahut-sahutan puja-puji Ahok. Kinerja bagus hingga orang lurus. Penista agama koq lurus. Kasus RS Sumber Waras, Tanah BMW dan Cengkareng bangkai apaan tuh?

Gelap saya mau menganalisis sebenarnya fenomena apa yang sedang terjadi. Pengalihan isu? Kira-kira isu apa ya? Malas mikirnya juga. Ngapain.

Saban hari kita dipertontonkan politik kedunguan dan kepalsuan. Menyembunyikan bangkai busuk yang telah merebak kemana-mana. Mayoritas rakyat jenuh dan lelah ditengah-tengah himpitan ekonomi yang makin menyesakkan dada dan cuaca panas. Berganti episode dengan drama sama cuma waktu, tempat dan pelaku yang berbeda.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Napas Lega Para Koruptor

  thayyiba.com :: Hari Antikorupsi Sedunia jatuh tiap 9 Desember. Di Indonesia, peringatan hari Antikorupsi juga selalu ...