Home / Uncategorized / Meluruskan Konsep Sedekah ala Yusuf Mansur

Meluruskan Konsep Sedekah ala Yusuf Mansur

Oleh: HM Joesoef (Wartawan Senior)

Meminta kepada jamah mengosongkan isi dompet dan mencopot perhiasan di badan. Begitu cara Yusuf Mansur meminta sedekah (Foto : Istimewa)

 

Seminar tentang kekuatan dan keajaiban sedekah digelar, baik secara online maupun offline. Semuanya berbayar. Di akhir acara, para peserta diminta bersedekah untuk membiayai proyek-proyek yang sedang dikerjakan. Begitulah Yusuf Mansur dalam meraup uang jamaah melalui sedekah.

Orang yang sedang punya hajat, mereka yang sedang sakit, bahkan mereka yang dililit hutang tak berkesudahan pun disuruh bersedekah agar masalahnya diselesaikan oleh Allah. Menariknya, semua sedekah itu mesti diberikan kepada Yusuf Mansur. Para jamaah diminta yakin, semua masalah akan selesai jika telah menyedekahkan harta terbaik yang dimiliki.

Konsep sedekah yang melompat inilah yang mesti diluruskan. Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 177 Allah berfirman, “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi kebajikan itu beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin.”

Dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Mulailah dengan dirimu sendiri. Bersedekahlah kepada dirimu sendiri. Jika masih tesisa sesuatu, maka bersedekahlah kepada keluargamu. Jika masih tersisa dari sedekah untuk keluargamu, maka bersedekahlah untuk kaum kerabatmu. Jika masih tersisa dari sesuatu dari kaum kerabatmu, maka bersedekahlah untuk ini dan untuk ini.” Inilah metode bersedekah yang diajarkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Dalam sejarah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah memberi nasihat ketika isteri Ibnu Mas’ud hendak menyedekahkan perhiasannya. “Suami dan anakmu adalah orang-orang yang paling berhak mendapatkan sedekahmu.” (HR. Imam Bukhari)

Istri Ibnu Mas’ud pun menyedekahkan perhiasan tersebut kepada anak-anak, suami, dan kaum kerabatnya. Begitu pula, ketika sahabat Abu Thalhah hendak menyedekahkan sebidang kebun di Bairuha yang terkenal dengan kesuburannya, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyarankan, “Sungguh itu adalah harta yang sangat menguntungkan. Aku telah mendengar apa yang engkau katakan terhadap kebun itu. Aku berpendapat, sebaiknya engkau memberikan kepada kaum kerabatmu.” Abu Thalhah menjawab, “Aku akan melakukannya, wahai Rasulullah.” Lalu, Abu Thalhah membagi-bagikan kebun tersebut kepada kaum kerabat dan keponakan-keponakannya.” (HR. Imam Bukhari)

Memberikan sedekah kepada keluarga terdekat mendapat pahala ganda: pahala sedekah dan pahala silaturahim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bersedekah kepada orang miskin adalah sedekah (saja), sedangkan jika kepada kerabat, maka ada dua kebaikan: sedekah dan silaturrahim.” (HR. Imam Ahmad)

Pahala silaturahim itu bisa memperpanjang umur dan murah rezeki bagi para pelakunya. Begitu pula jika sedekah itu diberikan kepada keluarga yang sedang marah atau sedang memusii ada kita. Imam Ahmad mengeluarkan sebuah hadits, “Sedekah yang paling utama adalah sedekah kepada kaum kerabat yang memusuhi.” Masyaa Allah, begitu indahnya ajaran Islam, semangat memperkokoh silaturahim begitu kental dan mendapat perhatian dari Baginda Rasul. Ikhtiar ini adalah untuk merawat cinta kasih antar keluarga, mencegah kebencian, serta menyambung tali silaturahim yang mungkin akan atau telah terputus. Jika tidak ada konsep ini, maka permusuhan antar keluarga, boleh jadi, tidak ada solusinya untuk berdamai.

Meskipun demikian, bukan berarti bersedekah kepada pihak lain, yang tidak ada hubungan kekerabatan, tidak diperbolehkan. Ketika kerabat dekat sudah mendapat bagian, jika masih ada lebihnya, bisa diberikan kepada kerabat jauh atau pihak lain yang memang membutuhkan. Jika urusan dengan kerabat sudah terpenuhi, kita bisa memberi sedekah kepada umat Islam di berbagai daerah, provinsi, bahkan di mancanegara, seperti Palestina, Rohingya, Uighur, dan sebagainya. Jika konsep ini dilaksanakan oleh segenap umat Islam, maka kemiskinan di sekitar kita tidak akan terjadi. Para janda dan anak-anak yatim, serta para duafa, akan tertangani kebutuhannnya oleh sistem sosial umat Islam.

Beginilah indahnya ajaran Islam. Memeberi sedekah kepada diri, keluarga, lingkungan terdekat, lingkungan sosial, lalu untuk lingkungan yang lebih luas, lintas negara, lintas etnis, dan lintas keyakinan. Karena itu, kepada siapa saja yang selama ini menjadi motivator sedekah, termasuk Yusuf Mansur, mari mendidik umat untuk berfikir dan beramal secara benar, agar keberkahan selalu menyertai pada para pelakunya.

Akhirnya, memberi motivasi orang untuk bersedekah itu baik, tetapi sedekah yang diberikan tidak harus kepada yang memberi motivasi tersebut. Ada konsep, ada metode, kepada siapa sedekah itu diberikan.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Jadi Mualaf, Giovanni Tobing Ajukan 3 Pertanyaan kepada UAS

Pesinetron Giovanni Tobing. (Foto: Instagram @giovanni_tobing) thayyiba.com :: Kabar mengejutkan datang dari pesinetron Giovanni Tobing. Pasalnya, ...