Home / Sastra / Essai / Kecebong

Kecebong

 

Oleh: Akhlis Suryapati

Kecebong (Foto : Istimewa)

Musim banyak genangan air, Kecebong riang-gembira. Jadi, memang tidak mungkin ada simpati, empati, prihatin, atau solidaritas, pada naluri mereka –¥terhadap korban genangan.
Yang ada ya jingkrak-jingkrak kegirangan, unjuk nyinyir, bergerombol kesana-kemari seraya mengendus dan melahap kotoran-kotoran yang melekat pada semak-semak atau pepohonan.

Itu memang naluri Kecebong. Maka mereka agak kecewa, meradang, kalau genangan air cepat surut. Apalagi jika langsung muncul sinar matahari; banyak Kecebong dengan cepat kelojotan, mirip makhluk penghisap darah bernama vampire – yang kalau kena cahaya matahari langsung koleps. Mereka memang dinasibkan tidak tahan pada hidayah cahaya terang.

Kecebong disebut juga Berudu. Hidupnya dalam genangan air selokan, blumbang, kolam gorong-gorong. Tentu juga jangan berharap Kecebong jadi dewasa, karena Kecebong itu larva, statusnya tahap pra-dewasa, daur hidup dari amfibia. Dimulai dari telor, menjadi kecebong, lalu precil, selanjutnya kodok. Kecebong berespirasi menggunakan insang, seperti ikan; makanya senang main tebak-tebakan berhadiah tentang nama-nama ikan.

Kebanyakan spesies Kecebong merupakan omnivora, melahap makanan jenis apa saja, tahi sekali pun. Terutama saat-saat mereka bermetamorfosa menuju Precil, nafsu makan Kecebong tidak terkendali, sering bertindak kanibal, memakan telor-telor sejenis yang belum sempat menetas menjadi dirinya, bahkan juga memakan sesama Kecebong yang baru enggel-enggel tumbuh.

Dalam sorak-soraknya membahagiakan diri, Kecebong berimajinasi dengan kerinduan terhadap hari-hari sebelumnya, ketika Ibuhutan Rimba Raya memiliki panutan yang status kebahagiannya mirip; yakni Si Babi yang senang ‘nguik-nguik’ ketika di comberan kumuh campur lumpur. Sebenarnya tidak ada tradisi pertemanan antara Kecebong dengan Babi, namun karena sama-sama alergi pada hikmah dan hidayah cahaya terang; mereka acapkali merasa klop satu sama lain sebagai simbol bukti penolakan terhadap – apa yang mereka sebut –intoleransi antarspesies hewan.

Dalam genangan air, Kecebong menemukan lahan untuk mengeskpresikan tabiat dan nalurinya, juga meningkatkan daya hidupnya. Semakin genangan air meluas keruh, apalagi sampai kumel, kumuh, lumutan, jorok dan kotor – Kecebong berkesempatan lebih banyak mendapatkan makanan untuk dilahapnya.

Kecebong menyukai kegelapan, keremangan, kelembaban. Bukan cahaya terang, tidak sinar matahari, juga bukan kebeningan. Di dalam kegelapan, keremangan, kelembaban, Kecebong menemukan kepercayaan diri bersorak-sorai, unjuk nyinyir, bergerombol kesana-kemari, serasa laskar gagah yang siap melahap segala jenis lumut, residu, atau pun tahi.

Dibarengi para Precil yang mulai hendak berloncat-loncatan, serta Kodok yang siap untuk ‘teyot teblung’, Kecebong tentu saja sangat kuciwa ketika ternyata genangan air cepat surut, disusul munculnya cahaya matahari. Mau tidak mau, mereka harus segera kembali mencari celah-celah bongkahan tanah, gorong-gorong lembab, atau semak-semak berlumpur; untuk terus menunggu kapan-kapan punya kesempatan riang-gembira lagi, syukur pada saat itu kesampaian bermetamorfosis menjadi Precil atau Kodok.

About Redaksi Thayyiba

Redaksi Thayyiba
Redaktur

Check Also

Kelinci

Oleh: Akhlis Suryapati     Terkisahlah seekor Kelinci imut menggemaskan, mulai kemarin ditugaskan oleh Kodok ...