Home / Kabar / Daerah / Gibran Rakabuming

Gibran Rakabuming

Oleh: Tifauzia Tyassuman (Dokter, Peneliti, dan Penulis)

 

Gibran Rakabumi maju sebagai calon Walikota Solo dari PDIP (Foto : Sindo)

 

Dengan majunya Gibran Rakabuming putra kandung Presiden sebagai Cawalkot Solo melalui jalur PDI-P, dan Bobby menantu Jokowi sebagai Cawalkot Medan melalui jalur Golkar, Presiden sedang menuju kepada pembuktian atas apa yang dituduhkan sebagian rakyat Indonesia mengenai berbagai kebohongan dan politik pencitraan yang dilakukan selama 5 tahun yang lalu.

Sekaligus perjalanan selama lima tahun ke depan sebagai pengkhiatan atas kepercayaan pemilih Presiden. Padahal belum genap seratus hari pemerintahan periode kedua ini berjalan.

Politik balas budi selamanya tidak akan pernah membuat negara manapun berjaya. Politik balas budi akan membuat rakyat sebagai pemilik sejati negara ini, akan menjadi budak bagi negaranya sendiri.

Infrastruktur yang terbangun gegap gempita adalah panggung pencitraan terang benderang sekaligus menunjukkan betapa gelapnya jalan menuju penguasaan kekuasaan dan pemusatan sumber keuangan negara di tangan segelintir orang saja di bumi pertiwi ini.

142 BUMN bersama dengan 800 perusahaan anak dan cucunya membuktikan bahwa pengerukan kekayaan negara, praktek money laundrying, korupsi, oligarki, manipulasi, dan nepotisme terus berlangsung sepanjang waktu, siapapun Presidennya, di negara Indonesia ini.

Saya tidak katakana Presiden jahat kepada rakyat. Tetapi siapapun yang memegang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, di pucuk pimpinan negara maupun daerah, ketika hanya memikirkan kelanggengan kekuasaan dan pemusatan kekayaan, terbukti telah membuat negara ini menjadi penjahat kolektif bagi rakyatnya sendiri secara sistemik dan sistematis.

Presiden akan jahat bila membiarkan semua ini terjadi. Dan kejahatan modern yang paling berat dan paling bengis adalah ketika siapapun pemimpinnya, tega memangsa rakyatnya sendiri.

Terpuruknya kesehatan rakyat dari tahun ke tahun, jumlah kesakitan yang semakin meningkat, jenjang kekayaan dan kemiskinan sebesar 630.000 dibanding 1 di negara ini, BPJS sebagai perusahaan asuransi kesehatan yang mewajibkan setiap warga negaranya menjadi nasabahnya dengan paksaan, adalah bentuk penindasan negara kepada rakyatnya yang sungguh-sungguh tidak bisa ditoleransi.

Rakyat Indonesia, yang membutuhkan Ibu yaitu bumi pertiwi dan Presiden yaitu pemerintah yang bijak bestari, telah menjadi yatim piatu di negara miliknya sendiri.

Semoga apa yang saya tulis di atas salah. Walaupun saya sangat optimis bahwa apa yang saya tulis adalah benar.

Semoga Allah swt memberi hidayah bagi Presiden dan keluarga. Jangan sampai kekuasaan yang digenggam menjadikan kemudharatan yang menghancurkan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya.

Saya perhatikan Markobar di banyak kota sepi pengunjung. Dan martabaknya sangat manis, menjadi penyumbang terjadinya Diabetes dan Kanker pada anak, remaja, dan generasi muda. Rasanya juga tidak istimewa. Biasa-biasa saja. Gibran masih harus belajar bisnis makanan yang membuat sehat rakyat, bukan hanya sekedar menguntungkan.

 

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Innovasi Jakarta, Peta Utilitas Pertama di Indonesia

Oleh : Tatak Ujiyati Pemprov DKI sedang membuat peta utilitas. Yaitu peta kabel-kabel atau pipa ...